Print

Kamis, 21 April 2011

Rumah Hijau, Lega dengan Banyak Jendela

Foto: Ahmad Fadilah

Alangkah menyenangkan memiliki rumah dengan banyak tanaman. Teduh dan sejuk membuat si penghuni betah tinggal di rumah hijau seperti ini.

Rumah pasangan Ramdan Malik (41) dan Tina Gayatri (42) di Kampung Sugutamu, Depok, tampak begitu sejuk. Rumah yang berdiri di lahan seluas 270 meter pesegi ini ditumbuhi banyak pepohonan. Rumah mereka terdiri dari dua bangunan. Bagian depan merupakan ruang utama dan bagian belakang adalah rumah panggung dari kayu. “Orangtua yang membeli tanah di sini pada tahun 90-an, luas tanah 13,5 x 20 meter masih merupakan kavling,” tutur Tina.

Kala itu, Tina dan Ramdan belum punya rumah sendiri. “Ibu mertua menawari kami untuk beli tanah itu,” imbuh Ramdan. “Harganya juga harga “kasih sayang” alias bisa mengangsur. Dulu, tanah di sini banyak pohon rambutan,” imbuh Tina.

Kavling itu sempat beberapa saat didiamkan sampai mereka punya dana untuk membangun rumah. Agustus 2006, mereka mulai membangun. Konsep mereka, sebuah rumah kecil yang dikelilingi banyak tanaman. Apalagi dengan satu anak, mereka merasa tak perlu banyak ruang.

Untuk perawatan, rumah kayu disemprot air tembakau dan dilapisi pelapis antirayap (Foto: Ahmad Fadilah)

Rumah Kayu

Konsep rumah milik Tina dan Ramdan adalah buah pemikiran dari seorang kenalan arsitek alumni ITB. “Orangnya agak nyentrik juga. Dia cerita tentang rumah yang dia bikin. Dia sering membuat rumah dimana angin leluasa masuk. Saya tertarik,” kata Tina.

Rumah yang sejuk memang diidamkan Tina. Ia juga ingin rumah yang cahaya mataharinya leluasa masuk rumah. Jadilah, rumah itu dibangun dengan banyak jendela. Ketika jendela dibuka, suasana jadi terang tapi sejuk. “Siang hari enggak perlu pakai lampu, hemat listrik.”

Sengaja, rumah ini didesain tak terlalu luas. Bangunan seluas 88 meter pesegi ini hanya dibagi menjadi beberapa ruangan. Satu kamar utama, satu kamar anak, dan di belakang ada kamar pembantu. Teras rumah berfungsi untuk ruang tamu, sedangkan di dalam, ruang keluarga menyatu dengan dapur. “Saya suka dapur yang bentuknya seperti warung,” imbuh Tina.

Agar lebih artistik, batu bata dibiarkan terlihat, tak tersentuh semen. “Pilihan bata merahnya tidak seperti bata merah biasa. Keras dan halus. Meski tidak disemen, bentuknya rata dan bagus.”

Pasangan ini masih butuh ruang untuk menyimpan koleksi buku dan kaset. Awalnya, mereka membuat semacam saung dari bambu berukuran 3 x 3 meter persegi di belakang rumah. Masalahnya, saung itu diserbu rayap. Sampai akhirnya dua tahun lalu, “Saya meliput Kampung Rusa. Di sana, pengelolanya tinggal di rumah kayu,” papar Ramdan yang bekerja sebagai produser di sebuah stasiun teve. Tina menimpali, “Saya bilang ke suami, rasanya asyik juga kalau punya rumah kayu. Rasanya seperti kembali ke alam.”

Ramdan menyampaikan niatnya membangun rumah panggung dari kayu ke pengelola Kampung Rusa. Atas bantuan Bagas, salah satu pengelola Kampung Rusa, Tina dan Ramdan mencoba mewujudkan keinginan mereka. “Dana kami hanya sekitar 30 juta. Sementara kami ingin membangun rumah kayu ukuran 6 x 3 meter, untuk tempat buku dan koleksi. Apakah dananya cukup?”

Ramdan memaparkan, “Dananya memang cukup, tapi mesti pakai kayu bekas. Ada beberapa jenis kayu yang digunakan. Untuk tiang utama pakai kayu nangka, selebihnya ada yang kayu durian dan mahoni. Nah, ruangan sengaja tidak ada sekat, dibiarkan blong begitu saja. Di rumah kayu, ada tempat tidur dan tempat menyimpan barang koleksi. Termasuk buku dan kaset.” Rumah kayu ini, kata Ramdan, dibuat aman dari gempa.

Halaman depan rumah di rimbuni tanaman bunga dan pepohonan (Foto: Ahmad Fadilah)

Rimbun Pepohonan

Rumah kayu ini, ujar Ramdan, jadi tempat yang nyaman untuk istirahat. “Kalau kepanasan, saya pindah saja ke rumah kayu. Kalau ada tamu, baik teman atau kerabat, juga bisa istirahat di sini,” tutur adik kandung ekonom Faisal Basri.

Bagian bawah (kolong) rumah panggung kayunya, “Kami tempatkan satu set kursi yang bisa beralih fungsi jadi ruang makan. Soal makan, sih, kami bebas saja. Kadang makan di dekat dapur yang menyatu sebagai ruang keluarga,” papar pencinta musik Leo Kristi. “Kadang, teman-teman suka berkumpul dan main musik di rumah. Kolong rumah kayu ini bisa disulap jadi panggung musik dadakan.”

Untuk perawatan rumah kayu, semula mereka menggunakan air tembakau yang disemprotkan di bagian-bagian rumah kayu. Tapi, masih ada beberapa bagian yang kena rayap. Seperti ada serbuk. “Selanjutnya, kami gunakan antirayap. Sekarang sudah relatif aman,” imbuh Tina.

Pasangan ini mengaku mendambakan rumah hijau yang teduh. Mereka sama-sama suka tanaman. Tina mengaku, semasa masih tinggal bersama orangtua, “Dulu, rumah kami cukup luas dan banyak pohon buahnya. Nah, sekarang saya menanam halaman depan rumah dengan rumput dan bunga-bunga.”

Masih di halaman depan, Ramdan juga menanam pohon pinus yang kini sudah tumbuh tinggi. Bibit pohon didapatnya seusai nonton konser Iwan Abdurachman beberapa tahun lalu. Di belakang rumah, di sudut ada pohon kayu jati putih dan belimbing. Ada pula pohon kersen. “Dulu, Ramdan bawa bibit kersen dari teman pelukis bernama Esti. Pohon itu cepat besar dan mesti sering dipangkas. Saya suka, pohonnya rindang. Banyak burung mampir. Senang sekali dengar kicauannya.”

Masih banyak lagi tanaman yang merimbuni rumah mereka. Ada pohon pisang, salak, jambu, mangga. Lantas bagaimana dengan daun-daun yang berguguran? “Saya bikin biopori, ada tujuh lobang. Sampah daun itu saya masukkan ke lobang biopori. Asyik, lho, melihat daun gugur memasuki kamar saya.”

Di belakang rumah, Tina juga memelihara sepasang kelinci dan ikan di kolam kecil yang jernih. Sungguh rumah hijau dengan pepohonan rindang yang meneduhkan.

 Henry Ismono

Dilihat : 3291 orang
  • Rating :
  • 1.5/5 (31 votes)
blog comments powered by Disqus




Copyright © Tabloid Nova , All Rights Reserved 2012