Jumat, 27 Januari 2012
Thantien Hidayati “Vitamin” untuk Anak
Berawal dari rasa keprihatinannya terhadap sistem pendidikan yang ada, Thantien Hidayati (26) bersama teman-temannya mendirikan sanggar bagi anak-anak. Sekitar 600-an anak asuhannya tak sekadar mendapat beragam keterampilan, tapi juga “asupan” pendidikan karakter yang dikemas dalam suasana gembira.
Komunitas ini sebenarnya bergerak di bidang apa?
Komunitas ini kami beri nama Aksara, terbentuk pada November 2008. Selanjutnya, kami dirikan Sanggar Rumah Baca Aksara. Yang mendirikan, saya sebagai koordinator dibantu teman-teman lain sesama mahasiswa. Sanggar ini kami dirikan untuk anak-anak usia di bawah 15 tahun. Kami menyebutnya pendidikan suplemen terpadu, yaitu pendidikan tambahan yang mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pengembangan minat bakat.
Apa tujuan sanggar ini?
Ini berawal dari rasa keprihatinan kami pada sistem pendidikan formal yang ada. Kami melihat, pendidikan saat ini merupakan sistem yang tidak memanusiakan anak. Padahal seharusnya sekolah menjadi wadah untuk mengeksplorasi setiap anak agar berkembang. Banyak perilaku pengajar menjadikan anak tak termotivasi menjadi lebih baik, tapi justru menimbulkan tekanan psikis. “Awas, ya, kalau sampai salah mengerjakan soal!” Nah, ini salah satu contoh perkataan guru yang membuat anak tertekan. Belum lagi perilaku kasar bahkan pelecehan terhadap anak.
Apa yang dilakukan untuk anak-anak?
Sanggar ini sebagai wadah bagi anak untuk belajar. Tapi juga kami masukkan nilai-nilai sebagai upaya untuk menyeimbangkan apa yang mereka peroleh di sekolah. Di sanggar ini kami mengajar dengan cara yang sangat fun, sesuai dunia anak. Kami juga berusaha mengekplorasi bakat tiap anak. Contoh, kami tak pernah menggunakan kata, “Jangan, Dilarang, atau Tidak boleh” kepada tiap anak. Ketika kita melarang anak, justru hal itu yang akan dilakukan. Misalnya, saat ada anak membuang sampah sembarangan, yang kami ucapkan, “Sampahnya seharusnya dibuang di mana ya?” demikian dan seterusnya.
Mengapa memilih anak usia di bawah 15 tahun?
Kami menganggap, anak di usia ini perlu segera dibentengi oleh nilai-nilai pendidikan yang benar. Kami juga berpendapat, bila sudah mendapat masukan nilai-nilai yang bagus, maka anak-anak ini bisa menularkan sesuatu yang positif kepada anggota keluarganya di rumah.
Respons masyarakat bagaimana?
Setelah berembuk, kami mendirikan Aksara awalnya di Balai Kelurahan Pandanwangi, Kodya Malang. Hanya saja, ketika kami tawarakan dengan istilah pendidikan karakter, orangtua jadi bingung. Lalu kami mencari cara dengan memberikan les Bahasa Inggris secara gratis, sebagai pintu masuka. Cara ini direspons bagus sekali. Bahkan warga membantu menyebarkannya melalui pengeras suara di masjid. Hari pertama, sudah ada 30 anak, hari kedua berkembang jadi 70 anak, hari ketiga 90 anak, dan seterusnya.
Teknik mengajarnya seperti apa?
Di awal berdiri, kami tak menggunakan media apa pun, kecuali bermain dengan membagi anak-anak ke dalam beberapa kelompok. Sambil bermain dalam suasana riang, kami membuat sejumlah games dengan pengantar Bahasa Inggris. Nah, lalu kami masukkan permainan yang bisa menumbuhkan rasa peduli pada sesama, sopan santun, dan nilai lainnya.
Karena kami mengemasnya dengan media bermain, anak-anak jadi gembira. Kegiatan ini awalnya dilakukan saat liburan sekolah, tapi setelah itu berubah jadi setiap Sabtu dan Minggu. Setahun di Balai kelurahan, kami pindah ke garasi rumah saya. Tapi karena semakin berkembang, sekarang menempati tempat permanen di sebuah sanggar yang tak jauh dari rumah saya.
Soal berdirinya sanggar baru ini juga lucu. Kebetulan keluarga saya punya tanah kosong, suatu ketika secara kebetulan ada mahasiswa arsitektur Universitas Brawijaya mencari lokasi pembuatan rumah berlantai dua dari kayu untuk tugas akhir studinya. Jadi dari biaya bangun rumah, bayar tukang, sampai semua bahan, para mahasiswa arsitektur itu yang mengerjakan. Kami sama sekali tak keluar modal, dan mempersilakan mereka membangun. Alhamdulillah, jadilah sanggar ini. Bahkan sekarang sudah ada perpustakaan, fasilitas bermain, dan lainnya.
Oh ya, modul pengajarannya saat ini bagaimana?
Sekarang total anak yang belajar di sanggar sekitar 600-an. Mereka kami buatkan beragam kelas sesuai kebutuhan dan ketersediaan sukarelawan teman-teman mahasiswa. Kegiatan di sanggar dilakukan setelah anak-anak pulang sekolah. Misalnya ada kelas fotografi, Bahasa Inggris dan Bahasa Rusia, melukis, tari, sains, dan lain-lain. Misalnya, Senin ada kelas bahasa dan menggambar, Selasa kelas sains, dan seterusnya. Tapi ada anak yang saking senangnya, setiap hari ikut semua kelas yang ada.
Setelah ikut Aksara, apakah anak-anak terlihat berubah?
Hasil evaluasi yang diperoleh dari wawancara para orangtua, ternyata memberi perubahan positif. Anak-anak didik kami lebih care terhadap lingkungannya, baik keluarga maupun orang lain. Juga lebih mandiri.
Apakah Aksara menjalin kerjasama dengan lembaga lain?
Ya, kami bekerjasama dengan Indonesia Internasional Edducation Forum (IIEF), juga AISEC yang berbasis di Belanda. Makanya, terkadang anak-anak di sini juga diajari para volunteer dari berbagai negara.
Aktivitas Aksara merambah ke luar daerah juga?
Betul. Kami punya cabang Rumah Baca Iksan, di Kodya Malang. Bahkan dalam waktu dekat kami memberikan pelatihan untuk para guru di Pulau Rupat, Sumatera selama sebulan, karena kondisi pendidikan di sana sangat mengenaskan. Kami juga memberikan pelatihan pendidikan kreatif gratis untuk guru-guru di berbagai daerah.
Omong-omong, dulu kuliah di mana?
Saya kuliah di Sastra Inggris Universitas Brawijaya Malang, dan mengambil magister kebijakan dan pengembangan pendidikan di Universitas Muhammadiyah, Malang.
Bagaimana tanggapan keluarga terhadapa Aksara?
Suami, Dian Arsitades Wiranegara (31), dosen di Malang. Dia sangat mendukung, termasuk ayah dan ibu saya, Sunarto Sunaryo (55) dan Henny Hermiati (50).
Sering dapat penghargaan?
Saya pernah meraih Juara I Pemuda Pelopor Nasional, pemenang Kompetisi Film Pendek Nasional, penerima Young Makers Award dari Ashoka, dan masih banyak lagi.
Gandhi Wasono M.
