Rabu, 28 April 2010
Kisah Hidup Mama Lauren (1)
Lahir di Eindhoven, 23 Januari 1932, jalan hidup putri pasangan Anna Breche dan Lau van Hooff ini membawanya ke Indonesia. Jika di negeri asalnya kemampuan untuk meramal dianggap aneh, maka di Indonesia, ia justru “disambut” hangat.
Enam bulan lalu, stroke kembali menyerangku. Penyakit gula yang kuidap sejak bertahun-tahun lalu pun seakan semakin kuat menyerang tubuh renta ini. Namun, kini sudah mendingan. Jika sebelumnya aku sempat dirawat total di rumah sakit, maka sekarang aku sudah bisa pulang. Di rumah, selain minum obat, aku juga semakin rajin menjaga asupan makanan.
Makananku sekarang benar-benar diatur. Pagi hari, aku makan havermut . Siang makan nasi lunak dengan sup dan ayam rebus. Sore makan snack ringan atau bubur sumsum. Malam hanya makan roti atau nasi lembek lagi. Aku baru saja periksa darah, dan kadar gulaku sudah di angka 130, mendekati normal, kan?
Sebenarnya, serangan stroke kali ini bukan yang pertama menyerangku. Sepuluh tahun lalu aku juga pernah terserang stroke . Ketika hendak bangun tidur, tubuhku kaku. Kaki dan tangan sebelah kiri juga lumpuh dan mati rasa. Menurut dokter, kala itu terjadi pembengkakan jantung. Mereka sudah menyarankan aku untuk dioperasi, tapi aku tolak mentah-mentah.
Aku enggak percaya jika operasi bisa menyembuhkan. Aku yakin, penyakit ini muncul karena memang sudah saatnya dan karena faktor usia. Yang penting aku tetap minum obat dan menjaga makanan.
Bukan Klenik
Bila melihat ke belakang, aku sebenarnya sedikit kaget dengan perjalanan hidupku ini. Aku benar-benar tak pernah menyangka bisa tinggal di Indonesia dan menjadi terkenal seperti saat ini. Entah mengapa, sejak diminta bantuan oleh sebuah harian ibukota untuk menjadi peramal di tahun 80-an, maka semakin banyak saja orang datang meminta pertolongan untuk keluar dari berbagai masalah yang mereka hadapi. Mulai dari persoalan bisnis hingga urusan keluarga. Baik orang biasa, maupun tokoh ternama.
Ternyata, semakin lama aku sadar, banyak sekali orang yang memiliki beban hidup di luar batas kemampuan mereka. Meski awalnya sempat merasa sedih mendengar berbagai keluhan mereka, hal itu yang kemudian sedikit demi sedikit membuat diriku tegar dalam menghadapi hidup.
Tapi, jujur saja sebenarnya aku agak keberatan jika disebut paranormal. Terkesan abnormal alias tidak normal. Lagi pula ilmu yang kumiliki ini bukanlah sesuatu yang klenik. Kalau pun ada hal baik atau buruk terjadi pada manusia, itu adalah akibat ulah manusia itu sendiri.
Soalnya, yang kulihat pun selalu memiliki keterkaitan satu sama lain. Baik terhadap alam, hewan ataupun antar manusia. Di usia yang tak lagi muda, aku masih terus belajar dari kehidupan. Dari begitu banyak peristiwa yang telah aku alami, aku juga sadar bahwa hidup ini akan selalu berputar.
Edwin Yusman/ bersambung

