Selasa, 7 Februari 2012
Lila Lestari, Benang dan Jarum Pentul Hias Kaligrafi
Di tangan Lila Lestari (32), jarum pentul dan benang bisa disulap menjadi karya unik kaligrafi yang indah dan bernilai jutaan rupiah. Apa rahasia kesuksesannya, berikut wawancara NOVA bersama Lila di Bulak Rukem II/17 Surabaya.
Sejak kapan memulai usaha kaligrafi ini?
Usaha ini saya rintis bersama suami, Mustafa Hadi (34), tepatnya pada 2008. Tapi sebenarnya perintis usaha ini adalah Bapak saya, Subandi, yang memang sudah membuat kerajianan kaligrafi sejak puluhan tahun silam. Ada perbedaan antara kaligrafi buatan Bapak dengan produk saya sekarang ini.
Apa perbedaannya?
Bapak, dulu membuat kaligrafi dari mika, sementara karya yang saya produksi sekarang ini terbuat dari susunan jarum pentul yang dirangkai dengan benang bordir dan mamilon (benang emas), kemudian dibentuk menjadi huruf kaligrafi.
Mengapa memilih materi benang dan jarum pentul?
Begini, dulu usaha kaligrafi Bapak yang berbahan mika maju pesat. Karyawan di rumah mencapai 50 orang dan kerajinan itu terkirim hingga ke seluruh Indonesia. Tetapi pada saat terjadi krisis ekonomi tahun 1998, usahanya merosot tajam. Harga bahan baku melonjak tajam, sementara harga jual tak bisa mengimbangi. Akibatnya, usaha Bapak kembang kempis. Masih berjalan, tapi jumlah karyawan sudah berkurang banyak. Itu pun sering libur. Akhrinya sekarang sudah benar-benar tutup.
Lalu?
Pada 2007, setelah saya jadi sarjana pendidikan, bersama Bapak pernah melihat sebuah gambar dari rangkaian benang yang pengaitnya bukan jarum pentul tapi paku. Karena terkesan pada gambar itu, Bapak mencoba meniru. Tapi tak meniru mentah-mentah, hanya dilakukan modifikasi. Bahan baku paku diganti jarum pentul. Sebab bila menggunakan paku bisa berkarat dan mengurangi keindahan.
Sementara jarum pentul, selain tahan karat, bentuknya lebih rapi. Lalu kami sekeluarga memulai usaha itu. Baik Bapak, Ibu, maupun saya setiap hari kerjanya, ya, membuat gambar dari benang dan jarum pentul itu. Bapak bagian memaku jarum pentul di tripleks, saya dan keluaraga lain menghubungkan satu jarum pentul ke jarum lainnya dengan benang mengilap warna-warni. Sampai terbentuk gambar, misalnya naga, burung, angsa, atau lainnya.
Setelah usaha ini berjalan beberapa saat, Bapak mulai beralih desain. Tidak lagi buat lukisan binatang, melainkan kaligrafi. Mengingat keahlian Bapak memang di bidang penulisan huruf Arab indah.
Bagaimana memasarkannya?
Usaha itu saya lanjutkan bersama suami, yang kebetulan sama-sama sebagai guru SD, sehingga proses pemasarannya saya lakukan di sela-sela mengajar. Tapi karena dirasa kurang maksimal, saya memutuskan berhenti jadi guru kemudian fokus memproduksi kerajinan ini. Suami, sih, masih tetap mengajar dan baru beberapa waktu lalu ia juga berhenti sebagai guru dan aktif membantu saya.
Peran suami di usaha ini sejauh mana?
Suami lebih mengurusi soal marketing dan pengelolaan. Tapi mengingat dia berlatar belakang tafsir Al Quran, jadi ikut membantu mengawasi tepat atau tidaknya bentuk tulisan Arabnya. Saya, lebih ke seninya karena memang itu sudah dididik Bapak sejak kecil.
Peminatnya bagaimana?
Jujur saja, di awal usaha pada 2008 itu saya sempat merasakan jatuh-bagun. Setiap hari saya dan suami boncengan naik motor membawa kaligrafi keliling galeri-galeri di Surabaya. Sayang, hampir semua galeri menolaknya. Maklum, kaligrafi seperti yang saya buat nyaris belum pernah ada.
Untungnya suami sangat ulet. Di tengah keputusasaan itu ia berhasil meyakinkan sebuah galeri bahwa barang kami sangat bagus dan jika dipajang pasti ada orang yang akan membelinya. Rupanya promosi itu membuat pemilik galeri yakin, bahkan langsung memesan 10 buah sekaligus. Itu yang membangkitkan semangat saya.
Tapi di sisi lain kami juga bingung karena saat itu sama sekali tak punya modal untuk membeli bahan baku. Beruntung dapat pinjaman dari sekolah suami. Setelah mendapat pesanan, saya makin bersemangat mengembangkan usaha dan mencoba masuk ke Dekranasda Jatim. Alhamdulillah, setelah sukses seleksi kami juga diberangkatkan ikut pemeran Inacraft di Jakarta. Sejak itu usaha kami makin berkembang hingga saat ini.
Pesanannya dari mana saja?
Rata-rata kami memasok ke galeri-galeri. Saat ini yang menjadi pelanggan kami adalah galeri yang ada di Padang (Sumbar), Kalimantan, Jakarta, Bekasi, Surabaya, dan Sidoarjo. Tapi beberapa bulan lalu Pak SBY sempat membeli karya saya saat beliau mengunjungi stan kami di sebuah acara pameran di Surabaya. Bahkan kepada Bu Ani, suami saya sempat menjelaskan makna dari tulisan kaligrafi yang beliau beli. Suami, kan, sarjana ilmu tafsir dari Universitas Al Azhar Mesir, jadi paham bidang itu.
Oh ya, tulisan apa yang bisa dibuat kaligrafi?
Banyak ragamnya. Mulai dari lafal Allah, Muhammad, pohon asmaul husna, ayat kursi, dan masih banyak lagi. Ukurannya juga variatif. Yang terkecil ukuran 30x30 cm dan yang terbesar 80x120 cm. Lamanya pengerjaan, karena ini benar-benar kerajinan tangan, yang ukuran besar satu kaligrafi bisa selesai sekitar 3 minggu. Harganya mulai dari ratusan ribu rupiah sampai Rp 6 juta per kaligrafi, tergantung ukuran.
Kini, bagaimana kondisi usaha Anda?
Alhamdulillah berkembang baik. Bahkan saat ini cenderung kewalahan menerima order. Karena antara jumlah pesanan dan pekerja tidak seimbang. Kami dibantu karyawan tetap 25 orang, sedangkan karyawan borongan yang mengerjakan tugas di rumah masing-masing sekitar 30 orang. Untuk yang merangkai jarum pentul dilakukan karyawan laki-laki, dan merangkai benang karena dibutuhkan ketelatenan dilakukan karyawan perempuan.
Sekarang saya juga sudah tak perlu naik motor lagi saat menawarkan barang karena sudah punya mobil. Demikian pula soal tempat tinggal, sekarang kami sudah bisa ambil kredit ke bank untuk membeli rumah.
Gandhi Wasono M.
