Minggu, 20 Desember 2009

Lies Adang (2): Asah Kemampuan, Vakum 6 Tahun!

Lies Adang (Foto: Rini Sulistyati)

Lies tak hanya kehilangan ibunya. Calon pelanggannnya juga mulai mundur teratur. Mereka belum percaya pada kemampuan Lies merias. Makanya, ia membuktikan diri lewat beragam lomba.

Aku begitu syok ketika Mama meninggal mendadak. Di usia 40-an tahun, Mama masih dalam kondisi fit. Mama tidak pernah menampakkan gejala sakit serius. Kala itu, Mama tengah banyak-banyaknya order merias. Jadi dugaanku, Mama meninggal karena kecapekan.

Mama tipe pekerja keras. Padahal, untuk soal ekonomi, Papa sudah memberi lebih dari cukup. Tapi itulah suratan takdir. Mama meninggalkan kami di saat ilmunya belum seratus persen diwariskan kepadaku.

Tapi yang membuatku bangga, sebelum Mama meninggal, aku sudah berhasil menunjukkan prestasiku di bidang tata rias-pengantin. Mama sempat menyaksikan aku keluar sebagai juara dua tingkat propinsi. Juara pertamanya, penata rias seangkatan Mama.

Sayangnya, sepeninggal Mama, jasaku merias pengantin belum laku dijual. Setiap orang yang datang ke rumah sedianya minta dirias, begitu melihat penampilanku yang masih belia, mundur teratur. Kala itu umurku sekitar 21 tahun. Mungkin, mereka tidak percaya pada kemampuanku. Hal itu berlangsung hingga enam tahunan.

Berguru Pada “Suhu”

Praktis, semua warisan Mama, mulai dari perlengkapan rias hingga baju-baju pengantin menganggur. Padahal, perlengkapan dan baju-baju pengantin itu harganya mahal. Baru dipakai dua tiga kali. Semua barang peninggalan Mama tak termanfaatkan lantaran busana pengantin plus aksesorinya, mengikuti tren. Pengrajin aksesori pengantin, kan, pintar membuat model-model baru.

Meski tidak ada calon pengantin datang, aku tidak patah semangat. Kekosongan itu aku pergunakan untuk mendalami ilmu rias Paes Ageng pada ahlinya, Ibu Marmien Sarjono. Setelah Mama meninggal, nyaris tiap hari Bu Marmien telepon, menanyakan kapan akan kursus Paes Ageng. Beliau merasa ketitipan amanah Mama.

Paes Ageng itu model riasan pengantin yang garis paesannya di kening dibingkai dengan prada/warna emas. Kainnya menggunakan dodot/kemben. Busana kebesaran ini biasa dikenakan pengantin di kraton.

Selain belajar rias pengantin, aku juga mencurahkan perhatian untuk mengurus suami dan anak-anak. Tentu saja suami senang, aku bisa mencurahkan banyak perhatian untuk perkembangan kedua anakku.

Untuk membuktikan kemampuanku di bidang tata rias pengantin, aku rajin ikut lomba kecantikan dan tata rias pengantin. Aku sudah bertekad ingin melanjutkan karier Mama. Puncak prestasiku di bidang lomba, terjadi ketika aku menyabet juara di tingkat nasional. Mungkin begitulah jalan karierku.

Belum Berani Pasang Tarif

Prestasiku di ajang lomba terdengar hingga ke telinga tetangga dari kampung seberang rumah yang akan menikah. Dia meminta jasaku merias. Nah, mulai dari sanalah karyaku dibicarakan orang. Dari satu pelanggan mengalir ke pelanggan berikutnya. Seperti ada yang mengatur, promosi gratis dari mulut ke mulut pun terjadi begitu saja.

Sebagai perias pemula, aku tidak berani pasang tarif. Biasanya hanya minta ganti untuk membeli bunga. Atau bila yang meminta tetangga atau kenalan sendiri, aku hanya minta uang untuk membayar para asistenku yang kala itu masih freelance .

Lama-kelamaan, karena terus saja ada permintaan merias, aku berani pasang tarif meski kelasnya jauh dari perias seangkatan Mama yang masih banyak eksis hingga kini.

Anehnya, beberapa teman Mama justru meminta jasaku merias anaknya. Aku bangga sekali. Artinya, beliau-beliau yang ahli merias itu, kan, menilai hasil kerjaku bagus.

Aku baru berani pasang tarif penuh bila orang jauh yang datang. Tarifnya, sewajarnya saja. Berat, lho menjadi perias pengantin di tingkat pemula. Kerja sendirian tanpa asisten tetap.

Bayangkan saja, untuk merias pengantin yang akan akad nikah di pagi hari, aku harus bangun pukul tiga dini hari untuk menyiapkan perlengkapan, mulai dari peniti hingga bunga melati. Setelah itu mempercantik diri. Jam lima berangkat ke rumah pemilik hajat. Usai akad nikah, hanya istirahat dua jam. Setelah itu berangkat lagi merias untuk acara resepsi.

Tangisan Bahagia

Setiap kali merias, aku selalu mengenakan kain panjang. Setelah selesai merias, aku ganti kain jarit dan kebaya, karena pada saat upacara panggih, aku harus memandu upacara adat di depan banyak tamu.

Mungkin, dari sekian tamu itu melihat hasil riasan dan bagaimana aku memandu upacara adat. Sehingga, sekian waktu berlalu, orang mulai datang padaku. Misalnya, merias putri Walikota Yogya, cucu-cucu Sri Paduka Paku Alam VIII. Beberapa pejabat penting dari luar propinsi waktu mantu putra-putrinya juga meminta jasaku. Misalnya, Kapolda, Wakil Gubernur dan pengusaha lainnya.

Semua pelanggan tidak boleh dikecewakan. Itu sebabnya, aku harus ekstra kerja keras. Betapapun pekerjaan di luar propinsi seringkali lebih melelahkan dalam hal persiapan, pelaksanaan hingga sesudahnya. Banyak properti harus kubawa demi kelancaran sebuah perhelatan pernikahan.

Prinsip kerjaku, semua yang datang ke rumah, tidak ada yang kubeda-bedakan. Aku tidak mau pasang tarif mahal. Wajar saja. Semua customer aku beri tarif yang sama.

Jangan salah, lho, seringkali orang-orang berada, saat datang ke rumahku, penampilannya justru sangat low profile . Setelah aku datang ke rumahnya, baru tahu siapa dan apa pekerjaan serta jabatan tamuku yang sebenarnya. Itu semua lantaran aku tidak tahu, ketika mereka datang ke rumahku, berjalan kaki, naik becak, atau naik mobil.

Meski sekarang berani pasang tarif, aku juga masih memberikan pengecualian. Misalnya, tamuku mengatakan, hanya punya uang sekian, tidak sampai ke tarif yang aku sodorkan. Maka, aku memberikan dispensasi. Bukankah, aku juga harus berpikir soal akhirat? Aku juga ingin mendapat pahala dengan jalan menolong orang.

Sekarang, pada bulan “baik” atau musim pernikahan, aku nyaris tidak ada waktu sela. Kadang aku terharu. Mensyukuri warisan, ilmu dari Mama yang amat bermanfaat sehingga aku bisa berkarier. Bisa mencari uang sendiri. Ini kan, satu kebanggaan tak terkira.

Padahal dulu, kala masih jadi asisten Mama, kadang aku sering tidak ikhlas diminta mendampingi beliau merias. Maklum, aku masih ingin bermain seperti teman-teman sebayaku.

Pekerjaan yang terus datang ternyata memiliki tanggung jawab besar dan melelahkan. Dalam kondisi sakit pun aku harus bekerja lantaran sudah teken kontrak sebelumnya. Hal seperti ini kadang juga membuatku menangis.

RINI SULISTYATI/bersambung

( Setelah eksis sebagai perias, Lies punya mimpi besar yang juga ada di benak para perias pengantin, yakni bisa merias putra-putri raja. )

Dilihat : 2121 orang
  • Rating :
  • 0/5 (0 votes)
blog comments powered by Disqus