Rabu, 1 Februari 2012
Suhu Yo: Tahun Ini Saatnya Menjadi Monyet (1)
Pemilik nama lengkap Yohanes Cokrowibowo alias Tjong Kwan Seng ini lebih populer sebagai Suhu Yo. Selain dikenal sebagai peramal, kini ia sedang membangun usaha lain yang kian menggurita. Tepat di Tahun Naga Air, Suhu Yo tengah menyiapkan sebuah kejutan. Apakah itu?
Dunia ramal meramal merupakan keturunan dari garis Nenek. Sejak dulu, beliau sering dimintai orang untuk meramal dengan kartu ceki. Nenek juga seorang herbalis. Tapi saat mengobati atau meramal orang, kami keluarganya tak pernah tahu bagaimana orang membayar jasanya.
Nenek memang tak pernah meminta bayaran. Yang kami tahu, kebanyakan pasiennya memberikan beragam makanan sebagai tanda terima kasih. Jadi ketika saya dan saudara-saudara datang ke kediamannya, senang sekali karena banyak makanan dan selalu dikepali uang. Ketika Nenek meninggal, barulah kami tahu ternyata uang Nenek banyak sekali. Saat kamar tidurnya diberesi, di balik kasurnya tersimpan berlembar-lembar uang. Nah, catatan resep obat peninggalan beliau lalu diberikan ke saya yang kemudian saya aplikasikan di klinik.
Satu hal yang masih saya ingat, Nenek pernah berkata, “Buat apa kamu pusing-pusing cari kerja. Nanti kamu juga akan jadi seperti saya.” Kata-kata ini terngiang terus di benak saya. Selain saya, ada beberapa anggota keluarga yang juga menuruni bakat Nenek. Tapi berbeda dengan saya, mereka menggunakan ilmunya secara sosial, tak memasang tarif seperti saya. Makanya saya dibilang matre. Ha ha ha...
Dulu saya sempat tak mematok tarif, tapi hidup saya jadi susah. Orang yang datang banyak, bahkan tak jarang pakai mobil mewah, tapi cuma bayar Rp 5 ribu. Dalam sehari saya paling dapat Rp 10-20 ribu, terkadang hanya ucapan terima kasih saja. Saya merasa, apa yang saya lakukan tidak dihargai.
Nah, sejak saya menikah dengan Dewi, istri ketiga saya, pasien semakin banyak. Klien saya tak hanya orang per orang, melainkan dari perusahaan. Mulai dari urusan konsultasi logo sampai menjadi pembicara.
Banyak Utang
Sebenarnya, tahun 2011 lalu usaha saya sedikit terpuruk karena usaha SMS Premium sudah tutup. Padahal dari SMS Premium itu saya bisa mendapat pemasukan sampai Rp 300 – 400 juta per bulan. Untungnya saya masih ada usaha lain. Menjadi konsultan perusahaan. Ada 18 perusahaan yang kini menjadi klien saya.
Lalu klinik kesehatan akupunktur dan akupresur yang ada di Jakarta dan Bandung. Usaha ini saya berikan juga kepada anak-anak saya yang berjumlah 10 orang. Dari pernikahan pertama saya punya tiga anak, pernikahan kedua empat anak, dan pernikahan ketiga, Dewi membawa tiga anak.
Saat ini saya dapat tambahan anak 1 orang, bukan anak kandung. Ada orang enggak bisa membesarkannya karena suaminya baru meninggal. Saya enggak adopsi, tapi hanya merawat sementara sampai ibunya mampu secara finansial. Kapan pun mau diambil, silakan. Lagipula, di dunia ini tak perlu semua dimiliki. Bila besar nanti anaknya ingat saya, ya, syukur. Kalau pun tak, ya, enggak apa-apa. Toh, ketika mati semua harta tak dibawa.
Sejak dulu saya suka begitu, justru dengan begitu banyak berkahnya. Entah mengapa, saya tak pernah merasa kekurangan. Di saat saya kekurangan pun saya tak pernah merasa miskin. Padahal ketika saya kecil sering disuruh ke warung untuk berutang. Malah sampai pernah ditolak yang punya warung karena kebanyakan utang. Saya kemudian belajar bagaimana agar tidak berutang. Yaitu dengan tidak malas dan mulai berusaha. Jatuh bangun dalam berusaha itu wajar. Peluang banyak di sekitar kita. Tinggal kita jeli melihatnya.
Jangan Bikin Salah
Kembali ke soal usaha yang saya geluti saat ini, dari puluhan klinik kesehatan itu saya sendiri hanya memiliki 3 klinik. Satu di Jakarta dan sisanya di Bandung. Usaha saya yang lain adalah menjadi pembicara di berbagai kesempatan. Usaha klinik kesehatan saya semakin banyak karena anak-anak saya sudah mengembangkannya. Meski mereka semua kuliah, ada satu anak saya yang justru menjadikan usaha ini sebagai usaha utamanya. Secara finansial, klinik ini memang sangat menguntungkan.
Bagaimana tidak? Misalnya satu kali urut tarifnya Rp 40 ribu. Dipotong untuk karyawan dan biaya operasional, saya bisa dapat untung 40 persen per orang. Bila dalam satu hari per klinik menghasilkan uang Rp 100 juta, saya bisa dapat untung Rp 40 juta-an. Modalnya apa? Hanya sewa tempat dan kursi. Hasil keuntungan itu saya putar lagi untuk membeli ruko dan membuka cabang baru. Terus begitu, lama-lama, kan, semakin banyak.
Percaya tidak, dulunya saya ini pernah jualan cendol, mi goreng, mi ayam, kupon SDSB, dan lain-lain, lho. Ayah sampai bilang, saya orang yang terlalu kreatif. Ternyata istri saya juga bilang seperti itu. Saking kreatifnya, uang dipakai buat usaha terus bukan untuk merenovasi rumah. Ha ha ha...
Saya memang senang hidup sederhana, sehingga merasa belum perlu merenovasi rumah. Jika dilihat, di kompleks perumahan ini rumah saya satu-satunya yang tak pakai pagar dan teralis. Jika ada orang datang berniat jahat, apa yang mau diambil? Harta berharga tak ada. Mau bawa mobil? Silakan saja, kan, saya asuransikan. Tapi karena istri mengomel terus soal rumah, sepertinya tahun ini saya akan mulai membangun rumah. Berbeda dengan kepemilikan mobil. Saya ingin mobil yang nyaman untuk membawa saya ke tempat tujuan. Dengan begitu, bisa 2 tahun sekali saya ganti mobil. Karena setelah berusia 2 tahun, mobil sudah tak nyaman.
Usaha dalam hidup adalah kewajiban, hanya satu hal yang tak boleh dilakukan yaitu “kesalahan”, pokoknya segala jenis "kesalahan". Misalnya, terlibat narkoba. Percayalah, narkoba bisa membuat hancur nama baik dan badan. Kemudian memiliki istri dua dan seterusnya. Hidup harus fair , kalau sudah tidak suka, ya, cerai saja. Kesalahan lainnya, menipu, membodohi orang lain, atau menjanjikan sesuatu yang sebenarnya tak bisa dilakukan.
Bukan Jimat!
Sementara itu, sebagai ahli feng shui atau hong shui, saya berbeda dengan yang lain. Dulu, arsitek menjauhi ahli feng shui karena kerap berbeda pendapat. Tapi sekarang banyak arsitek yang merekomendasikan saya sebagai konsultan rumah. Mengapa? Karena saya memiliki latar belakang teknik, saya mengerti struktur bangunan dan keindahan. Hal ini membawa saya dikenal sampai Singapura dan Malaysia.
Saya mungkin satu-satunya paranormal atau dukun yang punya sekretaris dan tim kreatif. Saya memang suka belajar dan terus belajar. Misalnya Traditional Chinese Medicine , fingerprint , tulisan tangan, sekolah presenting , public speaking dan lain-lain. Selanjutnya, saya terus berusaha mengembangkan diri mengikuti zaman dan memenuhi keinginan klien.
Dari proses belajar itu saya menemukan alasan mengapa orang pintar lebih banyak tak jadi orang kaya dan banyak orang bodoh justru jadi orang kaya. Karena orang bodoh lebih berani mengambil peluang dan banyak berpikir dengan otak kanan, sehingga lebih kreatif. Orang pintar, kalau mau kaya harus berlatih. Cara awalnya sangat sederhana, mencoba melakukan sesuatu dengan tangan kiri. Itu akan memancing kerja otak kanannya.
Oh ya, terus terang, hidup sebagai peramal atau paranormal atau dukun itu tidak nyaman, lho. Mengapa? Karena ada sebagian orang yang menganggap saya sebagai dewa yang bisa mengubah nasib orang. Misalnya, ada pemilik restoran datang minta usahanya sukses. Saya bukan orang yang bisa menjawab keinginan itu dengan memberikan jimat keberuntungan. Tapi saya akan datang ke lokasi dan melihat restorannya seperti apa. Apakah ada tanda lalu lintas letter S atau lainnya. Faktor kondisi jalan, pelayanan, dan makanannya juga penting. Saya pelajari tata ruang dan tata letak, saya lihat di mana kekurangannya dan apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.
Ada tukang martabak usahanya sepi. Saya lihat semuanya sudah bagus, tapi tulisannya kurang terlihat. Saya minta tulisan martabaknya dibuat besar dan ditambahkan tulisan kata Bangka atau Bandung. Tapi dia bilang, dia orang Jakarta. Saya bilang, ya, bikin tulisan Martabak Jakarta dan diberi lampu agar mudah terlihat. Sejak itu usahanya sukses, orang ramai membeli martabak buatannya. Bukan pakai jimat!
Atau ada seorang istri datang minta keluarganya dibuat harmonis. Saya juga tidak kasih jimat. Saya akan bertanya seberapa sering ia tersenyum atau ke salon agar terlihat cantik. Apa yang saya berikan sebenarnya bisa dipikirkan secara logika dan dipelajari. Bukan sesuatu yang bersifat mistis atau gaib.
Ketidaknyamanan itu pula yang kemudian membuat saya berpikir untuk pensiun tahun ini. Saya merasa, kini saatnya menikmati hidup. Sejak umur belasan tahun, saya sudah banting tulang. Saya mau cari apa lagi sekarang? Anak-anak sudah besar dan punya penghasilan. Saya sudah menjadi Sapi yang terus menerus bekerja. Sudah saatnya saya jadi Monyet, menikmati hasil usaha selama ini.
Meski begitu, saya mensyukuri apa yang sudah didapat. Banyak keajaiban yang saya alami dalam hidup. Yang terbaru, ketika saya ingin membangun klenteng. Saya sempat bingung karena membangun klenteng tidak murah. Tapi tiba-tiba satu per satu orang datang menyumbang dana dan tanah. Ketika Pemerintah Tangerang Selatan membangun jalan, tanpa diminta dan direncanakan pembangunan jalan cor itu terhenti persis di depan pintu masuk klenteng.
Biaya pembangunan klenteng tak sedikit, bisa sampai Rp 5 Miliar. Pintunya saja Rp 30 juta. Berbeda dengan klenteng lain, klenteng saya kecil tapi tanahnya luas. Jadi saya berencana akan buat taman di situ. Warna merah tak mendominasi karena saya ingin warna-warna alami seperti hijau dan cokelat.
Edwin Yusman F / bersambung
