Minggu, 14 Februari 2010
Nindy, Keberuntungan Si Mellow
Sejak kecil, pemilik nama lengkap Anindya Yandirest Ayunda (21) ini, senang mengikuti berbagai perlombaan di Padang, Sumbar. Dari kompetisi nyanyi, renang, modeling , hingga paskibraka. “Bahkan saat SD, aku pernah rekaman album pop anak-anak daerah,” kenang Nindy. Tak heran, sejak bocah, Nindy sudah punya mimpi jadi penyanyi cilik.
Setelah merasa mampu mandiri, tahun 2005 ia hijrah ke Jakarta tanpa keluarga. Yang terpikir di benaknya, ia ingin melanjutkan sekolah sambil mengadu keberuntungan dengan mengikuti kompetisi menyanyi di televisi. “Aku ingin sekali mengikuti audisi Indonesian Idol ,” katanya.
Namun siapa sangka, pintu Nindy untuk menjadi penyanyi ibukota justru lewat kompetisi sebuah produk kecantikan. Tanpa sepengetahuannya, sang ayah, H. Fadli Yunis, mendaftarkan sang putri di kompetisi itu. “Aku kaget juga, sih, waktu diaudisi. Pesertanya banyak yang sudah berpengalaman. Ada yang sudah jadi penyanyi café segala. Aku sempat merasa enggak pede ,” ungkap Nindy.
Nyatanya, Nindy lah pemenangnya. Sebagai juara, Nindy berhak berduet dengan penyanyi Audy yang saat itu sedang bersinar dengan single- nya Untuk Sahabat . Lagu itu sekaligus dijadikan jingle iklan produk kecantikan dan masuk di album solo Audy, 23-03.
Datangi Pencipta Lagu
Pintu mulai terbuka. Usai meneken kontrak dengan perusahaan produk kecantikan, Nindy dilirik Sony BMG. Label besar ini menawari kontrak album untuk Nindy. Kesempatan emas itu tak disia-siakan. Meski kontrak sudah di tangan, membuat album ternyata tak mudah. Butuh waktu sekitar 2 tahun buat Nindy mengeluarkan album perdana bertajuk Tak Pernah Kubayangkan (2008). Di sela-sela proses album itu, Nindy sempat mengeluarkan dua buah single : Matahari untuk soundtrack film Badai Pasti Berlalu dan Tidur Malam Ini yang berduet dengan Aldi “Bragi” untuk album The Best of Bragi .
Kenapa proses itu begitu panjang? Rupanya Nindy memang sangat serius mengerjakan album pertamanya itu. “Aku enggak mau setengah-setengah,” katanya. Ia pun rela menyambangi satu per satu pencipta lagu terkenal untuk terlibat dalam albumnya, seperti Bebi “Romeo”, Badai “Kerispatih”, Dewiq, dan Yovie Widianto. “Padahal kalau dipikir-pikir, siapa lah aku, berani-beraninya mendatangi mereka dan minta lagu. Untungnya mereka semua sangat baik. Mereka welcome
banget,” lanjut Nindy.
Tak hanya itu, Nindy juga banyak menyerap ilmu dari para musisi terkenal itu. “Seperti pelajaran dari Mas Bebi ‘Romeo’. Mas Bebi sering bilang, percuma punya lagu bagus jika enggak bisa menjiwai lagu. Makanya, saat Mas Bebi memberikan lagu Cinta Cuma Satu,
aku benar-benar berusaha menyanyikannya dengan sepenuh hati,” katanya.
Mungkin terkena pengaruh dari Bebi yang identik dengan lagu-lagu romantis itulah, Nindy yang berkuliah di jurusan komunikasi itu, kini dikenal sebagai penyanyi solo wanita yang beraliran mellow
. Imej ini menurut Nindy ingin dipertahankan di album kedua yang sedang dipersiapkan. Sayang, di album kedua ia tetap mengandalkan dari para pencipta lagi. “Aku suka lagu yang liriknya puitis. Tapi, untuk menciptakan lagu, aku harus punya perbendaharaan kata yang banyak. Syarat itu yang belum aku punya,” aku Nindy.
Tak Kapok Syuting
Setelah menjelma jadi penyanyi, tawaran akting pun mulai menghampiri. Awalnya, tawaran datang untuk beberapa program FTV. Selanjutnya, kesempatan menjajal berakting di layar lebar pun menyusul.
Beberapa waktu lalu, selama sebulan, Nindy harus bolak-balik Yogyakarta-Jakarta untuk syuting film berjudul Seleb Kota Jogja (SKJ). Di film yang mayoritas dilakoni para penyanyi di bawah bendera Sony BMG ini, Nindy kebagian porsi sebagai pemeran pembantu dan beradu peran dengan Cinta Laura dan Lala Kartodirjdo.
Ada alasan kuat kenapa Nindy menerima tawaran itu. “Ketika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berbeda, kenapa enggak. Itung-itung menambah track record perjalanan karierku,” ujar Nindy.
Hanya, yang paling membuatnya jemu saat syuting adalah perihal manajemen waktu. Beberapa kali Nindy sudah harus stand by sejak pagi, padahal syuting baru take di siang hari. “Aku berusaha untuk memahami. Beginilah syuting. Sangat berbeda dengan cara kerja penyanyi. Kalau manggung, kan, habis nyanyi terus boleh pulang, ha ha.” Toh pengalaman di lokasi syuting itu tak membuat Nindy kapok. Jika ada tawaran lain untuk bermain film, Nindy tak ragu untuk menerima. “Ayo aja.”
Pacar Mendukung
Rupanya keberanian Nindy dalam mencoba hal-hal baru tak lepas dari dukungan dan pengaruh sang kekasih, Muhammad Iqbal alias Qibil. Tak jauh dengan Nindy, selain ngeband, Qibil juga terbiasa berakting.
Alhasil, kedua sejoli ini sama-sama sibuk berkarier. Bahkan, pernah sebulan mereka tak bertemu. Kendati demikian, kata Nindy, situasi itu tak terlalu mengganggu hubungan mereka. “Aku dan Qibil sama-sama nyantai dan tak cemburuan. Kami tak pernah bertengkar karena masalah sepele.” Di samping itu, lanjut Nindy, “Qibil orangnya sangat mengayomi. Memang kalau dari penampilan enggak kelihatan, ya. Padahal dia sangat ngemong.”
Nindy menilai saat ini karier dan hubungan asmaranya masih relatif hijau. Di hadapannya masih terbentang jalan panjang dengan berbagai kemungkinan. Tapi ia bersyukur, setelah empat tahun berkecimpung di blantika hiburan, Dewi Fortuna masih menaunginya. “Begitu banyak orang yang lebih cantik dengan suara yang lebih bagus, tapi aku sepertinya diberi keberuntungan lebih. Aku tidak mau menyia-nyiakan,” pungkas Nindy dengan pandangan optimis.
Lalu bagaimana mimpinya bisa masuk audisi Indonesia Idol? “Wah, enggak jadi deh!”
Ajeng

