Membership
Lupa password?
Album Selebriti

Vega Darwanti (2): Gadis Ndeso Membawa Berkah
Sabtu, 21 November 2009
Vega Darwanti (Adri)

Vega Darwanty (Foto: Adrianus Adrianto)

Setelah menjalani berbagai kasting, sampailah aku mengikuti kasting di program Empat Mata (EM). Aku dikasting sebagi waitress (pelayan restoran) yang membantu Mas Tukul Arwana. Karena yakin aku menjalaninya dengan semangat. Masa, sih, berperan sebagai waitress saja enggak bisa, apalagi enggak perlu tampil cantik. Aku pun tampil maksimal berkat dukungan dari orang-orang terdekat, tidak hanya berdoa, tapi juga berusaha. Tugasku di acara itu hanya mengantarkan minum. Namun, aku tidak hanya tampil biasa saja, aku berusaha centil dan banyak omong.

Pertama tampil, sih, syukurnya aku enggak grogi karena biasa menjadi vokalis band. Apalagi yang banyak bicara Mas Tukul, aku sesekali saja nyeletuk. Pertama tampil, rambutku pirang kayak bule. Lalu, Mas Tukul suka dibercandai ndeso, katro, eh akupun dipanggil dengan nama Ngatini, karangannya Mas Tukul. Ternyata nama itu membawa berkah, sebuah perusahaan jamu terkenal memilih aku menjadi bintang iklannya. Bahkan sudah 3 tahun ini aku masih dipakai menjadi bintang iklan. Katanya, sih, aku dipilih karena polos dan energik.

Kembali ke acara EM, lama-lama aku penasaran melihat Mas Tukul yang pintar memberikan lawakan-lawakan segar. Jadi aku pengen mengimbangi dia. Untungnya, Mas Tukul banyak membantu. Lama-lama aku bukan sekadar menjadi waitress saja, yang hanya mengantarkan minuman, Mas Tukul suka ngeledekin, lalu aku tanggapi. Ternyata dari sana munculah kelucuan-kelucuan yang membuat pemirsa senang. Rupanya acara tersebut makin disenangi pemirsa hingga bertahan sampai 3 tahun ini. Peran aku tidak hanya menjadi waitress tapi sudah berganti menjadi co-host, istilahnya. Sebenarnya dulu juga aku sempat tampil berdua dengan temanku. Mungkin karena aku banyak ngomong sementara temanku lebih diam, akhirnya aku terpilih sampai saat ini mendampingi Mas Tukul. Semua memang sudah jalannya dan rezeki dari Allah.

Banyak sekali pengalaman berharga yang aku dapatkan dari acara ini, baik itu mengesankan atau menyedihkan. Dari aku yang enggak bisa apa-apa, bisa bikin orang ketawa, ibaratnya kalau parfum, baunya tuh sekarang sudah nempel di hati para pelawak. Hahaha. Aku juga belajar tepat waktu, karena kalau melihat bintang tamu yang telat datang, rasanya enggak enak bagi kami yang menunggu kedatangan dia. Aku mendapatkan pengalaman yang berbeda setiap kali mengenali pengisi acara.
Pengalaman yang paling mengesankan saat merayakan Hari Pers dimana kami syuting di Senayan dihadiri Presiden SBY. Aku bangga banget bisa bersalaman dengan Bapak dan Ibu SBY, Menteri, dan beberapa pejabat penting lain. Tidak terbayang sama sekali, aku bisa berhadapan langsung dengan mereka. Tentu saja kami harus melakukan persiapan khusus, bayangkan bertemu dengan orang nomor 1 di Indonesia. Ada, sih, rasa groginya, tapi, kan, acara harus berjalan terus. Ternyata bukan aku saja yang grogi, yang lebih pengalaman dari aku pun merasakan hal sama. Ya, takut-takut salah bicara, kan, bisa bikin enggak enak hati.

Nah, soal bicara yang salah, aku juga pernah mengalami peristiwa yang kurang mengenakkan, ketika EM harus berganti nama menjadi Bukan Empat Mata (BEM). Waktu itu, acara ini diskors tidak boleh tayang sama sekali, akhirnya boleh seminggu sekali, sampai sekarang kembali tayang tiap Senin-Jumat. Padahal, sebenarnya kesalahan bukan dari kami, tapi dari pengisi acara. Aku ikut prihatin dengan kejadian ini. Aku hanya bisa pasrah dan kecewa. Untungnya aku masih mengisi tayangan lain seperti Selebritis Up Date, atau acara-acara off air. Memang, sih, kalau bercanda di teve akan berbeda saat di luar acara. Akhirnya kami bisa berdiri lagi. Kan, katanya begitu, kalau mau merasakan kesempurnaan harus jatuh dulu. Pokoknya harus sabar, deh, menghadapi ujian. Di balik semua itu, aku selalu bersyukur dengan apa yang telah aku terima. Kalau Allah sudah mau kasih rezeki dan jalan, siapa yang bisa mencegah, Dia akan memberi lewat jalan apapun yang enggak pernah diduga.

Dampak Kesuksesan
Selain acara teve, aku dan Mas Tukul suka ketemu di acara off air. Dampak dari kesuksesan acara itu memang banyak, salah satunya banyak panggilan acara off air yang pendapatannya lebih besar. Tidak ada kesulitan mengimbangi lawakan Mas Tukul. Paling tidak saat ini sudah kebangun chemistrynya. Kalau Mas Tukul ngelawak begini jawabnya begini. Aku banyak dan mulai belajar. Artinya, aku enggak boleh hanya siap berhadapan dengan Mas Tukul saja, tapi juga pelawak lain yang punya ciri khas masing-masing. Tiap kali aku jadi bintang tamu dan bertemu dengan pelawak lain, aku harus belajar bagaimana menjawabnya.

Mas Tukul juga banyak memberikan nasihat padaku. Kalau bercanda jangan maunya sendiri tapi harus disaring dulu. Tidak boleh sampai melecehkan orang lain, bersikap sombong, jangan menyinggung suku, agama. Aku harus memikirkan bagaimana kalau mereka tidak suka dengan celetukan yang aku lontarkan. Mas Tukul juga banyak memberikan contoh, bagaimana gaya temannya melawak tapi menyakitkan hati orang tersebut. Maksudnya tak lain agar aku tidak mencontoh gaya lawakan seperti itu.
Pelawak itu, kan, enggak ada sekolahnya. Jadi, aku belajar dari keseharian saja, misalnya di rumah ada joke apa, lalu aku pakai sebagai bahan lawakan. Selain lawak, aku juga pernah main sinetron di stasiun teve lain. Hanya saja karena jadwal syuting BEM dari Senin-Jumat, lalu Sabtu Minggu ada acara off air akhirnya aku ambil yang waktunya sebentar saja. Tawaran lain aku tahan dulu, nanti kalau ada waktu senggang saja. Memang honor di teve lebih sedikit dibanding off air. Tapi kalau di teve wajah dan nama kita banyak dikenal orang.

Jika ditanya bagaimana senang dan sedihnya kerja di dunia entertainment, kerja dimana saja sebenarnya ada senang dan sedih. Bedanya, di dunia entertainment memberikan hiburan ke semua orang, pekerjaan aku berbaur dengan humor dan lucu. Tapi yang sulit adalah saat membohongi diri sendiri, jika kondisi badan sudah cape, bête, mau enggak mau kepengaruh dengan wajah kita. Tapi di sisi lain, kita harus tampil dengan wajah ceria dan tertawa, jadi harus profesional tetap tersenyum. Agar tidak ketinggalan dengan orang lain, aku harus update dan belajar terus. Mencari lawakan baru yang segar dan lucu.
Rasa jenuh pasti pernah dialami setiap orang termasuk aku, apalagi acara yang aku bawakan ini sudah berjalan selama 3 tahun. Namun, kalau aku mengeluh berarti tidak bersyukur terhadap apa yang diberikan Allah. Bayangkan, sudah dikasih Allah acara stripping, kenapa harus mengeluh. Lebih baik dikerjakan dengan ikhlas dan senang, pasti tidak akan bosan. Sementara orang lain masih harus mencari kerja, sementara aku sendiri hanya cape bekerja kenapa harus jenuh. Jadi, kalau mau berangkat kerja ada rasa kantuk, harus dilawan dan ikhlas menjalaninya. Seterusnya tidak akan merasa jenuh lagi.

Yang paling aku ingat dan lucu, pertama kali tampil di EM aku norak banget foto-fotoan dengan artis yang tampil. Siapa yang tidak bangga dan senang bisa bertemu langsung dengan mereka. Kalau orang lain susah, sementara aku bisa bertemu langsung tanpa kesulitan. Bayangkan dalam sehari bisa ketemu dengan 4-5 artis. Tapi, bukannya sombong atau apa, sekarang sudah mulai berkurang karena bisa beberapa kali aku bertemu artis yang sama. Pekerjaan ini memang aku sukai hingga menjalaninya dengan hati senang. Rasanya pun, lain, lho, terasa lebih nikmat.

Selain acara BEM, sudah 3 bulan ini aku menjadi presenter Espresso antv. Kalau di sini agak berbeda, aku harus mengeluarkan lebih banyak perbendaharaan kata. Tidak banyak kesulitan yang aku temui, karena sebelumnya aku pernah membawakan acara gosip juga. Yang penting, tahu poinnya apa, lalu dikembangkan lagi. Pembawaan aku meski agak kalem tapi harus banyak bertanya juga pada nara sumbernya.

Berkah Dapat Jodoh
Berkat acara BEM pula, aku mendapatkan berkah lain, bertemu dengan suami, Dema Sany Sanjaya ketika sedang syuting. Dema adalah sahabat Peppy, yang pernah mengisi acara EM. Rupanya Dema tidak main-main, serius mendekati aku dan mengajak menikah. Dia adalah seorang dokter, tapi aku bukan melihat dari sisi dokternya ya. Selain karena pengen menikah muda, aku juga menyukai sosok dia yang baik. Aku bisa merasakan, kok, bagaimana memiliki pasangan yang seirama dengan aku. Selain itu, orangnya dewasa, meski beda 10 tahun dengan aku tidak menjadi masalah. Dari sisi pekerjaan, dia memang sudah mapan, ya sudah mau apa lagi. Yang tersulit saat ini mempertahankan hal-hal yang baik, kan.

Setelah melalui proses pacaran dulu, akhirnya kami menikah Minggu, 1 Maret 2009. Bagiku Dema adalah sosok yang sudah tepat. Aku enggak boleh bilang, karierku yang lagi naik bakal menurun kalau menikah. Yang namanya rezeki datangnya dari Allah, bukan berdasarkan masalah tersebut. Menikah adalah untuk masa depan aku juga. Aku bilang pada suami, “Kalau sudah menikah aku ingin terus bekerja.” Ternyata suami mengizinkan, tentu saja aku senang. Buktinya aku masih syuting sampai sekarang. Tentu saja ada aktivitas yang agak dikurangi agar aku tidak terlalu cape. Aku, kan, lagi hamil 5 bulan. Memang, sih, tadinya pengen menunda dulu kehamilan, paling tidak setahun. Eh, ternyata diberi rezeki Allah, tiga bulan setelah menikah aku hamil. Syukur banget, kehamilan ini baik banget, enggak ngidam atau mual.

Banyak sudah yang aku peroleh dari keberhasilan ini. Seperti kesempatan bisa tampil di teve menghibur penonton, kenal dengan artis-artis di dunia entertainment, banyak pengetahuan yang aku peroleh, relasi, banyak hal-hal yang sebelumnya belum aku tahu jadi tahu. Tapi kalau dari segi financial enggak usah disebutkanlah, pokoknya apa yang aku lakukan sudah kelihatan hasilnya. Mobil, rumah, memang sudah aku miliki. Berhubung suami sering kerja di luar kota, aku masih tinggal bersama Mama. Apalagi kondisi aku lagi hamil enggak mungkin tinggal sendirian. Nah, disinilah kesempatan aku mengajak keluarga bersenang-senang dan menghibur mereka.

Merasa puas? Di dalam agama, kan, enggak boleh cepat merasa puas, aku pengen berkarier terus karena masih banyak rencana yang aku inginkan. Aku tidak mau berhenti begitu saja. Kebetulan aku punya suami yang profesinya dokter, mungkin bikin usaha yang enggak jauh dari itu. Pokoknya tetap berusaha, deh. Sebenarnya aku pengen jadi guru, entah itu mengajar anak kecil atau apa saja. Aku sangat menyukai anak kecil dan dunianya. Nanti setelah melahirkan pengen sekolah lagi, karena cita-cita, kan, harus digantung setinggi langit. Aku melihat antara aku dan suamiku berbeda jauh banget. Suamiku itu termasuk yang haus ilmu, dia pengen sekolah lagi ambil spesialis. Sebagai istri, aku harus mengimbangi.
Noverita K. Waldan/Tamat

Views : 20587

blog comments powered by Disqus

Baca Juga

Vega Darwanti (1): Pakai Wig & Dandan Menor Di Metromini

Vega Darwanti (1): Pakai Wig & Dandan Menor Di Metromini

Read More »
Choky Sitohang (3): Rajin Merintis Bisnis

Choky Sitohang (3): Rajin Merintis Bisnis

Read More »