Minggu, 7 Februari 2010
Fanny Fabiana, Diantara Cinta Dua Dunia
Pemeran Amanda di film Hari Untuk Amanda ini ternyata “anak mama”. Sampai-sampai sang Mama pun rela diajak hijrah ke Jakarta. Mengapa pula ia menolak sinetron stripping?
Dikaruniai wajah cantik dengan tinggi badan yang menjulang, Fanny memang punya modal dasar untuk bersaing di ranah hiburan. Tak heran, ditahun 1999, baru duduk di sekolah menengah pertama, Fanny sudah menjuarai sebuah ajang pemilihan model yang diadakan oleh majalah remaja.
“Karena waktu itu masih SMP, jadi karierku tidak dilanjutkan. Aku baru aktif lagi sekitar tiga tahun lalu,” cerita Fanny.
Masuknya Fanny ke dunia hiburan yang kedua kalinya ini, dimulai dari catwalk . Lewat kiprahnya sebagai model tersebut, Fanny diganjar menjadi juara 1 dalam kompetisi pemilihan Top Model Indonesia tahun 2002. Setelah itu, berbagai tawaran membanjirinya. Fanny pun lantas merambah ke bermacam pekerjaan; presenter olahraga, bintang iklan dan berakting di FTV. Hanya satu yang tak pernah mau disentuhnya, bermain sinetron stripping .
“Stripping itu, kan, waktunya panjang. Aku takut kalau aku mengambil stripping , aktingku akan terbentuk menjadi karakter tertentu. Aku enggak mau itu, karena sejak awal aku memang mengincar untuk main film,” kata Fanny beralasan.
Keinginan Fanny untuk bermain dalam film layar lebar memang belakangan terlaksana. Dari tahun 2009, nama Fanny sudah tercatat membintangi tiga buah film layar lebar: Preman In Love (2009), Serigala Terakhir (2009) dan Hari Untuk Amanda (2010). Lucunya, film yang disebut belakangan sebenarnya justru adalah film pertama Fanny.
“Tapi karena edarnya belakangan, orang mengira itu adalah film ketigaku, ha ha,” ujarnya.
Karena merupakan film pertamanya jugalah, Fanny mengaku merasa paling berkesan berperan sebagai Amanda dalam film Hari Untuk Amanda (HUA). Selain peran Amanda yang penuh konflik batin dan emosi, alur cerita dalam HUA pun sangat menarik. Fanny bahkan menyebut HUA sebagai cerita semua orang.
“Menurutku, cerita dalam HUA bisa terjadi pada siapa saja. Dan memang begitu, bahkan sampai sekarang filmnya sudah tidak tayang di bioskop, aku banyak mendapatkan respon di twitter, banyak orang mangaku mengalami kejadian seperti di HUA,” tutur Fanny.
Sebagai Amanda, Fanny adalah seorang wanita berusia pertengahan 20-an yang sebentar lagi menghadapi pernikahan. Hanya sepuluh hari sebelum pernikahan dilangsungkan, Amanda bertemu lagi dengan mantan kekasih yang pernah dipacarinya selama 8 tahun. Sebuah cerita yang sederhana namun memiliki kekuatan untuk menginspirasi penonton, kata Fanny.
“Aku harus memainkan seseorang yang sedang sibuk merancang pernikahan, sementara aku enggak tahu apa-apa soal pernikahan,” tutur gadis yang mengaku masih menjomblo ini.
Toh berkat bermain dalam HUA, Fanny bisa memetik pelajaran yang menurutnya bakal berguna jika suatu saat nanti waktunya tiba untuk menikah. Salah satunya menyangkut memilih pasangan hidup. Anak semata wayang dalam keluarganya ini mengaku akan memilih kekasih yang dibutuhkannya, bukan yang diinginkannya. Hal lain yang dipelajari Fanny dari HUA adalah agar tak terlalu memusingkan detil-detil kecil ketika akan menikah nanti.
“Kebanyakan wanita yang mau menikah terperangkap dengan permasalahan yang remeh-temeh.Seperti, gaun pengantin harus bagus banget, tempat pernikahan harus romantis, diet mati-matian supaya muat dengan gaunnya. Padahal, kan, bukan itu esensi pernikahan,” lanjutnya panjang lebar.
Ia pun lantas berencana untuk tak terlalu repot dengan hal remeh-temeh tadi. Yang penting sakral, ucapnya.
Anak mama
Sejak mulai eksis di jagad hiburan, Fanny terpaksa pindah dari kota kelahirannya, Bandung, ke Jakarta. Tak ingin kesepian di ibukota, Fanny memboyong serta sang ibunda, Tati Rusmiati untuk tinggal bersamanya. Bukan karena tak berani tinggal sendirian, namun karena kedekatannya dengan sang ibu membuatnya tak tahan jika harus berpisah lama-lama.
“Apalagi aku orangnya suka cerita, suka curhat. Jadi semua hal aku ceritakan ke mama. Dulu, saat masih SMA malah aku sampai cerita setiap hari jajan apa saja, saking sukanya ngobrol sama mama,” sebutnya lalu tergelak.
Sekarang pun sama saja. Jika Fanny seharian sibuk di lokasi syuting atau di tempat fashion show sekalipun, ia tak pernah lupa untuk berkomunikasi dengan sang bunda. SMS dan telepon selalu dilakukannya setiap ada waktu luang.
“Dan aku tahu banget, mama di apartemen sendirian. Mau ngapain, coba, kalau aku enggak sering-sering SMS dan telepon?” lanjut kelahiran 29 Januari 1985 ini.
Karena memboyong ibunya ke Jakarta, keluarga Fanny pun jadi terpisah-pisah. Sang ayah, Doddy, masih tinggal di Bandung. Sesekali saja Fanny dan Tati pulang ke Bandung untuk bertemu. Untungnya, sang ayah tak pernah protes dengan keputusan Fanny membawa serta sang ibu. Walau terpisah kota, dukungan ayahnya masih sangat dirasakan oleh Fanny. Tanpa bermaksud egois, Fanny memang mengaku merasa lebih nyaman jika ada orangtua yang menjaganya di Jakarta.
“Kalau ada yang menjaga begini, aku juga pasti lebih hati-hati dalam bergaul,” kata Fanny, mengakui kehidupan Jakarta yang penuh dengan godaan.
Saat ini, jadwal kerja Fanny memang sedang padat-padatnya. Selain masih aktif di modeling, lulusan Universitas Widyatama ini sedang sibuk syuting untuk film keempatnya. Kali ini, Fanny terlibat dalam pembuatan film bergenre komedi bersama Wingky Wiryawan. Jika melihat lagi ke belakang, Fanny mengaku sangat bersyukur bisa sukses dalam dua dunia yang sangat dicintainya, akting dan modeling. Terlebih, Fanny mengaku tak pernah belajar secara formal bagaimana cara menjadi model dan aktris.
“Sama seperti modeling, beda designer beda gaya dan mood. Film pun begitu, beda sutradara beda karakter. Jadi, aku pikir, jam terbang yang lebih penting untuk mengasah kualitas akting, bukan masalah pernah sekolah akting atau tidak,” kilahnya.
Namun, lanjutnya lagi, ada persamaan mendasar dari pekerjaannya sebagai model dan aktris. Keduanya sama-sama membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi, apalagi kalau bukan soal menunggu. Saat menjadi model, kata Fanny, sering kali mengharuskannya menunggu dari pagi hingga malam hari jika sedang fashion show . Saat syuting pun begitu. “Jadinya waktu pertama kali syuting, aku enggak terlalu kaget. Secara mental sudah terlatih, ha ha,”
Saking cintanya Fanny pada dua dunia yang ditekuninya tersebut, ia tak bisa memilih, mana yang lebih disukainya.
“Saat ini aku memang sedang bersemangat untuk akting. Tapi bukan berarti model aku tinggalkan. Aku masih ingin menjalankan kedua-duanya,” ujarnya memutuskan.
Yang pasti, masih banyak yang ingin dicapai gadis 24 tahun ini di dunia akting. Salah satunya adalah untuk diarahkan oleh sutradara ternama di Indonesia, seperti Nia Dinata.
“Aku ingin berakting untuk mendapatkan kepuasan batin. Bukan hanya sekadar ingin terkenal saja,” pungkasnya.
Ajeng

