Sabtu, 5 Desember 2009
Alvin Adam: “Bohong Penonton Enggak Suka Infotainmen”
Mantan pesinetron ini punya acara bertajuk JustAlvin (JA). Di JA, artis yang anti dengan infotainmen seperti Tora Sudiro-Mieke Amalia mau blak-blakan. Siapa “target” JA selanjutnya? Mayangsari!
C eritakan cikal bakal Just Alvin!
Setelah 8,5 tahun di Metro TV, aku merasa harus ada wadah yang lebih besar dalam pekerjaanku. Sebelumnya aku sudah bawakan Showbiz On location dan Showbiz News yang masing-masing cuma berdurasi ½ jam. Dari kedua acara itu kedekatanku dengan selebriti sudah begitu dekat. Kenapa yang bisa kasih sesuatu buat masyarakat di teve (Metro TV, Red) cuma politisi atau menteri? Kenapa entertainer tidak? Banyak, kok, dari mereka yang bagus. Educated atau tidak, mereka punya sisi yang bagus buat penonton.
Lalu?
Ya, aku ke Surya Paloh (bos Metro TV). Aku bilang punya program baru. Dia bertanya kayak apa dan bisa saingi Kick Andy , enggak? Aku jawab nandingi belum bisa, mungkin someday bisa. Yang penting kasih aku kesempatan untuk membuat sesuatu yang beda. Kick Andy adalah human interest , sementara yang aku buat lebih ke public figure dan entertainment . Akhirnya Surya Paloh meluluskan aku bikin pilot -nya dan diterima.
Deg-degan, dong lihat karya perdana?
Selesai membuat episode pertama (tayang 12 Desember 2008) aku malah kabur ke Hongkong. HP aku tutup dan internet enggak aku lihat. Aku ngeri melihat JA dan juga komentarnya. Buat Metro TV yang teve news , ini acara yang light banget. Aku takut JA jadinya seperti infotainmen, meski aku yakin banget yang aku buat enggak kayak infotainmen.
Pas pulang ke Indonesia, gaung JA lumayan. Sambutan dari luar kantor baik, tapi yang jelek dari internal sendiri. Seperti pradugaku, ada yang bilang JA enggak pantas tayang di Metro, terlalu infotainmen. Enggak Metro banget, deh.
Untung aku pergi ke Hongkong, jadi enggak mikirin komentar-komentar seperti itu. Aku lihat rating teve, ternyatanya peringkat JA nomer 2 di Metro. Let’s go, aku bikin episode ke-2. Sekarang teman-teman angkat jempol untuk JA.
Bebannya berat, ya, pegang acara dengan tajuk nama sendiri?
Konseptor JA adalah aku. Kalau (acara) sudah pakai nama sendiri, itu memang harus jadi aku benaran. Otak Kick Andy adalah Andy Noya. Otak JA adalah Alvin. Kekuatan JA adalah Alvin sendiri. Nyawanya adalah Alvin. Bukannya mau ego, tapi memang aku yang harus benar-benar di situ. Aku punya tim, mereka boleh ngumpulin berbagai tema, tapi ujung-ujungnya tetap aku. Kalau Alvin bilang enggak, ya enggak.
Capek, dong?
Ya, tapi seru banget. Ini adalah ciat-citaku sejak lama. Logo dan website JA aku juga yang bikin, loh. Kebetulan aku tipe orang one man show . Aku sulit percaya sama orang lain. Maunya aku tuntaskan sendiri, walaupun dibantu tim. Salah, sih, karena enggak ada pendelegasian, tapi keuntungannya aku tahu kesalahanya ada di mana.
Anda juga terjun langsung untuk melobi artis. Bisa diceritakan?
Perjuangan di belakang layar amat luar biasa. Narasumber akan appreciate jika aku yang pertama kali menghubungi. Biasanya aku ajak mereka makan siang. Ngobrol dan mengutarakan maksudku. Aku bilang ada value lain yang didapatkan di JA.
Tapi tak sedikit yang pendekatannya lebih dari makan siang. Seperti episode Gugun Gondrong, aku sampai 3 hari ikut merawat dia di rumahnya. Pijitin kakinya, bantu dia mau buang air, dan lain-lain, agar dia ingat aku (Gugun dan Alvin pernah sama-sama menjadi cover boy sebuah majalah remaja). Tapi ternyata sulit.
Coba, apa yang membuat memori Gugun muncul? Hari ke-4 Gugun dibawa ke studio. Begitu melihat lampu-lampu dinyalakan, stimulasi otaknya bekerja. Memorinya kembali. Gugun adalah orang yang terbiasa di depan kamera. Dia baru ingat aku dan syuting bisa dilakukan. Kejadian itu membuat aku merinding dan sampai mau ikutan nangis.
Sementara untuk bertemu Reza (Artamevira) aku harus bertemu 3 pengacara dan ibunya terlebih dahulu. Hari keempat, pas bertemu Reza ternyata simple banget, hanya proses sebelumnya yang panjang.
Kalau untuk meyakinkan Maia Ahmad aku selama 5 jam nemenin dia makan rujak dan nonton infotainmen. Yuni (Shara)-Rafi (Ahmad) juga sulit, Rafinya yang lebih susah. Mike (Amalia)-Tora (Sudiro) juga enggak gampang, takut ada yang tersakiti. Anang (Hermansyah) sempat susah, sampai akhirnya setuju ketika episodenya memakai judul lagunya. Macam-macamlah tantangannya.
Memang apa yang membedakan JA dengan acara entertainmen yang lain?
Dari sekian acara dunia hiburan, rasanya enggak ada talkshow yang in depth, pure talk show seperti JA. Konsep JA adalah bagaimana agar nara sumber mendapatkan kenyamanan saat ngobrol .
Untuk itu, setting studio dibuat kondusif. Ruang duduk tak punya meja, hanya kursi doang. Set belakang berwarna enggak biasa, ungu. Selain warna favoritku, ungu kesannya elegan dan lagi tren pula. Kursi agak krem kontras dengan warna ungu.
Penonton sengaja enggak ada. Menurut saya, public figure begitu ada penonton body language -nya akan tampil beda. Itu sudah terbentuk dengan sendirinya. Mungkin mereka enggak jaim (jaga imej) ngomong , tapi posisi duduk, sikap, dan ketawa sudah berbeda, karena dituntut kelihatan keren.
Padahal aku maunya mereka santai, ngobrol dengan nyaman, ketawa lepas, atau angkat kaki seenaknya. Dari nyaman aku percaya trust akan muncul. Dari comfort zone itulah akan muncul untold story .
Betulkah JA jadi wadah buat beberapa artis untuk menjawab infotainmen?
Enggak juga. Setelah episode ke-10, aku memang mencari bintang tamu yang current (sedang ramai, Red) di infotainmen. Karena itu yang disuka penonton. Bohong penonton enggak suka infotainmen. Nah, penonton lebih suka lagi jika yang ngomong artisnya sendiri.
Dari current infotainmen itu aku saring artisnya dan ditampilkan di JA dengan elegan. Kepada artis aku bilang ini ada yang “lain” untuk ngobrol . Aku kompromi, kok. Dari awal hingga akhir JA enggak melulu ngomongin gosip. Malah kayak biografi, tapi kalau mereka mau klarifikasi aku terima.
Walaupun begitu, aku enggak mau JA ajang adu-aduan. Salah satu "nongol” lalu yang lain ingin "nongol". Sekarang banyak artis yang mengajukan diri tampil di JA.
Apa rambu-rambunya agar JA tak seperti infotainmen?
Di Metro enggak ada gosip, adanya fakta. Enggak ada “katanya”, tapi orangnya yang bicara. Kami elegan dalam bertanya, duduk, dan bersikap. Enggak ada bahasa “Lu” dan “Gue”.
Enggak menanyakan yang enggak penting. Yang jelas-jelas aja. Ada lah teknik bahasanya Metro TV. Kami ada tim yang menggodok pertanyaan. Pertanyaannya langsung saja dan lugas. Enggak nyindir dan membuat orang terpojok.
Metro sangat menjunjung tinggi value dari seseorang. Orang punya prestasi kita angkat topi.
Siapa artis yang sedang diincar?
Mayangsari. Pendekatannya sudah setengah tahun yang lalu. Kansnya sudah 90 %. Aku ingin dia enggak sendiri, tapi dengan pasangannya (Bambang Trihatmodjo). Aku juga sudah bicara dengan mantan istrinya (Halimah Agustina).
Banyak yang bisa aku angkat dari seorang Mayang. Aku akan memberi judul episode itu dengan “What’s wrong being the second wife”. Aku enggak bela Mayang, banyak, kok, wanita yang seperti itu. JA tak bela siapapun. Biarkan si nara sumber yang bicara dan penonton yang menilai.
Rencana ke depan untuk JA dan Alvin?
Mau bikin buku Just Alvin dan Showbiz and Me . Buku pertama tentang rangkuman dari JA, sedangkan Showbiz and Me buku pribadi tentang aku, pengalaman mewawancarai artis manca negara seperti Keanu Reeves, Nicholas Cage, Julia Roberts, dll. Suatu saat JA akan wawancara artis luar negeri. Michelle Yeoh dan Siti Nurhaliza sudah mau. Aku juga mau buat merchandise JA.
Kapan waktu libur Anda?
Enggak tentu. Hari libur sebagai karyawan biasanya aku pakai buat ngemsi atau mengajar (dosen). Di usia 38 tahun ini aku merasa hidup lebih tenang. Aku tahu apa yang aku mau dan bahagia bisa ngasih sesuatu buat orang lain. Rasanya senang mengajar, walaupun honor 1/5 dari ngemsi . Ha ha ha.
Ahmad Tarmizi

