Peristiwa

Masa Lalu Ainun Habibie
Rabu, 02 Juni 2010
Ilham

"Ibu tidak pernah marah,"ungkap Ilham (Foto:Ahmad Fadilah)

Lahir di Semarang 72 tahun silam, ketika hadir di dunia, ia diberi nama Hasri Ainun alias si mata indah. Ainun tak cuma bermata indah, tapi juga berparas cantik dan berbudi manis. Tak heran jika BJ Habibie merasa begitu kehilangan ketika Ainun menghadap Sang Pencipta hanya beberapa hari setelah merayakan HUT perkawinan mereka (12 Mei) yang ke-48.

Kisah cinta sejoli bertubuh mungil ini pun unik. Mereka saling kenal sejak kecil karena bertetangga di Bandung. Bahkan Rudy, begitu panggilan Ainun untuk Habibie, adalah teman main kelereng kakaknya. Semasa SMA pun, mereka satu sekolah meski Habibie satu kelas lebih tinggi. “Dia selalu jadi siswa paling kecil dan paling muda di kelas. Begitu juga saya,” tulis Ainun dalam sebuah buku yang dibuat suaminya. Mereka pun kerap dijodoh-jodohkan yang akhirnya jadi kenyataan.

Selepas SMA, putri keempat dari delapan bersaudara keluarga H. Mohammad Besari ini melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI). Setelah menjadi dokter, ia sempat bekerja di RS Cipto Mangunkusomo (RSCM), Jakarta kendati tak lama karena bertemu lagi dengan kawan lamanya, Habibie, yang saat itu sedang berlibur ke Jakarta. Pada masa itu, Habibie yang mendapat beasiswa Pemerintah Indonesia, kuliah di Universitas Technische, Jerman.

Alkisah, cinta lama pun bersemi kembali. Tanpa menunggu lama-lama, Habibie melamar Ainun dan mereka pun menikah 12 Mei 1962. Adalah Kaliurang, Bali, dan Ujungpandang yang menjadi saksi bisu bulan madu pasangan pengantin baru ini. Setelah itu, Ainun terpaksa meninggalkan pekerjaannya di RSCM demi mendampingi sang suami meneruskan pendidikan doktornya di Jerman.

Masa-masa awal di negara itu bukanlah masa menyenangkan kendati kebahagiaan Ainun-Habibie semakin lengkap dengan lahirnya dua buah hati mereka, Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Ainun harus ikut membantu bekerja dan menjahit baju sendiri agar uang beasiswa cukup untuk hidup di negeri orang. Nenek enam cucu ini pula yang terus menyemangati Habibie ketika ia nyaris patah arang gara-gara topik tesisnya diambil pembimbingnya.

Segala pengorbanan Ainun tak sia-sia karena Habibie berhasil menjadi doktor dengan predikat Cum Laude . Seakan ingin menunjukkan rasa terimakasihnya kepada sang istri tercinta, saat acara penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari UI, Habibie bertutur, “Di balik seorang tokoh, selalu tersembunyi peran dua perempuan, yaitu ibu dan istri. Saya juga menerima penghargaan ini atas nama keluarga, anak-anak, dan cucu-cucu saya, khususnya istri saya yang terus mendampingi saya dengan tulus dan ikhlas, sehingga saya menjadi hamba Allah seperti sekarang ini.”

Sebagai ibu, Ainun juga berhasil mendidik dua anak lelakinya. Ilham yang mendalami ilmu Aeronautika di Jerman, meraih gelar PhD dengan predikat Summa Cum Laude sedangkan Thareq menyelesaikan Diploma Ingeneur di Braunsweig, Jerman. Dari dua anaknya ini, Ainun mendapat enam cucu.

Sama seperti ayah mereka, Ilham dan Thareq, sangat kehilangan Ainun. Tanggal 12 Mei silam, kisah Ilham, ia tiba di Munchen. Hari itu bertepatan dengan HUT perkawinan orangtuanya ke-48. Meski sudah tak bisa berkomunikasi langsung, “Saya tahu, Ibu mendengar ucapan saya.”

Siapa sangka, itulah komunikasi terakhir Ilham dengan ibunya karena ia lalu kembali ke Jakarta. “Begitu banyak kenangan indah kami bersama Ibu yang tak mungkin bisa dilupakan dan sulit untuk menceritakannya,” kenangnya akan sang bunda yang rajin mengaji, senantiasa bersikap tenang, tapi to the point .

Thareq

"Saya ikhlas kalau ibu memang harus pergi,"ujar sibungsu Thareq (Foto:Ahmad Fadilah)

Sedangkan Thareq mengenang ibunya sebagai sosok yang senantiasa menanamkan kejujuran. “Ibu juga enggak pernah marah atau menghukum kalau kami salah. Cuma dinasehati. Ibu, kan, dokter anak, jadi tahu bagaimana memperlakukan anak,” ujar Thareq sambil menambahkan, selama dirawat, ibunya selalu menggeleng bila ditanya apakah merasa kesakitan. Kendati merasa amat kehilangan, toh kakak-beradik ini iklhas. “Kalau saya sedih berkepanjangan, malah menghambat ‘jalannya’ Ibu. Dua hari sebelum meninggal, saya bilang ke Ibu, saya ikhlas kalau ia harus pergi, berdoa saja semoga diterima di sisi-Nya, dan diampuni semua dosanya.”

Begitu kuatnya sosok Ainun bagi Habibie, ia bahkan sanggup membuat Habibie yang dikenal serius jadi hobi menonton sinetron Cinta Fitri . Bahkan para pemain sinetron itu sampai diundang makan malam di rumahnya. Apa gerangan yang membuat pasangan mantan Presiden RI ini terbius sinetron itu? Rupanya mereka menganggap kisah cinta di sinetron itu mirip dengan kisah asmara mereka!

Begitulah peran besar dan penting Ainun dalam kehidupan seorang Habibie. Tak heran jika Habibie begitu menyayangi Ainun. Selama kurang lebih tiga bulan Ainun dirawat di RS di Jerman, Habibie dengan setia mendampinginya. Di RS itu, Ainun menjalani sembilan kali operasi pengangkatan kanker. Segala upaya dan pengobatan sudah dilakukan karena Habibie ingin memberi yang terbaik bagi pendamping hidupnya itu. Tapi Tuhan berkehendak lain. Ainun kembali ke Rahmatullah pada 22 Mei 2010.

Habibie pun harus rela melepas kepergian sang istri meski dengan berat hati, seperti yang dikatakannya, “Ainun, saya sangat menyintaimu tapi Allah lebih menyintaimu sehingga saya merelakan kamu pergi...”

HASUNA DAYLAILATU

#Tag :


Artikel Terkait
Ainun Dalam Kenangan (2)

Ainun Dalam Kenangan (2)

Read More »
Ainun Dalam Kenangan (1)

Ainun Dalam Kenangan (1)

Read More »
blog comments powered by Disqus
Powered by eZ Publish™ CMS Open Source Web Content Management. Copyright © 1999-2010 eZ Systems AS (except where otherwise noted). All rights reserved.