Peristiwa

Kisah Sukses Erli Erla Wati (2)
Kamis, 06 Januari 2011
erli erla wati

Foto: Dok Pri

Sebagai ungkapan terima kasih kepada teman-temannya di Jepang yang telah mengajarinya membuat clay, Erli memberikan suvenir. Tanpa disangka, ia justru diminta membuat lagi untuk dipasarkan di Jepang. Bahkan, para ekspatriat Jepang di Indonesia memburu karyanya untuk dibawa kembali ke negeri matahari terbit itu. Pendek kata, dari Jepang kembali ke Jepang.

Seperti yang kuceritakan sebelumnya, sepulang dari Jepang aku membuka kursus. Sebelumnya, aku mengajar ekstra kurikuler clay  di SMP dan SMA Regina Pacis, Jakarta. Rupanya, banyak murid yang tertarik, tapi sayang para orang tua keberatan dengan biayanya. Padahal, perkembangan kepribadian para siswa yang ikut kegiatan ini menjadi lebih bagus, lho.

Penelitian yang dilakukan di Korea dan Jepang menyebutkan, dengan bermain clay , anak-anak maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan akan terbantu dan mengalami perkembangan EQ (kecerdasan emosional). Aku tertarik membuktikan hal itu dengan mengajar clay di sekolah. Ternyata, benar. Pertama kali mengajar di Regina Pacis, aku bertemu seorang siswa di SMP yang juara umum. Ia menanyakan bagaimana caranya membuat burger clay .

Karena ia tahu susunan burger , aku minta ia untuk membuatnya. Rupanya, ia tak tahu harus bagaimana. Aku beri contoh membuat burger  yang selesai dalam waktu lima menit. Tak kusangka, minggu depannya ia datang padaku dengan boneka balerina yang ia buat dari clay . Bahkan tak terpikir olehku sebelumnya akan membuat seperti karyanya. Dari situ aku lihat, pendidikan di Indonesia terlalu banyak teori.

Setelah satu semester mengajar, salah satu orang tua murid menemuiku dan bertanya apakah anaknya yang masih SD boleh ikut belajar. Aku setuju, karena bahan clay  ini tidak beracun. Ia bercerita, anaknya yang duduk di bangku SMP sebelumnya adalah anak yang sangat tertutup dan suka ngambek bila mendapat komentar kurang menyenangkan. Namun, setelah bermain clay , ia jadi lebih terbuka dalam menerima kritik.

Para guru di sekolah itu juga mengatakan, siswa yang ikut kelas clay lebih mau mencoba menyelesaikan soal-soal yang diberikan dengan cara lain, dibanding yang tidak ikut. Sebab, ketika membuat clay , orang harus sistematis saat pengerjaannya. Di sinilah menurutku peran yang penting dalam membuat EQ mereka berkembang. Senang rasanya mengetahui hal itu. Sebab pada akhirnya ini menjadi pendorong diriku UNTUK terus berkarya di dunia clay .

Bersama Luna

Saat bersama Luna Maya. Aku memang pernah beberapa kali muncul di acara musik Dasyat yang dulu dibawakan Luna (Foto: Dok Pri)

Ajari Calon Instruktur

Setelah mengajar ekstra kurikuler di sekolah, aku mulai membuat blog di iwser029.multiply.com. Banyak pengunjung yang tertarik pada clay yang kubuat. Dari situlah, pada Agustus 2008 muncul permintaan dari orang-orang untuk mengajar. Mereka datang ke tokoku dan mengatakan ingin belajar. Aku senang sekali menerima mereka.

Keinginanku sederhana, aku tidak ingin wanita Indonesia hanya diam di rumah. Aku ingin mereka juga berkarier tanpa meninggalkan kewajiban mengurus anak.Thailand yang tingkat pendidikan para perempuannya tak jauh berbeda dari perempuan Indonesia saja bisa, kok, mengekspor barang jadinya ke Eropa dan Amerika.

Nah, Aku mengaplikasikan pemikiranku itu dengan cara menerima kursus. Selain mengajar privat atau kelompok, aku juga mengajar kelas untuk calon instruktur. Sebagian dari murid-muridku adalah orang yang pernah kursus di tempat lain. Banyak murid kursus clay  di Indonesia yang tergantung pada gurunya.

Maka, aku harus mengubah cara berpikir siswaku ketika mereka belajar kepadaku. Aku katakan, mereka harus melihat gambar atau bahkan barang jadinya, lalu membuatnya dengan versi mereka sendiri. Semua ilmu yang kumiliki kubagikan pada murid-muridku. Aku sama sekali tak takut ilmuku dicuri orang atau orang lain lebih pandai dariku dalam membuat clay . Aku tak pernah takut bersaing dengan clay buatan orang lain. Sebab, clay  bikinan tangan satu orang saja bisa berbeda, apalagi bila dikerjakan oleh tangan yang berbeda orang.

Hubunganku dengan murid-muridku sendiri cukup baik. Kami membuat komunitas sendiri di blog yang kubuat. Kami saling membagi foto hasil karya terbaru sambil mendiskusikannya. Aku juga tidak malu minta diajari murid jika menurutku ada karya bagus yang mereka buat.

Salah satu hal yang aku tekankan pada muridku adalah jangan merasa hebat, karena dalam dunia seni, yang bermain adalah selera. Kita tak bisa mengatakan karya orang lain jelek karena selera tiap orang berbeda. Yang bisa menikmati karya kita adalah orang yang tentu satu selera dengan kita.

Pameran Le Craft

Sejak ikut pameran, nama le Craft makin dikenal orang, termasuk para ekspatriat Jepang yang menyukai Clay (Foto:Dok Pri)

Diburu Ekspatriat

Oh ya, sepulang dari Jepang pad 2008 aku ikut pameran Inacraft tahun 2008 dan pameran Women International Club. Dari situlah nama Ie Craft muncul lalu kujadikan nama toko, sekaligus tempat kursus. Kini, Ie Craft banyak dikenal orang, termasuk di kalangan ekspatriat asal Jepang.

Selain menyediakan peralatan dan perlengkapan bagi para murid kursus, aku juga menyuplai toko-toko di Jakarta dan sekitarnya. Tokoku memang lebih banyak melayani penjualan grosir daripada retail.

Bulan April 2009, aku kembali berangkat ke Jepang untuk menimba ilmu lagi tentang clay . Kali ini, aku belajar tentang transparent clay atau clay transparan yang saat itu sedang tren di Jepang. Bulan April tahun ini, aku juga berangkat lagi ke Jepang untuk kursus singkat. Waktunya sama seperti sebelumnya, yaitu dua minggu. Kali ini, aku belajar tentang sweet deco .

Selain mengajar, aku juga menerima pesanan kerajinan berbahan clay untuk keperluan suvenir berbagai acara. Juga pesanan lain, per gerobak. Lucunya, tak sedikit orang datang ke tokoku membeli karya yang kujadikan barang contoh. Karya-karyaku ternyata juga disukai para kolektor. Hal ini membuatku makin percaya diri untuk berkarya.

Bahkan, para ekspatriat asal Jepang yang akan kembali ke negaranya pun sering memesan padaku, terutama yang bernuansa tradisional khas Indonesia, misalnya miniatur dalam gerobak sate, gerobak bakso, warung rokok, atau warung makan, yang notabene di sana tidak ada.

Nah, waktu berangkat ke Jepang yang terakhir, aku sengaja membawa karyaku dalam bentuk miniatur doll house  untuk kuberikan sebagai penghargaan kepada mereka yang sudah membantuku sebagai suvenir.

Erli Erla Wati bersama kel

Aku bersyukur, keluargaku terutama suamiku sangat mendukung usahaku (Foto: Dok Pri)

Ekspor ke Jepang

Di luar dugaan, orang-orang Jepang yang mendapat oleh-oleh itu memintaku untuk membuatnya lagi karena berminat untuk menjualnya di Jepang. Apalagi, di sana tidak ada tren membuat miniatur berbahan clay . Makin lama, pesanan dari mereka makin banyak, sampai membuatku kewalahan mengatur waktu. Akhirnya, sejak September lalu terpaksa aku menolak calon murid yang ingin kursus. Sebetulnya tidak enak hati menolak mereka, tapi aku benar-benar tidak ada waktu.

Aku sudah tidak punya waktu lagi untuk mengajar karena harus mengirim pesanan yang jumlahnya banyak dan harus tepat pada waktunya. Saat ini saja, ada beberapa pemesan dari Jepang yang sudah membayar untuk pengiriman Januari 2011 mendatang.

jangan dikira, menjadi agen tunggal produk clay selalu manis. Pernah, aku didatangi seseorang yang mengaku sebagai pengacara yang disewa pemilik toko clay lain. Aku diminta menunjukkan surat izin menjadi agen tunggal clay yang kuimpor dari Jepang. Tetapi aku menolak. Aku tidak mau berurusan dengan mereka. Karena terus diusili, aku pun ganti menyewa pengacara. Akhirnya pesaingku itu berhenti bersikap “usil”.

Atas lancarnya bisnis ini, aku bersyukur, sejauh ini suami mendukungku penuh. Bahkan, waktu aku berangkat kursus ke Jepang pertama kali pada 2008, ia juga ikut mendampingi. Lalu, ketika aku ke Jepang yang terakhir, suami dan anak bungsu kami, Ivana, juga ikut menemaniku. Selama aku belajar clay , suamiku lah yang mengasuh Ivana. Memang enak, bila punya kesibukan didukung penuh oleh suami.
Hasuna Daylailatu


Artikel Terkait
Kisah Sukses Erli Erla Wati (1)

Kisah Sukses Erli Erla Wati (1)

Read More »
blog comments powered by Disqus
Powered by eZ Publish™ CMS Open Source Web Content Management. Copyright © 1999-2010 eZ Systems AS (except where otherwise noted). All rights reserved.