Selasa, 1 Juni 2010
Alexandra-Griffit, Duo Italia di "Tanah Air Beta"
Kebetulan, keduanya punya ayah asal Italia. Bedanya, Alexandra Gottardo (25) beribu asal Malang, sedangkan Griffit Patricia (11) lahir dari ibu asal Alor (NTT). Mereka dipertemukan rumah produksi Alenia Pictures di film Tanah Air Beta (TAB) yang akan diputar pada 17 Juni nanti. Xandra berperan sebagai ibu muda bernama Tatiana dan Griffit menjadi anaknya, Merry. Struktur wajah Xandra-Merry dinilai cocok memerankan tokoh asal Timor Timur yang berkarakter Portugis itu.
Sutradara TAB, Ari Sihasale, menyebut pemeran tokoh ibu-anak itu paling sulit dicari. Sementara menurut Xandra, tokoh Tatiana adalah jodoh yang tepat buatnya. Sebab, ia hampir saja melepas tokoh itu.
"Awalnya saya juga tak menyangka dapat tawaran ini via SMS. Saya pikir SMS iseng, ternyata dari Mba Nia (Sihasale Zulkarnaen, Produser Eksekutif TAB). Setelah melewati kasting dan aku terpilih, ternyata waktunya bentrok dengan syuting sinetron stripping dan rencana pulang kampung ke Italia. Aku pikir, mungkin peran itu bukan jodoh saya, tapi ternyata syuting sinetronnya ditunda. Buru-buru aku telepon ke Mba Nia, aku bisa. Ini memang jalannya Tuhan," papar Xandra yang telah berhasil menyingkirkan artis-artis lain.
Xandra mengaku senang dengan karakter Tatiana. "Ini berbeda dengan peran-peran saya sebelumnya. Tantangannya karena saya, kan, belum menjadi ibu dan kedua, harus berakting dengan logat Timor yang sulit," ujar Xandra yang perlu berhari-hari berlatih logat Timor dengan arahan seorang dialogue coach asal Atambua.
Persoalan ia harus syuting di Atambua yang gersang dan di kamp pengungsian yang serba minus ditambah rawan penyakit, Xandra tak peduli. "Alah, saya memang suka kulit gelap. Kalau badan harus hitam dan panas-panasan saya sudah biasa. Nanti juga putih lagi," imbuhnya sambil tertawa. Asal tahu saja, Xandra adalah penggemar diving dan traveling . Bahkan saat syuting TAB di Pasir Putih, Belu, Xandra santai saja berjemur di atas pasir nan panas. Padahal kru dan pemain lain berusaha mencari tempat berteduh.
Demi menjadi Tatiana, Xandra beradaptasi hidup ala pengungsi. Ia berpakaian lusuh dan berdebu. Rambutnya kaku dan kulit mengelupas. Mengenai makanan, Xandra kesulitan mendapatkan buah-buahan dan sayuran kegemarannya. "Di sini, sayur dan buahnya kurang beragam. Yang ada sayur daun singkong melulu," kata Xandra yang di awal syuting sempat kena diare.
Selama syuting hampir sebulan di Atambua, Xandra mengaku menemukan banyak pengalaman. Selain alamnya yang eksotis dan khas, Xandra menyaksikan masyarakat lain yang kehidupannya memilukan. "Di era modern seperti ini, kok, masih ada daerah seperti itu. Tinggal hanya beralaskan tanah, beratapkan jerami, dan berdinding batang pohon kayu. Jangankan untuk memikirkan kesehatan dan pendidikan, buat hidup sehari-hari saja susah. Miris lihatnya," ungkap Xandra yang sempat menangis saat pertama kali datang ke kamp pengungsian.
Padahal, lanjut Xandra, alam Atambua sangat potensial untuk dikembangkan menjadi tempat pariwisata. "Pemandangannya berbeda. Pantainya masih asri, gunung dan tebingnya bagus, ditumbuhi pohon berkayu putih. Seksi aja kelihatannya."
Sempat Kaget
Agak berbeda dengan Xandra yang bisa menikmati keadaan, Griffit sempat kaget ketika tiba di lokasi syuting. "Aku bukannya enggak pernah ke NTT. Di Alor asal mamaku, tempatnya rindang dan adem, tapi di Atambua gersang banget, pohonnya enggak ada hijau-hijaunya," kata Griffit yang sempat sakit setelah pulang syuting.
Menurut Griffit, hal yang terberat selama syuting adalah menahan rindu untuk bertemu keluarganya di Jakarta . "Aku sebetulnya enggak kuat ninggalin Jakarta."
Secara terus terang bocah yang baru lulus SD ini pun mengatakan. "Aku merasa enggak punya bakat berakting. Awalnya aku main film untuk mencari pengalaman," lanjut Griffit yang sebelumnya hanya berakting di beberapa iklan saja. Ia ditemukan untuk menjadi Merry saat salah seorang kru TBA melakukan kasting di sekolahnya.
Akting terberat sebagai Merry, kata Griffit, adalah ketika ia harus bermuka murung dan khawatir. "Tapi sampai sekarang aku merasa aktingku masih kurang. Pengin, deh, lihat filmnya." Griffit lebih suka kelak menjadi astronot atau ilmuwan. "Sebagai ilmuwan aku bisa membantu dunia menjadi lebih baik dengan penemuanku," tuturnya.
Sebaliknya, Xandra mengaku tak kesulitan bersenyawa dengan Griffit. "Aku suka anak kecil dan sepupuku juga masih kecil. Alamiah saja pendekatanku dengan Griffit. Setelah reading , aku mengajak dia ngobrol dan makan bareng." Hanya saja, sambung Xandra, bagi pendatang baru seperti Griffit, syuting di Atambua memang termasuk berat. "Kehidupan di Atambua bukan kehidupan Griffit sebagai anak Jakarta. Untuk pertama kalinya dia dibawa ke Atambua dan dibiasakan untuk menjadi Merry, anak pengungsi di sana. Dia tentu kaget dan perlu adaptasi."
Wajarlah, lanjut Xandra, jika di lokasi syuting Griffit selalu diajari agar selalu berkonsentrasi pada perannya. "Mood Griffit up and down . Kadang bagus, kadang agak susah, sehingga beberapa kali diingatkan agar aktingnya tidak lepas dari karakternya."
Kendati demikian, Xandra melihat Griffit punya potensi asal ia mau menggali kemampuanya berakting. "Maklum, ini pengalaman pertama buatnya. Kalau mau serius, dia harus terus belajar. Tapi anak sekarang, kan, pintar, dia tahu apa yang dia mau."
Alhasil, duo Xandra-Griffit kini penasaran ingin menonton TAB. "Saya deg-degan dengan hasilnya. Pengin tahu bagaimana tanggapan penonton nanti, menang atau enggak di festival (film)," seru Xandra dengan tawa berderai.
Ahmad Tarmizi

