Rabu, 28 April 2010
Kisah Hidup Mama Lauren (2)
Sekarang aku sedang menyiapkan penerusku di bidang ini. Bukan cucu atau cicit, bukan pula keluarga. Sebetulnya, ketika aku berusia 15 tahun, aku sudah mengetahui gambarannya. Dia adalah Beby Djenar, seorang yang aku temui secara tidak sengaja. Gambaran Beby mirip sekali dengan apa yang aku lihat ketika itu.
Aku bertemu Beby sekitar dua tahun lalu. Saat itu ia mengantar saudaranya untuk menemuiku untuk meminta bantuan memecahkan sebuah masalah. Ketika ia memasuki ruangan, aku langsung berkata. “Mengapa kamu datang menemui saya? Bukankah kamu sendiri bisa?” Beby kaget, ketika aku bisa melihat kemampuannya. Ternyata selama ini ia takut mengatakan semua yang dilihatnya. Setelah beberapa kali berkonsultasi denganku, aku membuatnya percaya diri dan berani mengatakan apa saja yang dilihatnya.
Penerusku nanti memang harus perempuan, karena hanya perempuan yang bisa sabar dalam melihat dan menyampaikan beragam terawangan yang ada. Kebetulan aku melihat kemampuan itu di dalam dirinya. Bagai radio, aku dan Beby memiliki frekuensi yang sama. Aku melihat, semakin ia berumur, kemampuannya akan semakin bertambah. Kemampuannya tak hanya berguna bagi negara saja, tapi juga dunia.
Hanya saja, ia masih kurang berani mengatakan apa yang ia lihat, dan harus terus kuberi dorongan. Ia masih kurang tegas. Sebaiknya, tidak boleh pakai kata “mungkin”, harus “iya atau tidak”. Sebab, vision apapun yang ia lihat, itu pasti akan berguna. Bukan hanya bagi orang per orang, tapi juga masyarakat luas. Misalnya, seperti akan ada gunung meletus atau tsunami seperti yang terjadi di Aceh beberapa waktu lalu.
Bisikan Ajaib
Ya, sejak kecil aku sudah merasakan mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki orang lain. Berbagai kejadian yang aku alami pun membuat aku cepat dewasa. Apalagi, saat itu situasi Eropa sedang Perang Dunia II. Situasi itu membuat aku tumbuh menjadi gadis pemberani.
Kemampuan yang aku miliki pun semakin tajam seiring dengan bertambahnya usia. Aku ingat, ketika usiaku masih 7 tahun, sekitar tahun 1939 ketika sedang mengikuti pelajaran, aku mendengar bisikan yang memintaku untuk secepatnya keluar dari kelas.
Oleh karena masih kecil dan masih dalam kebingungan, aku justru jadi terdiam dan bimbang. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Namun, karena peringatan itu terus saja terngiang, aku memberanikan diri untuk menyampaikan hal itu kepada guru. Ternyata, oleh guru aku dianggap mengganggu dan diusir pulang.
Sambil menangis, aku pulang ke rumah. Tak berapa lama, bisikan itu terbukti. Sebuah kabar mengenaskan tersebar, sekolah terkena bom. Orang-orang yang ada di dalam gedung sekolah tak ada yang sempat melarikan diri. Akibat kejadian itu, aku semakin menyadari, aku mempunyai sesuatu yang tak dimiliki orang lain. Sejak itu pula, berbagai peristiwa semakin sering bermunculan berupa gambar atau suara.
Sempat Dilupakan
Beruntung aku memiliki Oma Antoineta. Hanya beliau yang mengerti apa yang yang aku rasakan. Beliau lah orang pertama yang memberikan dukungan. Aku masih ingat Oma berkata, hal itu adalah sesuatu yang diturunkan oleh nenek moyangku yang berasal dari kaum gypsy, yang dianugerahi bakat khusus untuk bisa melihat masa depan.
Memasuki masa remaja, kemampuan itu sempat terlupakan. Waktuku habis untuk belajar dan bekerja. Maklum saja, saat itu bisa dibilang aku sudah harus mandiri. Sejak usia tiga bulan, aku sudah ditinggal Mama untuk selama-lamanya.
Setelah Mama meninggal, Papa menikah dengan adik Mama dan kemudian mempunyai seorang anak perempuan. Sementara, dari pernikahan Papa yang pertama sebelum menikah dengan Mama, Papa punya tiga anak. Dan aku bisa dibilang tak begitu dekat dengan orangtua. Sampai usiaku 6 tahun, Papa meninggal dunia akibat sebuah kecelakaan. Aku dan adik tiri kemudian tinggal bersama adik Papa untuk diurus oleh Oma dan Opa.
Sampai kemudian jalan hidup kembali bergejolak ketika aku berusia 16 tahun. Oma meninggal, dan aku dimasukkan ke sebuah asrama. Oleh karena tak betah, aku memutuskan untuk lari dari asrama dan tinggal seorang diri. Beruntung sekolah tak pernah memungut bayaran alias gratis. Sehingga pengeluaranku tak terlalu besar. Untuk memenuhi pengeluaran, aku memiliki dua pekerjaan. Pagi bekerja di sebuah restoran sebagai pencuci piring dan sorenya menjadi kasir di sebuah toko sepatu.
Diantara waktu itu, aku menyisakannya untuk belajar. Sehingga masa remaja itu tak bisa dihabiskan untuk bersenang-senang layaknya remaja seumuranku saat itu. Sampai aku pun tak pernah tahu dan merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta.
EDWIN YUSMAN/ bersambung

