Jumat, 7 Mei 2010
Kisah Hidup Mama Lauren (3)
Demi mencapai kebahagiaan, tak jarang manusia harus melewati berbagai hambatan dan rintangan. Bagi Mama Lauren, rintangan itu adalah ketika harus berulang kali kehilangan orang yang dikasihi. Lantas, bagaimana cara Mama Lauren mengatasi rintangan yang menerpanya?
Teman adalah harta yang paling berharga. Meski hidup sebatang kara, aku sangat bersyukur memiliki banyak teman. Di antara teman dan kenalan yang banyak memberikan bantuan kepada diriku, salah satunya adalah Profesor Van der Berg. Orang yang benar-benar aku kenal secara tak sengaja. Beliau seorang ahli parapsikologi, dan beliau lah yang kemudian menjadi pembimbingku. Hingga kemudian aku tertarik dan ingin menekuni ilmu parapsikologi di Universitas Leuven, Belgia.
Ketika kuliahku akan selesai, Prof. Van der Berg, meninggal dunia. Kejadian ini langsung membuat semangatku kembali meredup. Di saat itulah, secara tak sengaja aku berkenalan dengan seorang pria asal Indonesia bernama Natakusuma.
Pria itu bisa membuat semangat hidupku kembali bangkit. Pria itu juga yang membuatku mengenal kata cinta. Syukur, cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Nata melamarku untuk menjadi istrinya. Tahun 1952, tepat di usiaku yang ke 20, kami menikah. Setahun kemudian, aku dibawa ke Indonesia.
Hijrah ke Indonesia
Pertama menginjakkan kaki di Indonesia, aku benar-benar merasa asing. Banyak hal yang harus aku pelajari, sebelum akhirnya kini aku bisa menyebut negara ini sebagai negaraku. Sedikit demi sedikit aku mulai belajar berbagai hal tentang Indonesia. Bahasa serta budaya Indonesia yang berbeda dan tak pernah aku ketahui sebelumnya.
Jangan dikira jika kehidupan kami ketika itu serba mewah atau kecukupan. Nata yang baru saja memulai kariernya sebagai seorang arsitek, belum juga mendapat proyek. Akhirnya, di Jakarta kami terpaksa harus hidup berpindah-pindah. Bahkan pernah menyewa garasi yang kemudian disulap menjadi rumah tinggal.
Hal ini berlangsung selama lima tahun. Sampai kemudian berubah setelah Nata mengajakku pindah ke Kotabumi, Lampung Utara. Kami bisa memiliki rumah tinggal tetap. Di Lampung pula keluarga kami mendapatkan anugerah seorang pria tampan bernama Mario Lorens Natakusuma, buah cinta kami berdua.
Dua tahun di Lampung, Nata memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Nata yang selama ini sangat mendukung “kemampuan” aku, akhirnya membawaku untuk berkenalan dengan Pak Rahim, paranormal terkenal. Nata berharap, melalui Pak Rahim aku mampu mengasah kemampuanku.
Edwin Yusman F. / bersambung

