Jumat, 25 Desember 2009
Lies Adang (3): "Plong" Dipuji Ratu Hemas
Akhirnya Lies Adang dipanggil ke Keraton. Ia pun dipercaya merias putri Raja Yogyakarta. Cita-cita sebagai perias yang mampu menembus tembok Keraton pun kesampaian. Nah, setelah harapan itu jadi kenyataan, kini Lies berharap bisa merias anak presiden.
Nyaris semua perias pengantin Jawa, punya mimpi besar, bisa merias putra-putri raja. Karena itu jadi puncak karier seorang perias. Sebab Keraton adalah sumber kebudayaan Jawa termasuk rias pengantin. Jadi wajar-wajar saja semua orang punya mimpi itu. termasuk aku. Dulu, Mama selalu mengajari aku bagaimana berdoa sebelum merias pengantin. Juga berdoa untuk meraih cita-cita.
Benar saja, Februari tahun lalu, aku dipanggil permaisuri Sultan HB X, GKR Hemas, ke Keraton Kilen. Hari itu, GKR Hemas memberitahukan bahwa putrinya yang nomor tiga, GRAj Nurkamnari Dewi hendak dinikahkan. Aku diamanahi untuk merias. Tak satu pun kalimat tanya berani kuutarakan, kenapa kali ini aku yang dipilih. Jadi, aku hanya bisa sendika dhawuh saja (mengiyakan saja). Waktu itu, GKR Hemas juga menanyakan apa merek bedakku. Ternyata merek yang biasa aku gunakan untuk merias disetujui.
Sebenarnya, beberapa bulan sebelumnya, aku pernah berjumpa dengan GKR Hemas. Ketika itu aku tengah merias cucu mendiang KGPAA Paku Alam VIII. (Ini sekaligus ralat ceritaku di awal yang tertulis, merias putra-putra mendiang Paku Alam VIII. Yang benar merias cucu PA VIII). Nah, saat itulah GKR Hemas bilang hendak mantu . Aku ditunjuk untuk merias. Aku pikir GKR Hemas tidak serius. Meski sangat berharap, aku tidak berani mengungkapkan pada siapa pun. Tapi makin rajin berdoa, semoga semua jadi kenyataan. Ternyata doaku terkabul. Usai merias putri GRAj Dewi, aku menghadap GKR Hemas lagi. Beliau bilang, kerjaku bagus. Plong ! Aku pun lega. Selain merias putri Keraton, aku juga senang mendapat amanah merias putra-putra mendiang KGPAA Paku Alam VIII. Nah, pekan lalu, aku juga diminta seorang pengusaha yang putrinya disunting oleh putra KGPAA Paku Alam IX, penguasa Puro Pakualaman, Yogyakarta saat ini.
Puasa Senin Kamis
Orang selalu beranggapan, perias pengantin yang baik adalah yang mampu membuat mempelai perempuan tampil manglingi . Itu benar. Tetapi bukan berarti harus kehilangan karakter aslinya. Melainkan harus mampu mengeksplore kecantikan orang yang diriasnya menjadi lebih cantik dari aslinya.
Karena itu, sebelum merias pengantin aku selalu memandangi wajah calon pengantin itu beberapa saat. Terutama ketika akan dirias. Kecantikan asli calon mempelai perempuan, biasanya akan terlihat kala habis mandi dan rambutnya diikat satu ke belakang. Itu saat tepat mengeksplore wajah calon mempelai. Setelah tahu titik kelebihan dan kekurangan wajah pengantin, aku berdoa dan memulai merias. Biasanya, aku puasa rutin Senin-Kamis saja.
Apa aktivitasku di luar kegiatan merias? Pastinya bersantai dengan suami dan anak-anak. Tapi saat ini anak bungsuku sedang di Taiwan, menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Sedangkan si sulung bekerja di Bakrieland, di Jakarta. Praktis, aku hanya berdua dengan suami. Makanya, kalau usai merias, aku harus segera pulang. Habis biasanya pesta pernikahan kan, jatuh hari Sabtu atau Minggu. Kasihan bila suami terlalu lama menungguku di rumah.
Suami yang dulu kurang setuju aku menjadi perias pengantin, kini justru sering membantu pekerjaanku. Ceritanya, selain merias, aku punya usaha dekorasi untuk pengantin. Nah, kalau pesta nikahnya di rumah, konsep dekorasinya harus didesain dulu. Berhubung aku enggak bisa menggambar, mau enggak mau aku merengek pada suami agar membuatkan konsepnya.
Oh, ya, di saat ada waktu luang, aku juga senang berkumpul dengan teman lama semasa SMP dan SMA. Travelling pun aku suka. Berkegiatan sosial juga aku lakukan.
Aku juga meneruskan kegiatan Mama di Majelis Taklim YASMIN. Sebuah kelompok pengajian terbesar di Yogyakarta. Mama, adalah salah satu pendiri YASMIN. Saat ini, aku menjadi salah satu pengurus di kelompok pengajian yang penuh kegiatan sosial itu.
Singkatnya, selain memperluas pergaulan, aku juga masih meneruskan ajang silaturahmi dengan teman-teman Mama, agar jaringan relasi dan karierku berkembang terus.
Nah, apalagi mimpi besarku? Meski tak berani berharap terlalu besar, jujur, aku ingin seperti Mama. Bisa merias putra-putri presiden! Hm...bisa terwujud enggak, ya? Mohon doa saja, deh.
Rini Sulistyati (TAMAT)

