Jumat, 7 Mei 2010

Kisah Hidup Mama Lauren (4)

Mama Lauren dan anak-anak (Foto: Dok Pribadi)

Roda Berputar

Nata memang sangat sadar dan tak segan mendorongku untuk terus mengembangkan kemampuan ini. Apapun nasihat dan saranku kepadanya, selalu diterima dengan baik. Hanya sekali ia mengabaikan peringatan yang aku sampaikan, dan siapa sangka justru itu membawa efek yang besar bagi kehidupan kami.

Ceritanya, sekitar tahun 1965 aku melarangnya mengambil sebuah tawaran proyek dari Istana Negara. Aku katakan kepadanya, aku merasa kurang sreg dengan proyek itu. Sayangnya, Nata enggan mengikuti saranku. Sampai kemudian, meletus peristiwa G-30S. Terjadi kekacauan, proyek Istana Negara yang sedang digarapnya ikut terkena imbas. Akibatnya, perekonomian keluarga kami kembali terancam karena perusahaannya jatuh.

Tahun 1973, tepatnya pada 23 Februari, aku melihat Nata terduduk dengan mata terpejam, bagai sedang tertidur pulas. Begitu aku dekati, ternyata ia sudah pergi. Hatiku kembali hancur, aku kembali ditinggalkan seorang yang aku cintai. Peristiwa ini sebenarnya sudah muncul dalam “vision” yang aku alami setahun sebelumnya. Bahkan ketika itu, aku sudah mengingatkan Nata untuk memeriksakan kesehatannya. Tapi, ia enggan mengikuti saranku.

Tanpa Nata, hanya Mario yang membuatku harus terus melanjutkan hidup. Tak ada yang bisa menggambarkan apa isi hatiku saat itu. Terlebih semua harta peninggalan Nata, termasuk rumah yang kami tinggali, disita bank untuk melunasi hutang perusahaannya. Berbagai pikiran positif dan negatif terus berkecamuk dalam kepala. Sungguh, aku tak tahu harus berbuat apa.

Kembali, berkat bantuan seorang teman, kami dapat menyewa sebuah kamar di kawasan Jakarta Selatan. Di kamar kecil itulah, aku perlahan-lahan bangkit. Aku seakan tersadar untuk terus berjuang menghidupi keluarga kecil ini. Setelah memutar otak, sedikit uang sisa pinjaman dari teman tadi kujadikan modal dagang. Tanpa ragu dan malu, aku menjadi pedagang dari pintu ke pintu. Seiring waktu, aku mulai memiliki pelanggan dan isi daganganku pun bertambah.

Mama Lauren dan keluarga (Foto: Dok. Pribadi)

Suatu ketika, sekitar tahun 1978, sebuah perusahaan di kawasan Cibinong dirampok. Seorang pedagang kopi bubuk yang mengetahui kemampuanku, menawarkan bantuanku kepada direktur pabrik. Dari penerawangan yang kulakukan, aku mengetahui siapa pelaku dan orang-orang yang terlibat di dalam aksi itu. Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata terawanganku terbukti benar.

Peristiwa itu ternyata menarik sebuah harian ibu kota bernama Buana Minggu untuk memuatnya. Dari situlah aku mulai dikenal orang. Oleh harian itu pula aku sampai dibuatkan ruangan khusus di kantornya untuk menerima klien. Meski aku tak meminta bayaran, ternyata banyak klien yang memberikan sejumlah uang. Sejak itu, perlahan tapi pasti, kehidupan keluarga kecilku menjadi lebih baik.

Mam Lauren dan Hendrik (Foto: Dok. Pribadi)

Jodoh Datang, Anak Pergi

Suatu ketika, kembali berkat bantuan seorang teman, aku diperkenalkan dengan seorang pria bernama Hendrik Pasaribu. Ketika melihat dan bertemu pria yang 15 tahun lebih muda itu, entah mengapa aku kembali merasakan cinta. Pada pertemuan pertama itu, aku merasa sudah seperti mengenal lama dirinya, ia pun mengaku tak asing lagi bertemu dengan diriku. Ketika itulah, aku yakin Hendrik adalah jodohku. Ya, aku sangat percaya pada reinkarnasi.

Hendrik kemudian melamar dan menikahiku pada 29 Mei 1982, kala itu umurku sudah 50 tahun. Tak berapa lama, Mario pun menikah dan kini telah memberiku dua orang cucu yang sehat dan lucu. Nuh Prabawa lahir di tahun 1982 dan Kreshna di tahun 1983.

Menjelang kelahiran cucu kedua, aku mendapat “vision” buruk. Ketika itu aku melihat Mario di dalam peti mati di sebuah altar. Betul saja, pada 4 Oktober 1985 pagi, “vision” itu menjadi kenyataan. Ketika itu aku diberitahu pihak kepolisian bahwa Mario terluka parah akibat kecelakaan lalu lintas di Tangerang.

Aku langsung pergi ke rumah sakit tempat Mario dirawat. Akibat lukanya, kondisi Mario saat itu amat kritis. Di tengah-tengah penderitaannya, Mario sempat berpesan agar aku merawat Nuh dan Kreshna. Sebab, ibu dari dua anaknya juga sudah meninggalkan mereka bertiga, untuk memulai kehidupannya yang baru. Usai menitipkan pesan, Mario jatuh koma dan meninggal dunia. Kepergian Mario, benar-benar membuatku kembali hancur, di saat aku sedang mengumpulkan keping demi keping kebahagiaan hidup.

Namun, beruntung aku memilki Hendrik, Nuh dan Kreshna. Mereka lah yang kemudian membuatku berhasil bangkit dari keterpurukan. Mereka lah yang kini membuat hidupku lengkap. Terlebih kemampuanku semakin banyak diminati. Hingga aku sudah tak bisa merasakan lagi hari libur dan tak lagi larut dalam kesedihan. Meski terkadang aku merasa lelah, tapi ketika melihat keluarga kecil ini, semua lelah pun menghilang.

Akibat kesibukan itu, aku lupa pada diri sendiri. Hingga akhirnya lalai untuk menjaga kesehatan. Sejak terkena stroke untuk yang kedua kalinya ini, aku benar-benar istirahat dan tak lagi menerima klien. Tinggal menikmati hidup saja di rumah, dan bersantai bersama Hendrik. Nuh dan Kreshna juga sudah besar dan memilki kehidupannya masing-masing. Di hari tuaku ini, aku hanya ingin benar-benar menikmatinya dengan berada di dekat orang-orang yang kukasihi dan mengasihiku.

Edwin Yusman F. / Tamat

Dilihat : 25727 orang
  • Rating :
  • 3/5 (25 votes)
blog comments powered by Disqus