Rabu, 23 November 2011
Enrina Diah Nurmeirini, Bedah Plastik nan Artistik (1)
Tak hanya berwajah cantik, prestasi dokter spesialis bedah plastik kelahiran Manado, 23 Mei 1974 ini patut diacungi jempol. Karier yang diawali dengan segala keterbatasan, kini telah membawa kesuksesan. Selain memiliki dua klinik di Jakarta dan Surabaya, Ibu satu anak ini punya misi menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan pasien operasi plastik yang diperhitungkan.
Apakah sejak kecil sudah bercita-cita jadi dokter?
Ayah saya adalah dokter anak, awalnya beliau ingin saya mengikuti jalannya. Tapi dalam perkembangannya saya memilih dunia bedah plastik. Saat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), ada kuliah soal bedah plastik. Tapi saat itu hanya bedah plastik rekontruksi, bukan kecantikan. Seusai pelajaran itu, kok, saya jadi tertarik. Saya merasa, dengan bedah plastik, orang yang punya cacat bisa diubah menjadi bagus.
Kemudian saya dapat kesempatan untuk magang di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) pada tahun 1997. Selama magang, saya ada di bagian bedah plastik. Sejak itulah kecintaan saya dengan dunia ini semakin besar. Bagi saya, bedah plastik tak hanya harus memiliki keterampilan dan pengetahuan medis, tetapi juga memiliki sisi art .
Lalu?
Alhamdulillah, saya tidak salah pilih. Saya mendapat beasiswa sekolah bedah plastik di Taiwan dan Swiss di tahun 2004. Di Taiwan, saya mendapat pendidikan spesialis bagian bedah wajah dan tengkorak atau craniofacial .
Saya mengembangkan craniofacial sejak kembali ke Indonesia pada tahun 2005-2009 di RSCM. Saat itu, belum ada dokter bedah plastik Indonesia yang menekuni dan dilatih khusus untuk craniofacial . Setelah itu, banyak dokter Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari Taiwan. Mereka memang sangat terbuka untuk membagi ilmu.
Bagaimana hingga bisa membuka klinik sendiri?
Setelah kembali ke Indonesia, saya mengajar di UI sampai akhir 2009. Tahun 2006 saya juga praktik di beberapa rumah sakit. Selama menjalankan rutinitas itu, saya mendapat ide untuk membuat klinik. Sebuah klinik yang memberikan beragam perawatan. Istilahnya, one management, one roof .
Ide itu saya sampaikan ke beberapa rumah sakit tempat saya praktik, tapi ternyata enggak diterima dengan alasan sulit untuk direalisasikan. Selain sulit secara birokrasi, investasinya juga sangat besar.
Lantas, apa yang dilakukan?
Saya coba membuat klinik sendiri, pelan tapi pasti mimpi saya terwujud. Klinik ini adalah dreams come true. Dulu, klinik ini kecil dan sangat sederhana. Mungkin luasnya hanya 150 meter persegi. Dokternya hanya saya sendiri, dibantu satu resepsionis, satu office boy, dan satu perawat. Bisa dibilang modalnya kecil, tambah modal nekat saja. Tempat pun masih sewa dan beli alatnya nyicil .
Ternyata, perkembangannya sangat bagus. Hingga kemudian saya memutuskan untuk fokus di klinik pada tahun 2009. Selain pertimbangan ingin mengembangkan usaha, saya merasa kurang punya waktu untuk anak saya, Alisa Fania, yang ketika itu masih berusia 10 tahun. Saat itu saya harus bekerja dari pagi, pulang malam. Belum lagi jika ada panggilan mendadak untuk melakukan bedah. Terlebih ketika itu saya single parent karena sudah bercerai dengan suami.
Seberat apa perjuangannya untuk sampai ke posisi sekarang?
Ya, sejak bercerai semua kebutuhan hidup anak juga biaya pendidikan saya tanggung sendiri. Saya anak kedua dari lima bersaudara. Orangtua tidak bisa memenuhi semuanya karena saudara-saudara saya yang lain juga butuh biaya.
Ketika saya mendapat beasiswa di Taiwan dan Swiss, saya harus benar-benar memaksimalkan pendapatan dan pengeluaran. Hidup kami di sana sangat terbatas, bahkan di rumah kecil kami enggak ada heater . Jadi ketika musim dingin kami memakai semacam kipas angin kecil dengan pemanas untuk menghangatkan tubuh. Karena tempatnya kecil, kalau mandi, air menggenang. Sebuah tempat yang sebenarnya sangat tidak sehat untuk ditempati, tapi itu terpaksa dilakukan.
Sebenarnya, seusai menyelesaikan beasiswa itu saya dapat tawaran bekerja di Taiwan dengan beragam fasilitas. Tapi saya menolak dan memilih untuk kembali ke Indonesia karena ingin mengembangkan ilmu yang saya miliki ini di Indonesia. Jika melihat ke belakang, sama sekali saya tidak menyesal.
Apa saja hambatan yang di alami?
Yang paling utama, soal finansial dan birokrasi. Alat-alat yang digunakan harganya tak murah karena semua masih harus diimpor. Tapi bagi saya, dalam menekuni klinik ini saya enggak mau main-main. Bagi saya, klinik ini bukan sekadar usaha, tapi juga passion . Itu sebanya saya selalu menggunakan alat terbaik demi pasien. Saya enggak mau setengah-setengah dan hanya mengambil keuntungan semata.
Edwin Yusman F / bersambung
