Membership
Lupa password?
Profil Selebriti

Vino Bastian, Aktor Yang Pegawai Kantoran
Minggu, 17 Januari 2010
Vino G Bastian foto eng

Vino G Bastian (Foto: Eng Naftali)

Membintangi belasan layar lebar, mengantongi piala FFI, bahkan memacari sutradara berbakat, tak membuat Vino Bastian(27) percaya penuh pada dunia film. Diluar sorot kamera, diam-diam Vino lebih suka bersandar pada ijazah sarjana Teknik Kimianya.

Vino Bastian patut berbangga. Di usia yang masih amat muda, namanya telah disejajarkan dengan para bintang senior, dalam hal kualitas akting. Sukses putra bungsu penulis komik terkenal, Bastian Tito ini tentu tak diraih begitu saja. Ada kerja keras plus idealisme di dalamnya.

Salah satu contoh adalah film terakhir Vino, Serigala Terakhir (ST). Pada lakon yang bercerita tentang genk jalanan ini, Vino memerani Jarot, pemuda pendiam yang harus mencicipi kerasnya penjara karena sebuah kecelakaan.

“Karakterku di sini beda dengan film-film sebelumnya. Disini aku jadi orang yang tidak ekspresif,” ucap Vino yang mengaku karakter Jarot justru membuatnya lebih bisa bereksplorasi.

Tak heran jika Vino menyebut ST sebagai salah satu film terberat yang pernah dijalaninya. “Sebelum syuting dimulai, dua bulan kami harus latihan kebut-kebutan dan bela diri,” kisah Vino yang sempat terkapar dibuatnya. “Divonis gejala tifus.”

Repot Pacari Sutradara

Urusan peran, Vino memang tak pernah asal pilih. Alhasil, kelahiran 24 Maret 1982 ini selalu muncul dalam karakter yang tak biasa, mulai dari anak punk, pengedar narkoba, pecinta sesama jenis, hingga pemuda SMA yang mencari jati diri.

“Karena masih muda, aku lebih fleksibel memerankan karakter-karakter labil. Aku suka karena bisa mengeksplor banyak hal dari situ. Kalau sudah tua, mungkin peranku, ya, begitu-begitu saja,” lanjut Vino sambil membantah dirinya hanya mau jadi pemeran utama.

“Aku enggak terlalu peduli, dapat peran utama, pembantu, atau sekadar cameo . Yang lebih kupikirkan adalah seberapa penting peranku untuk jalan cerita film itu,” ujar Vino yang memilih film berdasarkan kuat atau tidaknya karakter dan bagus atau tidaknya cerita.

“Tapi aku juga, kan, enggak bisa seenaknya memilih peran yang kusuka. Semuanya adalah hasil pertimbangan dan penilaian sutradara atau produser,” terang Vino yang mengaku hampir selalu harus melewati proses kasting. “Sama kok, dengan pemain lain. Harus kasting dulu. Termasuk dalam film-film Upi,” ujar Vino menyebut nama sang kekasih yang adalah sutradara andal, Upi Avianto.

“Banyak orang mengira, karena aku pacaran dengan Upi maka peran-peran yang bagus jatuh dengan mudah kepadaku. Padahal, kami sangat profesional saat bekerja,” tutur Vino sambil memberi contoh. “Peran Jarot (ST) sebenarnya bukan pilihan utamaku. Aku ngincar jadi Ale. Tapi yang kepilih justru Fathir Muchtar.”

Vino memang menyayangkan tuduhan dirinya “menikmati” status sebagai pacar Upi. “Orang sering berpikir jadi gue itu gampang. Pacar sutradara, pantas jadi pemeran utama. Padahal, aku kerja sama kerasnya dengan orang lain untuk bisa dapat peran.”

Meski demikian Vino mengakui, di luar urusan romantisme dirinya memuja Upi. “Sebagai sutradara dan penulis cerita, dia selalu berusaha memberi sesuatu yang baru dalam film-filmnya,” ujar Vino yang 4 dari 12 filmnya, disutradarai oleh sang kekasih.

Lalu, apa rasanya berakting di bawah arahan kekasih? “Enggak mudah. Ada enak dan enggak enaknya. Yang repot kalau dia sedang marah-marah,” sebut Vino yang tak peduli dengan status janda satu anak yang disandang Upi, serta perbedaan usia 9 tahun antara keduanya.

So what ? Aku enggak peduli. Dia orangnya cerdas,” cetus Vino yang bersama Upi sepakat tak buru-buru menargetkan pernikahan sebagai ujung perjalanan. “Kami masih enjoy dengan kerjaan masing-masing. Jalani saja dulu.”

Bayang-Bayang Ayah

Meski enjoy menjadi aktor, Vino mengaku ini bukan cita-cita masa kecilnya. “Ayah yang mengajari aku untuk menghargai seni. Aku ingat banget, kecil-kecil sudah diajak Ayah nonton film-film koboi. Beliau juga yang pertama kali ngenalin aku musik.”

Jatuh cinta pada musik, Vino remaja membentuk band. Siapa sangka, terjun ke musik malah membawanya ke dunia seni peran. “Waktu band kami manggung di sebuah festival, ada orang yang nawarin aku foto untuk majalah.” Dari sinilah karier Vino di dunia modeling berawal.

Jika ditanya sekarang, Vino mengaku tak terlalu suka bekerja sebagai model. “Semua tawaran foto yang kuambil, lebih untuk menambah uang saku. Lumayan, jadi punya penghasilan sendiri dan bisa jajan sesuka hati. Tapi jiwaku memang enggak disitu.” Tak hanya materi. Pekerjaan sebagai model juga memberi Vino banyak relasi. Segera ia akrab dengan berbagai kasting.

“Ternyata orang-orang sangat menghargai apa yang kulakukan di dunia film. Aku memang enggak mau banyak ngambil tawaran. Tapi ketika aku ambil, aku lebih fokus. Hasilnya juga lebih maksimal,” ucap Vino serius.

Prinsip Vino terbukti tepat. Kesungguhannya bekerja membuahkan piala FFI sebagai Aktor Terbaik FFI 2008 lewat film Radit dan Jani. Uniknya, Vino mengaku tak terlalu memikirkan penghargaan tersebut.

Vino bahkan meyakini, piala FFI yang diraihnya tahun lalu tersebut, tak akan jadi pialanya yang terakhir. “Aku masih ingin membuktikan banyak hal pada orang-orang,” ujar Vino yang sangat ingin menunjukkan, keberhasilannya sebagai aktor, tak berhubungan dengan nama besar sang ayah yang terkenal lewat novel Wiro Sableng- nya.

“Bukannya aku menghindar berada di bawah bayang-bayang Ayah. Aku sangat bangga menjadi anak Bastian Tito. Tapi kami berdua menghasilkan karya yang berbeda. Beliau di tulisan, kalau aku di peran,” papar Vino yang diam-diam punya profesi “sampingan” selain aktor.

“Aku ini pegawai kantoran, lho. Jabatanku distributor marketing. Tapi karena usahanya milik kakak sendiri, jadi waktunya lebih bebas,” ujar Vino yang dengan sadar tak mau menyandarkan kebutuhan finansialnya hanya pada penghasilan dari dunia akting.

“Aku kan, enggak banyak ngambil tawaran film. Paling pol setahun aku main 2 film,” ujar Vino yang tak jarang kehabisan duit ini. “Makanya aku manfaatin ijazah Teknik Kimia yang kupunya. Mendapatkannya (ijazah, Red) kan, enggak mudah. Sayang kalau enggak dimanfaatkan,” ujar Vino yang rupanya ingin bersiap-siap sejak dini.

“Kalau suatu saat nanti sudah enggak ada tawaran lagi, aku enggak jadi pengangguran. Lagipula, hidup dari film enggak akan cukup. Itu sudah dari dulu aku sadari. Aku tetap mau akting hanya karena aku cinta.”
Ajeng

Views : 21870

blog comments powered by Disqus

Baca Juga

The Dance Company, Kisah Sukses Papa Rock'n Roll

The Dance Company, Kisah Sukses Papa Rock'n Roll

Read More »
Alvin Adam: “Bohong Penonton Enggak Suka Infotainmen”

Alvin Adam: “Bohong Penonton Enggak Suka Infotainmen”

Read More »