Membership
Lupa password?
Album Selebriti

Lies Adang (1): Jadi "Fotokopian" Mama
Senin, 14 Desember 2009
Lies Adang foto

Lies Adang (Foto: Rini Sulistyati)

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitupun Lies Adang, yang sejak belia menuruni profesi mendiang ibunya sebagai perias pengantin kondang di Yogyakarta. Sudah banyak selebritis yang menggunakan jasanya. Sulung tiga bersaudara ini juga dipercaya merias putri Sultan HB X dan beberapa putra KGPAA Pakualam VIII. Simak penggalan kisah hidupnya.

Menjadi perias pengantin, awalnya sebuah keterpaksaan. Bagaimana tidak? Ketika usiaku masih remaja, sudah “dipaksa” Mamaku, (alm) Hj. Yuanti Setiawan, belajar rias pengantin. Ketika remaja lain tengah asyik bermain dengan teman sebaya, aku sudah harus duduk di depan Mama, belajar bagaimana membuat cengkorongan (garis-garis di kening cikal bakal paesan yang diwarnai hitam /hijau).

Semasa hidupnya, Mama adalah perias pengantin di Yogya yang amat laris. Tak cuma pandai merias pengantin, Mama juga pandai menari Jawa. Puncak karier Mama adalah tahun 1983 ketika diminta keluarga Presiden Soeharto, merias Mbak Titik Soeharto ketika menikah dengan Pak Prabowo Soebijanto. Kata Mama, beliaulah perias pengantin pertama asal Yogya yang mampu mendobrak Keluarga Cendana yang sebelumnya lebih memilih perias asal Solo. Padahal, waktu itu, Keluarga Cendana hanya melihat foto pengantin hasil karya Mama.

Nah, percaya atau tidak, setelah merias putri Presiden, pamor Mama sebagai perias pengantin tradisional, semakin kinclong saja. Benar-benar berkah. Banyak calon pengantin dari berbagai daerah datang, minta dirias oleh Mama. Menurutku, itu semua adalah buah kerja keras Mama yang memulai karier sejak usia masih 17 tahun. Kala itu Mamaku juga adalah penari Jawa, pemeran Dewi Shinta. Tak heran nama lengkapku jadi Liestiani Shintowati.

Sayang seribu sayang. Kejayaan dan ketenaran Mama sebagai perias amat singkat. Kurang lebih setahun setelah merias Mbak Titik, Mama meninggal. Kala itu beliau tengah merias pengantin di Semarang (Jateng). Banyak yang mengirimkan bunga duka cita, termasuk mendiang Ibu Tien.

“Fotokopian” Mama

Aku dilahirkan di Yogyakarta. Tepatnya 2 Maret, tahunnya enggak usah aku sebutkan, ya. Ha ha ha. Biasanya perias pengantin, kan, merahasiakan umur. Papaku, Setiawan, adalah pengusaha kayu. Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Dua adikku perempuan dan laki-laki.

Seperti halnya Mama, sejak kecil aku juga pintar menari klasik, lho. Mama selalu menungguiku les menari klasik di Dalem Pujokusuman. Itu salah satu sanggar tari terbaik di Yogya.

Saat duduk di bangku SD Taman siswa, tempatku menuntut ilmu, juga diajarkan seni tari. Aku pernah mewakili sekolah, berlaga di Porseni, menari Golek Sulungdhayung dan juara pertama se-Propinsi. Itu terjadi tahun 1975. Aku bisa menangkap rona kebanggaan Mama setiap kali aku jadi juara lomba menari.

Hobi menari itu terus berlangsung hingga aku remaja. Mama paling gemar setiap kali aku pentas menari. Bila teman-teman menariku berdandan biasa saja, Mama membawaku ke salon terbaik di Yogya kala itu. Karena terlalu sering ke salon, lama-lama, Mama yang tidak kesampaian kuliah, ikut kursus kecantikan. Akhirnya berlanjut hingga beliau menjadi perias pengantin.

Selain menari, Mama juga memasukkanku ke sekolah model di PAPMI, Yogyakarta. Kala itu, Mama juga masih aktif jadi peragawati. GKR Hemas yang masih menyandang gelar KRAy. Mangkubumi (suami belum naik tahta Red .) menjadi pengurus PAPMI. Karena itulah, Mama berteman baik dengan beliau.

Nah, ketahuan bukan, aku sekarang ini seperti fotokopian Mama? Menari, jadi peragawati, lalu merias pengantin. Persis Mama.

Nikah Muda

Sejarah karierku di dunia tata-rias pengantin tak lepas dari keterlibatan Mama. Ceritanya, ketika aku duduk di bangku SMP, Mama sudah ikut kursus kecantikan. Ia mengajar ilmu spa dan lulur hingga ke Semarang dan Jakarta. Nah, aku sering menjadi model untuk praktik kursus. Misalnya model massage .

Selesai kursus Mama buka salon di rumah. Namanya Salon Kartini. Bahkan Mama sudah berani buka kursus kecantikan di rumah. Aku dipercaya menjadi “asisten” Mama.

Menginjak SMA, aku diminta menunggui murid-murid kursus Mama. Dari sanalah aku mulai bisa mengkritik hasil riasan murid-murid Mama. Bersamaan dengan itu Mama mulai mengajarkan ilmu merias pengantin kepadaku. Berhubung aku sudah punya ilmu make up , Mama tinggal mengajari membuat cengkorongan .

Lulus SMA, aku sudah jadi asisten tetap Mama sebagai perias pengantin. Kendati ikut sibuk merias pengantin, aku tetap melanjutkan studiku di Fakultas Hukum Universitas Atmajaya, Yogyakarta. Entah kenapa, baru dua setengah tahun kuliah, Mama sudah mendesakku segera menikah dengan Mas Adang.

Aku diminta menikah kala usiaku masih amat belia. Calon suami pun, Mama yang mencarikan. Ceritanya, Mama ingin memiliki menantu Insinyur lulusan UGM. Nah, ketika Mama merenovasi rumah di Tamansiswa yang kami tempati, ada arsitek yang berkenan di hati Mama. Jadilah, sang arsitek itu, namanya Mas Adang Pratiknya, selesai merenovasi rumah, langsung jadi menantu Mama alias jadi suamiku.

Dugaanku kenapa Mama ingin cepat-cepat mantu, karena zaman dulu ada kepercayaan, bila sudah mantu, pamor sebagai perias pengantin akan semakin bagus. Benar atau tidak, entahlah. Tapi pamor Mama sebagai perias pengantin setelah aku menikah memang semakin bagus.

Bagaimana rasanya dijodohkan tanpa cinta? Hm, ternyata datangnya cinta memang bisa karena terbiasa. Jujur, kala itu aku merasa terpaksa menikah dengan Mas Adang. Habis, Mama hanya memberi waktu sebulan saja untuk pendekatan. Setelah itu langsung menikah. Yah, dasar sudah jodoh. Nyatanya kami bisa saling cinta. Buktinya, kami dianugerahi Tuhan dua anak laki-laki. Si sulung, Raaditya Widagdo Hanuraga, sarjana Planologi UGM. Adiknya, Raaditya Ahi Puruhita masih kuliah di Kedokteran, UMY.

Begitu aku hamil, aku enggak mau kembali ke bangku kuliah. Malu. Kala itu, aku sudah menguasai tata rias pengantin gaya Yogya dan Solo model Putri. Hanya tinggal gaya Paes Ageng saja yang belum aku kuasai.

Suatu kali, ketika aku hamil delapan bulan Mama bertemu dengan koleganya seorang empu rias pengantin. Namanya Ibu Marmien Sarjono. Pada beliau, Mama menitipkan aku. Sebulan kemudian, Mama meninggal. Di kemudian hari, aku menimba ilmu Paes Ageng kepada Ibu Marmien.
Rini Sulistyati/ bersambung

Views : 6395

blog comments powered by Disqus

Baca Juga

Saykoji (2): Berkah Komputer Pinjaman & Mic Murahan

Saykoji (2): Berkah Komputer Pinjaman & Mic Murahan

Read More »
Saykoji (1): Si Pendiam Yang Berkibar Lewat Rap

Saykoji (1): Si Pendiam Yang Berkibar Lewat Rap

Read More »