Profil

Hayu Dyah, Kisah di Balik Tanaman Liar
Sabtu, 28 Januari 2012
Hayu Diah

Foto: Gandhi Wasono M

Berkat kepeduliannya pada pemanfaatan tanaman liar sebagai bahan makanan tambahan, Hayu Dyah Patri (30) pada Oktober lalu mendapat penghargaan Satu Indonesia Award 2011. Berikut sepenggal kisah dan kiprah Hayu.

Apa kegiatan sehari-hari?

Memberi pendidikan kepada masyarakat tentang pemanfaatan tanaman liar yang ada di sekitar tempat tinggal sebagai makanan tambahan yang bergizi. Saya bergerak melalui LSM Mantasa yang saya dirikan sejak 2009 lalu. Fokus saya sebenarnya bukan ke makanan pokok, tapi pada makanan sebagai tambahan vitamin dan mineral.

Mengapa antusias memanfaatkan tanaman liar?

Kita tak boleh mengandalkan sesuatu yang sudah ada seperti sekarang ini. Sebab, lama kelamaan pasti akan berkurang jumlahnya dan lahan pun makin menyempit. Jika mau terampil, di sekitar halaman rumah, kan, banyak tanaman yang bisa dimanafaatkan, seperti yang dilakukan orang-orang zaman dulu. Selain sehat, juga murah.

Misalnya apa?

Krokot, daun simbukan, atau daun racun. Sementara buah-buahan ada juwet, ciplukan, keres, kinco, dan masih banyak lagi. Sayangnya, masyarakat makin meninggalkan tanaman tersebut karena mereka tak mau susah mengolahnya, sehingga lebih memilih ke fast food . Selain itu, ada stigma bahwa tumbuhan liar itu jorok, tidak bergizi, dan yang makan termasuk ke dalam jajaran orang miskin, dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Jadi?

Sebenarnya tanaman liar yang bisa dimakan memiliki kandungan nutrisi tinggi. Misalnya saja, banyak orang tidak tahu ternyata daun kelor itu memiliki kandungan vitamin C tujuh kali lebih besar dari jeruk, buah rukem memilik kandungan vitamin C dan A yang tinggi, daun simbukan memiliki kandungan mineral yang tinggi dan masih banyak lagi. Semua ini sudah teruji, sebab saya melakukan kerjasama dengan laboratorium Universitas Widya Mandala Surabaya dalam melakukan penelitian.

Kreasi Hayu Diah

Salah satu kreasi kue berbahan dasar tumbuhan liar yang bergizi tinggi. (Foto: Gandhi)

Sejak kapan aktif meneliti tanaman liar?

Oh, sudah sejak lama. Bahkan sejak sebelum lulus dari Fakultas Pertanian, Jurusan Teknologi Pangan dan Industri saya sudah sering jalan ke berbagai daerah di Jawa dan Sulawesi untuk menggali makanan-makanan yang pernah dimakan oleh masyarakat tempo dulu. Ternyata benar setelah saya wawancara langsung orang-orang tua yang saya temui, mereka menceritakan beragam makanan yang dulu dikonsumsi tapi sekarang sudah tidak. Saya tak sekadar mencatat tapi sekaligus cara memasaknya.

Mengapa begitu getol mengampayekan pemanfaatan tanaman liar ini?

Saya sangat prihatin, data yang saya peroleh ada sekitar 50 persen anak-anak di daerah yang mengalami malnutrisi. Ini, kan, ironis padahal kalau mau memanfaatkan tanaman liar yang ada, banyak sekali.

Apa dilakukan?

Saat menyusun skripsi, saya melakukan penelitian soal mangrove. Pohon yang hidup di tepi pantai ini memiliki banyak manfaat. Contohnya, pada 40-50 tahun yang lalu mangrove dijadikan makanan pokok orang Papua selain sagu. Penelitian saya sangat berbeda dari teman-teman lain yang rata-rata melakukan penelitian makanan “masa kini”, misalnya soal yoghurt, sosis, nugget.

Karena penelitian saya dianggap kurang populer, oleh dosen sempat ditolak. Tapi saya keukeuh tak mau berubah. Saya berpijak pada buku tua tulisan orang Belanda bernama Heyns, berjudul Tumbuhan Berguna Indonesia . Akhirnya skripsi saya diterima ‘setengah hati’ oleh dosen pembimbing. Bahkan, saat ujian skripsi saya cuma dibahas 15 menit, sementara teman-teman lain bisa sampai satu jam lebih. Tapi setelah itu para dosen kayaknya menyesal.

Festival Makanan

Hayu berhasil menggelar Festival Makanan Liar di Desa Galeng Dowo pada Juli 2011. Ibu-ibu di desa setempat antusias mengikutinya. (Foto: Dok Pri)

Mengapa?

Karena setelah itu skripsi saya diapresiasi sebuah lembaga dari Australia. Bahkan, saya diberi jejaring bila ingin melanjutkan penelitian di daerah lain. Berkat skripsi pula pada 2007 saya diundang ke Tanzania, untuk mempresentasikan tentang mangrove dalam forum konferensi tanaman liar untuk bahan pangan. Lalu pada 2009 saya mendirikan LSM Mantasa, dibantu dua teman. Desa yang menjadi binaan saya, Desa Dayurejo, Pandaan, Kab. Pasuruan, dan Desa Galeng Dowo, Kec. Wonosalam, Jombang (Jatim).

Mengapa melakukan binaan di dua desa tersebut?  

Karena dua desa itu dinyatakan sebagai desa miskin. Padahal, keduanya berada di kawasan lereng Gunung Arjuno, di sisi yang tanahnya sangat subur. Setelah minta izin kepala desa setempat, kami secara berkala mengunjungi desa itu. Saya kumpulkan ibu-ibunya untuk memanfaatkan tumbuhan liar yang ada di sekitar rumahnya untuk dijadikan beragam bahan makanan.

Semula, mereka agak menolak karena beranggapan makan makanan dari tumbuhan liar khawatir disangka warga miskin. Tapi terus saya motivasi untuk menghilangkan mindset buruk itu dengan memberi banyak masukan pengetahuan tentang manfaat dan kandungan gizinya. Ibu-ibu di Desa Galeng Dowo misalnya, sudah menguji coba krokot dibuat menjadi aneka makanan lezat, mulai dari kue, sayur, dan botok. Yang mengembirakan, setelah berhasil berkreasi, ibu-ibu itu menjualnya.

Lalu?  

Pada Juli 2011 lalu di Desa Galeng Dowo saya juga mengadakan “Festival Makanan Liar” yang diikuti ibu-ibu di desa setempat. Mereka membuat krokot, daun pegagan, daun racun menjadi kue. Sebagai jurinya, Chef Haryo dan seorang profesor anthropologi nutrisi dari Amerika. Ibu-ibu makin bersemangat dan sangat bangga karena acara itu juga diliput berbagai media cetak dan elektronik.

Gandhi Wasono M

Views : 1333

blog comments powered by Disqus
Adien Gunarta, Karakter Dan Seni Di Setiap Huruf
Mengenal Prof Tanaka, Ahli Cangkok Hati
Joria Parmin, Pelayanan Maksimal Sang Koordinator Bidan
Dunia Pastel Ria Miranda
Permainan Warna Dilah Sasri Indra
Identifikasi Indonesia Lewat Jam Tangan
Riana, Gadis Cantik yang Misterius
Elvira Devinamira Bawa Sambal Bawang ke Brasil
Elvira Devinamira: Puteri Indonesia Bukan Ajang Cantik-cantikan
Indra Sjafri Pernah Kecewa Tak Masuk Timnas (1)
Powered by eZ Publish™ CMS Open Source Web Content Management. Copyright © 1999-2010 eZ Systems AS (except where otherwise noted). All rights reserved.