Kamis, 4 Februari 2010
Agar-agar vs Gelatin (1)
Suka makan agar-agar atau gelatin? Sebaiknya ketahui juga fakta di balik sajian pencuci mulut yang segar ini. Tak kalah menarik, lho!
A To Z Seputar Agar-Agar
Tahukah Anda, sudah sejak sekitar 350 tahun silam orang Jepang telah mengonsumsi agar-agar. Mereka menyebutnya kanten. Selain nikmat dimakan, ternyata agar-agar juga punya sejuta khasiat.
- Agar-agar memiliki serat makanan paling tinggi, sehingga bermanfaat bagi pencernaan. Dalam 100 gram agar-agar, terkandung 81 persen lebih serat makanan!
- Agar-agar, yang asal-muasalnya dari rumput laut, juga bisa dijadikan obat. Misalnya, obat diare dan sulit buang air besar.
- Rumput laut atau ganggang selalu jadi andalan untuk dibuat menjadi agar-agar. Bahan-bahan ini juga akan dengan cepat memadat begitu terkena cairan. Ia akan menjelma menjadi gel pada suhu 35 derajat Celsius.
- Tak seperti gelatin, agar-agar bisa mengeras tanpa harus dimasukkan ke dalam lemari es.
- Agar-agar dipilih oleh kaum vegetarian, sebagai alternatif untuk resep masakan yang membutuhkan gelatin.
- Pada umumnya, ada 3 jenis olahan agar-agar, yaitu yang berbentuk batangan, bubuk, dan serpihan. Yang paling umum digunakan adalah agar-agar berbentuk bubuk.
- Dalam bentuk aslinya, agar-agar tidak berwarna dan rasanya agak tawar.
- Yang patut diketahui juga, daya rekat agar-agar sangat tergantung pada tingkat keasaman bahan campurannya. Semakin asam bahan campurannya, semakin banyak agar-agar yang diperlukan untuk menjadikannya membeku.
- Itu sebabnya, jeruk dan stroberi memerlukan agar-agar yang lebih banyak agar bentuknya bagus. Sementara buah kiwi yang kadar asamnya sangat tinggi, sama sekali tak bisa menempel pada agar-agar.
- Sedangkan enzim tertentu yang terdapat pada buah-buahan seperti mangga, nanas,peach serta pepaya, bisa merusak struktur agar-agar. Tentu saja hal ini tak berlaku untuk buah-buahan yang telah diproses terlebih dulu, misalnya buah kalengan.
Dok. NOVA



Twitter
Google
Lintas Berita
Facebook