Membership
Lupa password?
Album Selebriti

Mamah Dedeh (2): Anak Bedug Jadi Istri Anak Kiai
Kamis, 24 September 2009
Mama Dedeh (Fadil)

Mama Dedeh (Foto: Ahmad Fadillah)

Kesibukan di rumah untuk membantu orangtua berganti dengan kesibukan kuliah. Di kampus, Mamah Dedeh bertemu jodohnya. Jadwal dakwahnya pun makin padat.

Dari semua pekerjaan yang terbiasa sejak kecil kulakukan untuk membantu kedua orangtua, tak ada yang tak kusukai. Semuanya aku suka, dan semuanya harus kukerjakan dengan sebaik-baiknya. Aku tidak merasa hidupku keras, makanya aku sama sekali tidak mengeluh. Sebab, itulah dunia keluarga kami. Jangan dikira aku tidak punya waktu untuk main bersama teman-temanku, lho.

Sore hari, biasanya kami bermain di pinggir kali atau berenang, dan ke empang. Khas anak kampung, ya? Maklum, pada waktu itu belum ada teve. Yang ada hanya radio. Biasanya, setiap rumah memiliki sebuah radio. Kalau Bapak mendengarkan siaran berita, kami anak-anaknya juga ikut mendengarkan. Di kampung kami juga belum ada listrik.

Jadi, penerangan di rumah saat malam hari dan waktu belajar hanya mengandalkan lampu minyak tanah. Oh ya, sebetulnya aku juga suka melukis. Aku malah ingin jadi pelukis. Sayang, Bapak enggak setuju pada cita-citaku itu. Lulus SD, aku bersekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA) selama enam tahun. Mungkin memang sudah jadi jalan hidupku untuk selalu berada di dunia keagamaan, ya.

Lagipula, kedua orangtuaku sejak dulu juga berdakwah, dan sejak kecil anak-anaknya terbiasa mengajar mengaji dan ceramah. Karena itu pula, kami mendapat julukan anak bedug, karena mengaji kan, identik dengan masjid. Sambil bersekolah, semua pekerjaan sejak SD itu tetap kujalani. Aku baru berhenti melakukannya ketika meninggalkan Ciamis setelah lulus PGA tahun 1968 untuk kuliah.

Aku mendalami ilmu agama di IAIN yang kini bernama UIN Syarief Hidayatullah di Ciputat, Jakarta. Aku kuliah di situ karena mengikut jejak sepupuku. Di Ciputat, aku tinggal di asrama putri. Keseharianku yang selalu sibuk di rumah tergantikan dengan kesibukan baru. Kalau sedang tak ada kuliah, aku sering menjahit bajuku sendiri. Maklum, waktu itu baju-baju jadi yang dijual tidak sebanyak sekarang.

Menikah Saat Kuliah

Kesibukanku di kampus juga ditambah dengan berdakwah ke daerah-daerah lain di Jakarta seminggu sekali, antara lain ke Pondok Cabe dan Cirendeu. Bergantian dengan teman-temanku, aku berdakwah dari satu RW ke RW lain. Terkadang kami pergi bertiga, berempat atau berlima. Untuk soal berdakwah ini, aku tidak canggung lagi.

Toh, aku sudah terbiasa melakukannya sejak SD. Teman-temanku pun sebagian adalah anak bedug. Sementara itu, kuliahku di kampus terus berjalan. Saat semester satu kuliah itulah, untuk pertama kalinya aku bertemu Syarifuddin, kakak kelasku di kampus. Saat itu, ia yang terpaut usia 6-7 tahun dariku, hampir lulus kuliah. Karena sering bertemu, akhirnya kami saling kenal.

Lama-kelamaan, tumbuh rasa suka di hati kami. Aku sendiri menyukainya karena dia orang yang baik dan karena ia anak kiai. Dalam pikiranku, sejelek-jeleknya anak kiai, pasti orangnya baik. Ha ha ha. Ternyata dugaanku tidak meleset, lho. Kami lalu pacaran. Eit, jangan membayangkan pacaran ala anak muda sekarang yang intensif bertemu, ya.

Kami berpacaran lewat surat, tiap 1-2 minggu sekali. Bertemu pun untuk bertukar surat. Deg-degan juga sih, waktu ketemu, namanya juga sedang jatuh cinta. Mungkin sudah kehendak Allah, daripada pacaran, akhirnya kami sepakat untuk menikah pada tahun 1970. Waktu itu, aku akan naik ke tingkat tiga. Kami menikah secara sederhana, tidak dirayakan.

Setelah menikah, aku kembali ke kampus untuk meneruskan kuliah. Tinggal juga tetap di asrama kampus. Seminggu sekali, setiap Sabtu siang, aku dijemput suami untuk pulang ke rumah orangtuanya di Tanah Abang. Tiap kali pulang ke rumah mertua, aku membantu melakukan pekerjaan rumah tangga, termasuk menyiram tanaman, menyapu dan sebagainya. Senin Subuh, barulah aku diantarkan kembali ke asrama.

Pindah Rumah

Menikah sambil kuliah tidaklah sulit bagiku, karena aku menjalaninya dengan senang hati. Empat tahun setelah menikah, yaitu tahun 1974, aku melahirkan anak pertama. Waktu itu, aku sudah lulus kuliah dan pulang ke rumah mertuaku. Lima tahun kemudian, setelah punya dua anak, aku dan keluarga kecilku pindah ke Depok, tempat tinggalku sekarang. Di sini, aku melahirkan dua anak lagi.

Karena dulunya terbiasa hidup di kampung dan terbiasa bekerja, mengurus anak-anak tidaklah masalah buatku. Hidup, kan, seperti roda berputar. Sekarang mengurus hal ini, waktu berikutnya mengurus hal lain. Aku yakin, kalau semua dinikmati dan dikerjakan secara ikhlas, tidak akan ada beban atau masalah.

Berkebalikan dengan kedua orangtuaku dulu, keempat anakku semuanya laki-laki, kecuali anak keduaku yang perempuan. Dalam mendidik anak, aku tidak bisa meniru kedua orangtuaku secara persis. Apalagi, aku dan suami tidak punya sawah atau empang. Soal disiplin, aku juga tidak bisa terlalu ketat seperti kedua orangtuaku dulu, karena zaman sudah berubah.

Namun, aku bersyukur kami berhasil mendidik anak-anakku dengan baik. Sekarang, semua anakku tinggal di Depok, kecuali anak ketiga yang tinggal di Ciamis untuk meneruskan usaha orangtuaku. Meski sudah menikah dan punya anak, kegiatan dakwahku sejak SD tak pernah berhenti. Malah, semakin hari makin luas cakupan wilayahnya.

Setelah menikah, selain berdakwah di Ciputat, aku juga mengajar mengaji di Tanah Abang, mengikuti kegiatan keluarga suami. Setelah pindah ke Depok, semakin luas pergaulanku, dan makin banyak tempatku berdakwah. Bertemu dengan teman di daerah A, misalnya, aku diajak mengajar mengaji di situ. Bertemu teman di daerah B, juga begitu. Oh ya, kakak-adikku sendiri sampai sekarang juga menjadi guru mengaji.

Diundang Menteri

Sejak tahun 1980, aku dan temanku yang juga pendakwah punya ratusan anak asuh. Kami membiayai sekolah mereka, mulai dari siswa SD sampai SMA. Salah satu dari anak asuhku itu ada yang jadi penyiar di Bens Radio milik almarhum Benyamin S. Tahun 1994, kebetulan Benyamin sedang mencari pendakwah perempuan. Anak asuhku itu menyodorkan namaku.

Setelah ditawari Bens Radio, mulailah aku berdakwah lewat radio di acara Ngaji sampai sekarang. Dari situlah Indosiar mengenal namaku sebagai pendakwah dan menawariku untuk mengisi acara di sana. Sejak tiga tahun lalu, aku mengisi acara di Indosiar yang kini berjudul Mamah dan Aa’ . Selain itu, aku juga memenuhi undangan dakwah ke hampir seluruh kota di Indonesia.

Kalau dulu dalam sehari aku bisa berdakwah di 5-6 tempat, sekarang karena faktor usia, hanya di 3-4 tempat. Yang mengundangku dari berbagai kalangan, mulai dari kelompok pengajian, gubernur, sampai menteri. Biasanya, sebelum Mia, anakku menikah, dia yang menemaniku keluar kota dan mengatur jadwalnya. Sekarang kalau keluar kota aku ditemani saudara. Suamiku sendiri sudah meninggal sejak tujuh tahun lalu, karena sakit komplikasi.

Ketika aku berdakwah, banyak orang bertanya dan curhat mengenai persoalan hidup mereka, sambil meminta solusi. Dari situ aku bisa membandingkan, meski aku juga punya masalah hidup layaknya seorang manusia, masalah yang kuhadapi jauh lebih ringan dibanding mereka. Jadi, aku syukuri saja masalahku. Aku percaya, barang siapa yang bertakwa akan selalu ada jalan keluar untuk setiap masalahnya.

HASUNA DAYLAILATU

Views : 17421

blog comments powered by Disqus

Baca Juga

Mamah Dedeh (1): Jadi "Mandor" Sejak SD

Mamah Dedeh (1): Jadi "Mandor" Sejak SD

Read More »
Abdel (1): Jual Petasan Untuk Bekal Lebaran

Abdel (1): Jual Petasan Untuk Bekal Lebaran

Read More »