Minggu, 10 April 2011
Irfan Hakim, Cintanya Ditolak Dua Kali (1)
Karier Irfan Hakim boleh dibilang awet di dunia hiburan. Mulai dari melawak, jadi host acara musik, infotainmen, acara masak-memasak, bintang iklan, dan presenter berbagai acara lainnya. Kuncinya? Menjalani semua pekerjaan dengan penuh semangat dan murah senyum. Lebih jauh tentang Irfan, bisa ikuti kisahnya mulai sekarang.
Tak terasa, sudah 12 tahun lamanya aku berkecimpung di dunia seni. Dunia hiburan inilah yang melahirkan dan membesarkan namaku sebagai artis. Sejak kecil aku memang senang berkesenian, doyan bicara, dan selalu semangat bekerja.
Keluarga, terutama Papa, sempat menentang keinginanku terjun ke dunia seni. Mereka ingin aku bekerja kantoran. Tapi larangan itu justru membuatku semakin semangat menekuni dunia seni. Bagiku, dunia ini selalu penuh tantangan. Hasilnya? Ya, seperti sekarang ini.
Baru-baru ini, aku bahkan mendapat “hadiah” atau penghargan dari sebuah tayangan infotainmen karena bertepatan dengan hari ulang tahunku. Bagiku penghargaan itu merupakan satu pengakuan dari pihak lain atas kerjaku selama ini.
Berawal dari Iklan
Ya, kini beragam profesi kujalani. Mulai dari membintangi iklan, sinetron, presenter musik, acara masak-memasak, infotainmen, hingga acara komedi. Aku tidak akan pernah berhenti dari profesi ini. Karena banyak sekali ilmu dan pengalaman baru yang aku peroleh. Aku tidak mau sekadar cuap-cuap, tapi harus memiliki ilmu agar tampil baik di depan kamera dan khalayak umum.
Padahal, jika aku ingat zaman dahulu, karier yang kutekuni selama ini kuraih dengan penuh perjuangan. Aku mengukirnya dengan penuh suka-duka. Sebelum punya mobil, aku harus ke lokasi syuting naik ojek, bus, atau bajaj. Aku juga tinggal di tempat kos di Jakarta yang memprihatinkan. Kamarnya tak berjendela, sampai akhirnya bisa menyewa kamar kos ber-AC. Begitulah, aku merintis karier, benar-benar dari nol! Awalnya aku berjuang meraih karier sendiri. Tapi dalam perkembangannya aku lalu bergabung di sebuah manajemen artis. Merekalah yang mengatur semua job untukku.
Memang berat rasanya saat itu,. Aku merintis karier tanpa restu orangtua. Rasanya jalan karirku kurang lancar. Tapi karena kemauanku menekuni dunia hiburan amat kuat, aku berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya tanpa mengenal lelah. Setiap langkahku selalu diusahakan untuk membuktikan kepada keluarga bahwa dunia seni yang kutekuni, kelak bisa untuk menghidupi keluarga. Pelan tapi pasti, akhirnya keluargaku melihat usaha kerasku, dan restu orangtuaku pun datang dengan sendirinya. Hal ini benar-benar mempermudah perjalananku. Banyak job mengalir dengan mudah hingga saat ini. Alhamdulillah.
Aku masih ingat betul, karierku berawal dari job iklan, lalu sinetron kemudian merambah ke dunia presenter. Iklan pertamaku adalah iklan permen. Dalam iklan itu pura-pura rambutku terbakar setelah makan permen yang menyegarkan. Ingat, tidak? Sementara sinetron pertamaku berjudul Cinta Pertama . Di sinetron ini aku berakting bersama Maudy Koenaedi dan Rendy Bragi.
Si Kinoy Cengeng
Sebagai anak berdarah Sunda, aku lahir di Kota Kembang 15 Oktober 1975, dari rahim Mama, Hj. Juariah, seorang guru SD dan Papa, H.R. Sukarya seorang pedagang beras. Nama yang kusandang Irfan Hakim Firmansyah, adalah pemberian orangtua dan seorang ustaz. Beliau mengharapkan aku jadi anak yang arif-bijaksana, dan berilmu.
Aku terlahir sebagai anak ke-7 dari delapan bersaudara. Enam saudaraku perempuan kecuali aku dan kakak sulung laki-laki. Jadi, bayangkan saja bagaimana aku sering digoda kakak-kakak perempuanku. Hasilnya, tentu saja aku sering menangis dan jadi anak cengeng. Malah aku dapat panggilan si Kinoy, tokoh anak kecil dalam film Si Unyil.
Ada yang lucu saat aku mau masuk sekolah Taman Kanak-Kanak, aku menolak karena menurutku sekolah di TK hanya menyanyi dan bermain saja. Nah, akhirnya Mama langsung memasukkan aku ke SD dekat rumah. Aku sangat antusias belajar hingga nilaiku selalu bagus dan mendapat ranking. Di SD inilah aku mulai mencintai dunia seni. Aku aktif di kegiatan berkesenian. Tak hanya di SD, di madarasah pun aku selalu ikut tiap kali ada pertunjukan kesenian.
Berhubung keluargaku dikenal sebagai keluarga pemuka agama, maka Papa mewajibkan semua anaknya sekolah di madarasah. Mengaji sudah menjadi kewajibanku, kalau tidak dilakukan, Papa pasti marah. Karena tekun belajar di madrasah, saat SMP aku sudah bisa mengobrol dalam bahasa Arab.
Luput dari Razia
Aku menyapa Papa dengan sebutan Apa. Beliau adalah sosok yang tegas dan disiplin dalam hal agama. Kalau sampai aku tidak mengaji, pasti aku menerima hukuman. Hubunganku dengan Apa tidak sedekat seperti hubunganku dengan Mama. Maklum, saat itu Apa sibuk bekerja sehingga jarang di rumah. Kepada Mama aku bisa sangat manja.
Suatu kali, sehabis salat Jumat, aku diajak Apa ke kebun binatang. Aneh, deh, selama jalan-jalan itu komunikasi kami amat kaku, saking takutnya aku pada Apa.
Padahal, dibanding kakak yang lain, aku tergolong anak yang “melawan” kepada orangtua. Jika yang lain langsung patuh pada larangan orangtua, aku pasti tanya dulu kenapa itu dilarang. Misalnya, aku berani minta disekolahkan ke SMP dan SMA sementara yang lain tetap di madrasah. Orangtuaku menuruti kemauanku karena aku punya alasan yang jelas. Nah, dari keterbukaan itulah, hubunganku jadi lebih dekat dengan orangtua.
Oh ya, aku berhasil lulus SD dengan NEM yang bagus sehingga mudah masuk SMP IV Bandung. Di sana aku aktif di organisasi PMR (Palang Merah Remaja) dan kegiatan seni. Semasa SMP merupakan masa yang tak terlupakan. Bayangkan, saat pulang sekolah dijemput Apa dengan mobil bak terbuka. Maklum Apa, kan, seorang pedagang beras. Kadang teman-temanku ikut duduk di jok belakang. Ha ha ha.
Lain lagi ceritanya saat sekolah di SMA 8 Bandung. Entah kenapa, aku justru sering jadi tempat curhat teman-temanku. Karena sering menasihati teman-teman yang suka curhat , akhirnya aku yang semula bercita-cita jadi dokter, berubah ingin jadi psikolog.
Pasti pembaca tidak menyangka, saat duduk di bangku SMA rambutku gondrong. Tapi aku selalu lolos dari razia. Ketika ada razia rambut gondrong di sekolah secara mendadak, aku dan lima temanku sembunyi di musala sekolah. Padahal, di dalam musala tak ada tempat bersembunyi, jadi aku menutupi diriku dengan mengenakan mukena lalu pura-pura salat! Nah, selamatlah kami dari razia guru. Ha ha ha.
Cintaku Ditolak
Soal pacaran? Aha! Sejak duduk di bangku sekolah aku sudah jatuh cinta pada cewek dari lain kelas. Sayangnya, cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku pernah ditolak sampai dua kali saat menyatakan cinta. Sedih, ya? Padahal saat itu aku sudah membawa bunga segala, lho. Tahu apa jawaban cewek itu? “Aku tidak suka kamu dan belum ingin pacaran!” Ha ha ha
Oh ya, letak SMA-ku saat itu berdekatan dengan ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia). Aku sering nonton teater sampai orang-orang di sana mengenalku. Bahkan aktif di teater STIK (Studio Teater Islam Karisma) di Masjid Salman. Kesibukan itu membuat Apa menegurku. “Kamu boleh aktif di seni, tapi jangan jadikan sebagai gantungan hidup. Kamu harus sekolah dan bekerja, sebagai pegawai atau pengusaha.”
Nasihat Apa tak sepenuhnya aku jalani. Saat lulus SMA tahun 1993 usaha Apa bangkrut. Meski Apa menyuruh kuliah, aku memilih tidak kuliah meski kepengin sekali. Aku memilih membantu temanku yang akan kuliah dan menjalani ospek.
Akhirnya, setelah setahun berkesenian di mana-mana, aku diterima menjadi mahasiswa ASTI dengan biaya hasil berkesenianku. Tahun 1994, aku juga terdaftar kuliah di IAIN Sunan Gunung Jati, Bandung, sesuai keinginan Apa. Soalnya, Apa melarangku kuliah di ASTI, tapi aku maju terus. Aku ingin membuktikan bisa kuliah di dua tempat. Benar saja, aku berhasil meraih IP (Indeks Prestasi) 3, 63 dari IAIN.
Aku juga menuangkan rasa seniku dengan bergabung di kelompok paduan suara, KABUMI di IKIP Bandung. Di sini, aku juga belajar menari hingga akhirnya menghantarku keliling Eropa, Jepang, dan sering main angklung di istana negara di era kepemimpinan Presiden Soeharto. Sungguh, merupakan pengalaman indah yang tak mungkin kulupakan. (BERSAMBUNG)
Erni, Nove / bersambung
