Membership
Lupa password?
Tips

Tradisi Selembar Daun
Sabtu, 29 Januari 2011
Daun

Foto: Romy Palar

Meski banyak yang beralih pada plastik, daun pisang tetap ada di hati orang Indonesia. Selain aroma khasnya, daun pisang juga ramah lingkungan.

Jika ingin menggunakan daun pisang, pilihlah daun pisang batu. Daunnya lentur, tidak mudah pecah, warnanya hijau tua menarik, dan permukaannya mengkilap. Sementara daun pisang lainnya mudah pecah dan sobek kalau untuk membungkus. Dan, jangan lupa menjemur atau merebus daun pisang dalam air sampai daun layu.

Berikut ini adalah tiga bentuk pembungkus daun pisang. Coba, yuk!

1 Pincuk: Biasa digunakan untuk wadah nasi pecel, nasi rames dan nasi langi. Di Yogyakarta, pincuk biasa digunakan untuk mewadahi bubur dan jajanan pasar.

Cara membuatnya, sobek daun pisang selebar 15- 20 cm, buat lipatan membentuk wadah bersudut lancip dan semat atasnya dengan lidi.

2 Sudi: Pengganti dari mangkuk kertas ini sering dipakai untuk tempat jajanan pasar, seperti klepon dan cenil . Tapi, boleh saja menggunakannya untuk tempat lauk, sambal dan urap yang ditaruh dalam tumpeng.

Ambil dua lembar daun pisang, taruh piring di atasnya, cetak bentuk bulat. Pegang daun pisang dengan ibu jari dan telunjuk. Dengan jari tengah kiri atas, tekan daun sampai mengerucut, balikkan. Hasil akhirnya akan berbentuk lancip di bagian tengah, semat dengan lidi.

3 Tum: Biasa dipakai untuk pembungkus gado-gado atau rujak. Caranya mudah, sobek daun pisang selebar 15-20 cm buat lipatan, tarik ujung tepi dari daun pisang kiri dan kanan ke atas sampai membuat tekukan. Lipat kembali tekukan tadi, sisi kiri dan kanannya. Lakukan hingga sisi kiri dan kanan bertemu. Tum akan menyerupai persegi dan semat atasnya dengan lidi.

 Nuraini W

Foto : Romy Palar


blog comments powered by Disqus