Membership
Lupa password?
Profil Selebriti

Pinkan Mambo, Telepon Dhani Tanpa Kenal Waktu (2)
Senin, 21 Juli 2008
pingkan-Daniel_resize

Daniel

Dengan modal suara emas dan sedikit kenekatan, Pinkan akhirnya bertemu Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Ia pun bergabung dengan duo RATU.
Aku sangat senang bernyanyi. Setiap kali melihat penyanyi kafe, selalu terbersit keinginan untuk jadi seperti mereka. Kalau bisa kesampaian, hitung-hitung, aku bisa sedikit membantu ibu menyekolahkan adik-adikku, pikirku saat itu.
Dewi fortuna ternyata berpihak kepadaku. Saat itu tahun 1998 ketika seorang teman bernama Ifa, salah satu penyanyi di kafe yang sering kudatangi, bilang kalau suaraku bagus. Selain itu, ia juga manawariku bekerja sebagai penyanyi kafe. Waduh, senangnya bukan main. Ifa sepertinya tahu apa yang kupikirkan.
Tanpa menunggu waktu lama, aku diskusikan tawaran ini kepada Ibu. Tadinya aku khawatir Ibu bakal marah dan melarangku, tapi ternyata tidak. Sebaliknya, Ibu sangat mendukung. Beberapa hari kemudian aku sudah menjadi penyanyi kafe bersama Nuansa Band di Amigos Café.
Ternyata, tidak semua orang senang dengan profesi baruku ini. Karena, selain jam kerjanya yang sampai lewat tengah malam, image profesi penyanyi kafe di masyarakat memang terlanjur negatif. Terlebih saat itu aku masih kelas 2 SMA Cendrawasih, Cilandak, Jaksel.
Untunglah, Ibu selalu menghiburku. Aku masih ingat saat ia bilang bahwa setiap orang punya mimpi dan untuk mendapatkan mimpiku hanya aku yang bisa mengejarnya. Ia juga mengajariku untuk tidak takut melakukan sesuatu yang baik dalam hidup. Ibuku memang luar biasa. Untuk membuatku percaya diri, selama beberapa waktu ia rajin menemaniku menyanyi hingga tengah malam.
Aku pernah bernyanyi di hampir seluruh kafe yang ada di Jakarta. Menjelang usia 19 tahun, karena kegigihan kerja dan jam terbang yang lumayan, posisiku bisa dikatakan sudah sejajar dengan penyanyi kafe senior. Tentu saja posisi ini berpengaruh pada bayaran yang kuterima. Jika awalnya aku hanya menerima bayaran sebesar Rp 27.500 untuk menyanyi selama 3 jam, setelah posisiku setara dengan penyanyi kafe yang lebih senior, bayaranku meningkat jadi sepuluh kali lipatnya untuk sekali tampil.
GABUNG DI RATU
Meski karierku sebagai penyanyi kafe terbilang sangat bagus, tapi aku tidak merasa puas. Aku merasa masih bisa melakukan sesuatu hal yang lebih besar dari sekadar penyanyi kafe. Aku ingin maju dan berkembang. Aku ingin go public. Akhirnya, kucari cara bagaimana agar aku bisa mencapai keinginanku itu.
Aha! Akhirnya nama Ahmad Dhani terlintas. Pikirku waktu itu, kalau dia bisa sukses mengorbitkan Reza Artamevia, dia juga pasti bisa membuatku sukses. Keinginanku bertemu Mas Dhani akhirnya kusampaikan kepada teman dekatku. Dan betapa leganya aku saat ia memberitahukan bahwa Mas Dhani dan teman-temannya biasa nongkrong di Regal's Café di Pondok Indah Mall. Saat itu aku bertekad bulat, dengan cara apa pun, aku harus bertemu dengan dia.
Saat yang kutunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga. Suatu hari saat aku sedang ke mal tersebut, aku melihat Ahmad Dhani. Tanpa pikir panjang, kuhampiri dia dan tanpa basa-basi kuperkenalkan diriku. "Halo Mas, namaku Pinkan. Suaraku bagus. Aku mau dong dibuatin album kaya Reza," kataku berani. Dengan tersenyum, Mas Dhani bertanya, "Sebagus apa suaramu?" Dengan pede aku bilang, "Bagus banget, malah lebih bagus dari Reza." "Masa?" ujar mas Dhani tak percaya. "Iya, malah sebagus Mariah Carey," kataku lagi meyakinkannya. Dan aku manfaatkan juga pertemuan singkat itu dengan meminta nomor teleponnya.
Esoknya, tidak ada cerita, kutelepon rumahnya tanpa kenal waktu. Berbagai alasan kuterima dari pembantunya mengenai Mas Dhani. Sedang tidurlah, sedang pergilah, sakitlah, macam-macamlah pokoknya. Hingga di hari kelima, istri mas Dhani, Maia Estianty, mengangkat teleponku. Kukatakan maksudku kepadanya. Namun, saat kami mengobrol, Mbak Maia malah menawariku untuk bergabung dengan grup duo RATU yang akan segera dibentuknya.
Aku bingung karena targetku adalah menjadi penyanyi solo. Meski demikian, tawaran itu tetap kuterima. Esoknya aku audisi di rumah Mbak Maia. Belum lagi menyelesaikan lagu yang kunyanyikan, Mbak Maia langsung menerima aku bergabung di RATU. Sejak itulah aku mengganti profesiku sebagai penyanyi profesional.
BERHENTI KULIAH
Tidak secepat yang kuduga, ternyata membuat album itu butuh waktu dan energi yang besar. Dan selama itu, vokalku digojlok habis oleh pasangan musisi ini melalui backing vokal di grup bandnya Mas Dhani, Dewa. Jadwal manggung Dewa serta latihan vokal yang diberikan oleh Mas Dhani ternyata sangat mengganggu jadwal kuliahku. Awalnya aku berpikir bisa menjalankan kuliahku, tapi ternyata aku salah. Akhirnya, kuliahku di Jurusan Ekonomi Akuntasi Universitas Trisakti yang sudah semester tiga kutinggalkan. Aku harus realistis.
Sayang memang karena dengan susah payah dulu aku bekerja agar bisa kuliah. Tapi mau bagaimana lagi. Daripada tidak serius, lebih baik uang kuliahku kugunakan untuk uang kuliah adikku. Ibu pun tidak mempersoalkan hal itu. Lagipula, bukan tanpa maksud Tuhan mempertemukan aku dengan Mas Dhani dan Mbak Maia.
Semua urusan RATU diatur oleh Mbak Maia di bawah bawah arahan Management DEWA. Elegance dipilih Mbak Maia sebagai konsep panggung RATU. Kalau kemudian masyarakat mengenal RATU sebagai duo band yang centil, itu justru terpengaruh dengan karakterku yang memang centil. Mbak Maia pun mengakui hal itu karena memang dia sendiri termasuk kategori wanita yang maskulin. Akhirnya album RATU berjudul Bersama pun dirilis.
BERTEMU AYAH
Sedikit beralih dari soal musik, dari dulu aku memang sudah dekat dengan Ibu, sedangkan hubunganku dengan Ayah kurasa biasa saja. Ya, seingatku tidak ada yang istimewa di antara kami. Entahlah, mungkin karena aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya sehingga aku lupa kenangan kami.
Saat aku dan kedua adikku beranjak dewasa, ada keinginan Ibu untuk mempertemukan kami dengan Ayah. Sekadar bersilahturahmi, begitu alasan Ibu. Meski sudah bercerai dengan Ayah, Ibu memang selalu berusaha agar kami tidak melupakan Ayah.
Akhirnya, suatu hari di tahun 2001, kami berangkat ke rumah Ayah di Manado. Aku senang bisa melihatnya lagi setelah sekian lama. Melihatnya membuatku teringat masa kecil saat kami masih bersama. Meski tidak banyak yang kami ceritakan, aku memberitahu Ayah tentang pekerjaan baruku di RATU. Dia sangat senang mendengar putri pertamanya sudah sukses.
Hingga sekarang pun kami tetap menjaga hubungan baik dengan Ayah dan keluarga barunya di Manado. Aku masih sering menelepon untuk sekedar menanyakan kabarnya. Seperti baru-baru ini, Ayah memberi kabar kalau ia sedang sakit. Sebagai seorang anak, aku ingin sekali menengoknya. Tapi tidak bisa. Begitu banyak pekerjaanku di Jakarta yang harus kuselesaikan. Akhirnya, aku hanya bisa mengirim biaya perawatan Ayah supaya ia lekas sembuh.

Ester Sondang

Views : 3966

blog comments powered by Disqus

Baca Juga

Garbriel “Idola Cilik”, Lunasi Utang & Ingin Belikan Rumah

Garbriel “Idola Cilik”, Lunasi Utang & Ingin Belikan Rumah

Read More »
Pinkan Mambo Centil Sejak Kecil (1)

Pinkan Mambo Centil Sejak Kecil (1)

Read More »