Minggu, 24 Januari 2010

Wong Aksan & Titi Sjuman Temukan Spirit Pada Anak

Menikah di usia muda, tak membuat Titi Sjuman kehilangan kebintangannya. Justru, bersama sang suami, Wong Aksan, ia seolah menemukan “jalan”nya untuk bersinar. Tak hanya sebagai musisi, tapi juga bintang layar lebar. “Aku bersyukur punya suami Aksan,” ujar Titi atas 2 Piala Citra yang diraihnya.

Tahun 2009 adalah tahun membahagiakan sekaligus membanggakan bagi pasangan Titi Sjuman-Wong Aksan . Menjelang tutup tahun, keduanya sukses meraih 2 penghargaan bergengsi di ajang Festival Film Indonesia (FFI).

Penghargaan pertama, Pemeran Utama Wanita Terbaik, disabet Titi lewat aktingnya di film Mereka Bilang Saya Monyet! (MBSM). Sementara penghargaan kedua, Penata Musik Terbaik 2009, diraih Titi bersama-sama Aksan atas karya mereka untuk film King.

“Alhamdullilah, ini berkah yang luar biasa bagi kami berdua. Aku dan Mas Aksan enggak pernah menduga apresiasinya bakal seperti ini. Karena bagi kami, yang terpenting selalu berkarya sebaik dan semaksimal mungkin,” ujar pemilik nama lengkap Titi Handayani Rajobintang ini.

Titi wajar tak menduga. Kiprahnya di layar lebar baru pertama kali. Itu pun atas “rayuan” gigih sang suami dan adik ipar, Djenar Maesa Ayu. Djenar adalah penulis novel MBSM sekaligus sutradara versi layar lebarnya. Rupanya selama ini Djenar melihat Titi memendam potensi besar di bidang akting. Ia pun yakin Titi bakal mampu memerankan Ajeng, tokoh utama di filmnya, dengan baik.

Djenar tak sendiri. Jauh-jauh hari, sang kakak, Aksan Sjuman alias Wong Aksan, sudah melihat potensi sang istri. “Pertama kali melihat Titi, saya sudah merasa kalau dia itu memiliki ‘sesuatu’. ‘Sesuatu’ itu tidak bisa saya jelaskan, tapi bisa saya rasakan. Mungkin di 2009 inilah ‘sesuatu’ itu mulai tampak,” ujar Aksan.

Dan keyakinan Aksan ternyata tak salah. Akting Titi sebagai Ajeng menuai banyak pujian. “Waktu akhirnya menerima peran ini, aku merasa harus belajar dan berdiskusi banyak dengan Djenar. Aku sampai nginap 2 hari di rumah Djenar. Dan selama berbulan-bulan kemudian Djenar memanggilku dengan nama Ajeng. Supaya aku benar-benar merasa sebagai Ajeng,” kisah Titi.

Hebatnya, meski berhasil menyingkirkan para seniornya di ajang bergengsi, bungsu 13 bersaudara ini tak sedikit pun besar kepala. Titi malah memuji Aksan sebagai “orang” di balik sukses besarnya. “Aku beruntung punya Mas Aksan. Dia enggak pernah melarangku berkarya. Malah, dia selalu mendorongku melihat peluang baru dan mengeksplor kemampuan. Tidak hanya di musik, tapi juga bidang lain,” ujar dosen di Institut Musik Daya Indonesia ini.

Sejurus, Aksan yang menemani sang istri wawancara, menambahkan, betapa dirinya memang melihat Titi memiliki segudang bakat yang belum tergali. “Mungkin ini salah satu jawaban, bahwa di luar musik, akting adalah potensi yang Titi miliki. Yang selama ini belum dia atau saya sadari,” ujar Ayah Miyake Shakuntala (4) ini.

Setahun Hanya 4

Mendapat dukungan penuh sang suami, membuat Titi nyaman menggeluti dunia barunya. Tak heran perempuan bertubuh tinggi langsing ini tak melewatkan kesempatan kembali berakting di layar lebar yang ditawarkan Lola Amaria dan Noe Letto, produser Minggu Pagi di Victoria Park (MPDVP).

Di film yang menceritakan tentang kehidupan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong ini, rupanya meninggalkan kesan yang mendalam bagi Titi. “Bermain sebagai TKI di Hongkong, membuka mataku tentang banyak hal. Cukup lama juga, lo, aku tinggal di sana,” kisah Titi yang bersama Aksan juga didapuk Lola untuk membuat scoring music MPDVP.

Syuting di Hong Kong, sempat membuat Titi kangen rumah. Untungnya, Aksan menyusul Titi ke Hong Kong. “Selain menjenguk aku, sebagai yang membuat scoring musik, dia juga perlu melihat suasana syuting filmnya di Hong Kong seperti apa,” imbuh perempuan kelahiran 10 Februari 1981 ini.

Membuat scoring music, memang bukan hal yang mudah. Apalagi jika dikerjakan 2 kepala yang memiliki segudang ide yang bisa saja saling berbeda. Namun tidak demikian halnya dengan pasangan ini. “Aku bersyukur banget. Dengan Mas Aksan, aku bukan hanya suami-istri, tapi juga punya chemistry kuat sebagai partner kerja. Pokoknya partner segala,” ujar Titi.

Hal senada diungkapkan Aksan. “Dalam bekerja, kami saling mengisi dan menutupi. Titi memiliki penglihatan ke depan dan intuisi yang lebih dalam pembuatan scoring musik film. Misal, untuk gambar dan jalan cerita yang seperti ini, bagusnya temponya naik atau turun. Atau pada adegan yang begini cocoknya bagaimana, Titi bisa memberi masukan soal itu,” puji Aksan.

Untuk 2010, keduanya sudah mendapat beberapa pesanan scoring. Meski demikian, pasangan ini rupanya punya prinsip sendiri dalam bekerja. “Setahun idealnya hanya bikin 4 scoring film. Karena ini adalah proses seni kreatif, kami enggak bisa asal kejar setoran,” ujar keduanya kompak.

Yang unik, Titi dan Aksan punya “ritual khusus” setiap berhasil menyelesaikan pekerjaan jenis ini. “Kami selalu pergi berlibur. Apakah itu ke Bali, Singapura, atau kemana aja. Pokoknya enggak di Jakarta. Biasanya, habis liburan, kami berdua fresh untuk masuk ke film berikutnya.”

Demi Miyake

Kekompakan pasangan muda ini memang pantas membuat iri. Di saat rekan-rekan mereka di dunia hiburan banyak yang tak mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga, Titi-Aksan seolah tak menemui kendala berarti. Namun, siapa sangka perjalanan cinta mereka tak semudah yang terlihat. Untuk mendapatkan Titi, Aksan bahkan harus menunggu 4 tahun.

“Perlahan tapi pasti. Mula-mula, sebagai guru musiknya, saya memposisikan diri sebagai sahabat. Apalagi, saat itu dia sudah punya pacar. Saya menunggu dia 4 tahun, baru bisa menikahinya. Waktu itu, selain karena dia punya pacar, saya juga ingin menunggu usianya matang, setidaknya menginjak kepala 2. Rupanya saya beruntung. Menjelang umur 20 tahun, dia putus dari pacarnya,” kisah Aksan yang menaksir Titi sejak masih berusia 17 tahun.

“Waktu itu saya berpikir, beruntung sekali pria yang jadi kekasih atau suaminya kelak,” ujar Aksan yang rupanya terpesona dengan inner beauty yang dimiliki Titi. “Selain cantik, dia juga punya ‘sesuatu’. Hal-hal yang saat seumuran dia belum bisa saya lakukan, sudah dia kuasai. Sentuhannya terhadap alat musik, hasilnya pasti luar biasa.”

Kesabaran Aksan menunggu Titi rupanya berbuah manis. Menikah 15 Agustus 2004, keduanya bahkan segera dikaruniai momongan. Miyake Shakuntala, demikian Titi dan Aksan menamai putri cantik mereka yang lahir 4 November 2005. “Dia adalah spirit kami,” ujar Aksan tentang Miyake yang sudah fasih memainkan beberapa jenis alat musik ini.

“Miyake bahkan sering ‘ikut kerja’. Pintu studio kami selalu terbuka buat Miyake. Kami enggak pernah melarang Miyake. Tujuannya biar dia tahu kerjaan bapak dan ibunya,” ujar Titi yang juga kerap mengajak Miyake ke lokasi syuting.

Aksan bahkan menganggap ulah Miyake yang sering merepotkannya saat bekerja, sebagai ‘bumbu penyedap’ proses kreatifnya. “Kalau diwarnai kerewelan Miyake, saat kami sudah mulai dikejar deadline, rasanya makin tegang dan seru.”

Miyake pulalah salah satu alasan Aksan dan Titi ‘rajin’ menerima job scoring musik film. “Demi dia kami menerima job scoring. Kami ingin menyiapkan bekal untuk Miyake dan adiknya kelak. Kami memang ingin nambah anak, biar Miyake punya teman main,” ujar Aksan yang punya kebiasaan unik keramas berkali-kali dalam sehari. “Selain Miyake, obat yang bisa bikin pikiran segar dan fresh ya, keramas. Ha ha ha.”
Erni

Dilihat : 12087 orang
  • Rating :
  • 2.5/5 (228 votes)
blog comments powered by Disqus