Print

Selasa, 5 Mei 2009

Perlukah Mengonsumsi Suplemen? (2)

Herbal, Jamu & Fitofarmaka
Suplemen seringkali dipandang sebagai obat herbal oleh masyarakat awam. Namun, pada dasarnya herbal memiliki klasifikasi berbeda berdasarkan kemampuan klinis yang dimiliki.

Dimulai dari urutan paling rendah, herbal diklasifikasikan sebagai jamu – herbal terstandar – fitofarmaka. Klasifikasi ini sudah distandarisasi oleh DepKes dan BPOM. Biasanya pada kemasan luar produk yang sudah mendapat nomor registrasi BPOM akan disebutkan atau diberikan simbol tertentu yang menunjukkan klasifikasi obat itu.

Untuk kategori yang paling rendah yakni jamu, adalah ramuan bahan alami yang didapat secara turun temurun. Ramuan atau formulasi bahan alami ini, secara historikal bisa dipakai secara luas tanpa perlu adanya bukti maupun penelitian yang membuktikan khasiat secara klinis.
Namun, ramuan ini cukup dipercaya memiliki manfaat tertentu. Meskipun pembuatan dan khasiat obat belum teruji melalui standar farmakologi. Jika sudah teruji laboratorium dengan menggunakan hewan percobaan, herbal baru bisa dikatakan sebagai herbal terstandar.

Herbal ini sudah bisa dikatakan memiliki bukti khasiat terapi, meski belum teruji pada manusia. Pada akhirnya herbal juga perlu diuji coba pada manusia, baik sehat, sakit maupun perbandingan kasus tertentu, hingga dipantau efek pemakaiannya pada masyarakat.
Setelah dinyatakan memiliki khasiat dengan serangkaian bukti uji pada manusia atau klinis, herbal baru bisa dikategorikan ke dalam fitofarmaka. Fitofarmaka memiliki khasiat yang nyaris setara dengan obat klinis. Selain itu dapat pula diresepkan oleh dokter untuk terapi gangguan tertentu.

”Suplemen sebenarnya masih masuk kategori jamu!” ujar Nico. Biasanya diindikasikan dengan mencantumkan keterangan di kemasan yang menerangkan, herbal ini ”membantu pengobatan” bukan ”untuk pengobatan”. Pencatuman keterangan ini sudah diatur oleh Depkes maupun BPOM agar tak menyesatkan konsumen yang bisa membelinya secara bebas.

Sayangnya, karena pada kemasan tak tertera keterangan dalam bahasa Indonesia, sehingga orang lebih mendengarkan promosi yang diberikan pramuniaga. Jika salah dipersepsi, orang akan menganggapnya sebagai obat.

Timbul Efek Samping
Kendati telah dikonsumsi sesuai petunjuk penggunaan, beberapa konsumen merasakan gangguan setelah beberapa waktu mengonsumsi suplemen. Menurut Nico, kemungkinan efek samping penggunaan suplemen seperti ini bisa terjadi jika sejak awal konsumen salah mempersepsi herbal.
Anggapan keliru yang dimiliki konsumen kerapkali membuat konsumen meninggalkan pengobatan yang seharusnya tetap dijalani. Misalnya, penderita kolesterol mengonsumsi omega-3 1000 mg atau ekstrak bawang putih dengan harapan level kolesterol dalam darahnya akan turun dan merangkak normal.

Padahal, penderita kolesterol­ tetap membutuhkan obat sejenis simvastatin untuk menurunkan kadar total kolesterol dan LDL dalam darah. ”Sebaiknya jangan mengonsumsi herbal tunggal, jika sudah memiliki riwayat penyakit. Efek samping yang akan terjadi kemudian, karena penyakit yang tak terkontrol,” ungkap Nico. Selain itu, efek samping lain juga bisa muncul karena bahan pengisi dan bahan pengawet yang ditambahkan pada proses produksi obat. Misalnya, magnesium oxide yang ditambahkan pada obat berbentuk kaplet atau tablet yang bisa menimbulkan gangguan lambung, mual, dan sakit kepala.

Nico lebih mengkhawatirkan jika herbal atau suplemen yang diperjualbelikan tak terstandar dalam cara pembuatan obat yang baik (CPOB). Herbal bisa saja ditambahkan bahan aktif atau obat tertentu. Misalnya, konsumsi ramuan gymnema sylvestre untuk menurunkan gula darah pada penderita diabetes, ternyata ditambahkan obat diabetes.

Bahayanya, jika yang ditambahkan adalah obat yang memiliki efek samping. Misalnya, penambahan obat flu atau NSID (non steroidal anti-inflammatory drugs) dalam jamu pegal linu.

Obat ini memang memiliki efek anti inflamasi yang bisa mengurangi nyeri. Namun, bisa menyebabkan gangguan pada lambung dan ginjal. Sedangkan omega-3 yang dikenal sebagai bahan pengontrol kolesterol dalam darah, Nico menggaris bawahi, tak semua omega-3 baik untuk hiperkolesterol.

”Rantai omega-3 ada yang berupa sis dan trans. Salah satunya bisa mengontrol lipid, tapi yang lain justru bisa meningkatkan lipid darah.” Melihat ini, Nico kembali mengingatkan agar masyarakat berhati-hati mengonsumsi herbal, apalagi tanpa pemahaman yang benar.


Laili Damayanti

Dilihat : 820 orang
  • Rating :
  • 1/5 (13 votes)
blog comments powered by Disqus




Copyright © Tabloid Nova , All Rights Reserved 2012