Sabtu, 13 Maret 2010

Eki ‘Humania’ Membawa Dunia ke Indonesia

Ekki Humania (Foto: Eng Naftali)

Menjadi sekadar penyanyi saja rupanya tak cukup bagi Eki Puradiredja (41). Maka, setelah Humania vakum tahun 90-an, Eki melanglang buana. Kini, ia seorang produser, DJ, music director dan pria dibelakang suksesnya salah satu festival musik terbesar di dunia.

Jabatan sebagai Program Koordinator untuk Java Jazz Festival (JJF) sudah dijalaninya sejak pertama kali festival musik ini digelar pada Maret 2005. Selama 6 tahun itu, Eki dan timnya harus bergelut dengan job desk yang berat. “Yaitu memutuskan berapa jumlah dan konsep setiap panggung, memilih dan mengontrak artis-artis lokal dan internasional, membuat jadwal agar musisi-musisi yang main untuk beberapa band enggak tabrakan waktunya, dan lain-lain,” papar Eki.

Kedengarannya memang gampang, tapi sebenarnya, mengurusi ratusan band dan ribuan musisi yang tiap tahun terlibat dalam JJF tidaklah mudah, meski ia sudah berkecimpung di sana selama 6 tahun. “Dari Indonesia saja ada 120 band yang ikut berpartisipasi. Belum lagi artis dari luar negeri yang lebih cerewet. Pokoknya pusing, deh. Ha ha ha. Tim kami pun harus bertanggung jawab pada manajemen dan seluruh peralatan milik band-band itu. Untungnya kami sudah bekerja bareng dari awal. Jadi, chemistry -nya sudah dapat.”

Pria yang juga menjadi otak lahirnya Maliq & d’Essentials ini mengatakan, tahun ini perhelatan JFF dipindahkan dari yang biasanya di JHCC, Senayan, ke JIExpo Kemayoran. Tentu saja ini membuat tugasnya bertambah berat. Di tempat sebelumnya, ia sudah hapal sekali bagaimana sound musik bakal terdengar, tapi di tempat baru ia harus memulai segalaya dari awal. Tentu ini jadi tantangan baru baginya.

“Selain itu, sejak awal misi kami adalah membuat musik jazz bisa terjangkau oleh semua kalangan. Keuntungan dari kepindahan ini, ternyata kami bisa menekan harga tiket,” terang kelahiran Jakarta, 19 Agustus 1969 ini.

Selain itu, panitia menganggap, JHCC tak lagi layak dijadikan venue sebuah festival musik, lantaran tempatnya tak mampu menampung massa dalam jumlah banyak. Seperti pengalaman tahun lalu ketika Jason Mraz tampil, lebih dari 30 ribu pengunjung memadati panggung. “Jangankan untuk menikmati musik, mau jalan saja susah,” kata Eki.

Bukan Sekadar Penyanyi

Nama Eki (kerap ditulis sebagai EQ) di dunia musik Indonesia mulai dikenal di era 90-an. Bersama Rediyanto Heru Nurcahyo (Heru), Eki membentuk Humania. Duo yang terkenal dengan lagu bernuansa reggae Terserah ’ ini dinilai ‘berbeda’ di masa itu, karena berani meluncurkan album dengan genre musik funk dan groove di tengah-tengah musik melayu yang tengah merajai pasar.

Namun, perbedaan yang mereka hadirkan itu justru mampu membuat album pertama mereka meledak di pasaran. Mau tak mau, keberhasilan ini pun mereka balas dengan membuat album Sahabat Lama (1996) dan Interaksi (2000). “Setelah itu, ke mana pun saya pergi, orang mengenal saya sebagai Eki vokalis Humania. Wah, kok, sempit sekali, ya, padahal saya juga ingin mengerjakan banyak hal lain.”

Maka, setelah meluncurkan album ketiga, Eki dan Heru memutuskan untuk break dari dapur rekaman. Sementara Heru menikah dan melanjutkan studi, Eki memulai perjalanannya di dunia belakang layar. Ia menjadi produser album sejumlah musisi ternama, seperti Indra Lesmana, Jamie Aditya, Ermi Kulit dan Maliq & d’Essentials. Tak berapa lama kemudian, oleh Rini Noor (pemilik promotor Nepathya) ia dipertemukan dengan Peter F. Gontha, pria yang memprakarsai JJF.

“Buat saya, ini hal baru. Setelah memproduksi album dan event , saya diberi tanggung jawab untuk memproduksi sebuah festival. Ini level yang tinggi,” urai Eki.

Untuk menggarap JJF, lulusan jurusan TV and Film Producing di KvB Collage, Sydney, Australia, ini lalu dipasangkan dengan Paul Dankmeyer yang sudah berpengalaman selama 17 tahun menggelar North Sea Jazz Festival di Belanda. Belakangan Eki tersadar, keinginannya untuk tak sekadar dikenal sebagai penyanyi telah membawanya ke pekerjaan yang mampu memberikan pengaruh luar biasa ke dunia musik Indonesia.

JJF kini menjadi festival musik yang banyak diperbincangkan oleh musisi jazz tingkat dunia. Artis-artis dengan nama besar seperti Jason Mraz, John Legend, dan Tony Braxton tak lagi segan manggung di JJF. Bahkan Eki mengaku, banyak artis mancanegara yang mendaftarkan diri untuk tampil di hadapan penonton Indonesia. “JJF bukan hanya membawa dunia ke Indonesia, tapi juga sebaliknya, membawa Indonesia kepada dunia. Di JJF, musisi lokal dan internasional disejajarkan tarafnya. Mereka nge-jam bersama, saling menunjukkan kualitas dan saya ikut terlibat mewujudkan hal itu. Ini pekerjaan yang luar biasa.”

Tak puas mengerjakan satu festival musik, Eki saat ini juga terlibat dalam beberapa pagelaran musik tahunan lain. Ia mengotaki Urban Jazz Crossover, acara musik roadshow lima kota dimana musisi jazz berkolaborasi dengan artis dari genre musik lain. Bersama PT Java Festival Production yang melahirkan JJF, pria yang masih betah melajang ini, juga menggarap Soulnation (festival musik RnB dan soul) dan Java Rockin Land (festival musik rock).

Misi Menjadi Kader

Meski jadwalnya penuh dengan berbagai festival, Eki mengaku masih bisa menemukan celah untuk melakukan berbagai kegiatan lain yang disukainya. Tahun ini, selain akan memproduseri album terbaru Maliq & d’Essentials dan Indra Lesmana, Humania juga bakal kembali ke dapur rekaman.

Ia juga masih sanggup menjalankan Tabac, sebuah café berkonsep full musik yang dimilikinya di daerah Kemang. Jika sedang ingin, ia akan beraksi sebagai DJ di café itu. Dengan semua pekerjaan yang disandangnya, beberapa orang sampai menjulukinya ‘seniman multiguna’. “Saya enggak betah kalau hanya melakukan satu hal saja, karena banyak yang menarik minat saya. Dan buat saya, semua yang saya lakukan ini enggak seperti kerja, tapi kayak main aja . Ha ha ha.”

Eki ingin sekali menularkan ilmunya di lapangan kepada para juniornya, terutama untuk memegang kendali di JJF. Untuk menjadi sepertinya, katanya, selain memiliki kemampuan membuat event , juga harus memiliki background musik dan manajemen yang baik. Dan yang terpenting, lanjutnya, "Bagaimana agar para musisi bisa menghormati kita. Kalau musisi senior saja sudah respect , mereka akan lebih terbuka terhadap ide dan konsep kita."

Keinginan membagi pengalaman ini juga ditularkan Eki kepada anak-anak Maliq & d’Essentials. Terlebih karena dua personil band ini, Widi dan Angga, adalah keponakannya. “Saya mulai mengkader bibit-bibit baru, menularkan ilmu ke musisi-musisi baru. Ide untuk menjadi kader ini sudah ada di kepala saya sejak lama. Buat saya, ini sebuah misi,” tutupnya.
Ajeng

Dilihat : 3280 orang
  • Rating :
  • 2/5 (88 votes)
blog comments powered by Disqus