Membership
Lupa password?
Album Selebriti

Karni Ilyas Tolak Posisi Jaksa Agung (2)
Senin, 18 Maret 2013
Karni ilyas

Foto: Daniel Supriyono/NOVA

Karni membangun mimpinya menjadi wartawan. Kegigihan dan pantang menyerah membuatnya kerap menghasilkan berita eksklusif. Ia juga piawai membesarkan media.

Lulus SMEA pada Desember tahun 1971, Karni lalu ke Jakarta dengan tujuan menjadi wartawan. Ia naik KM Batanghari dari pelabuhan Teluk Bayur. Sesampainya di Jakarta, ia menumpang di rumah sepupunya, Jl. Gorontalo, Tanjung Priuk. Untuk menuntaskan hasratnya jadi wartawan ia masuk Perguruan Tinggi Publisistik di kawasan Menteng.

Hidup di Jakarta dengan keterbatasan dana membuat Karni tergerak nyambi kerja. Ia pun memilih jadi wartawan sesuai dengan cita-citanya. Apalagi, ia sudah sering menulis di koran sebelum jadi mahasiswa. “Saya memilih masuk harian Suara Karya,” ujar Karni. Untuk memudahkan bertemu pimpinan Suara Karya, ia membawa katabelece dari rekan ayahnya yang jadi anggota MPR/DPR mewakili Sumatera Barat.

Sambil membawa surat pengantar itu, Karni menemui pemred Suara Karya, Rahman Tolleng, di kantornya, Tanah Abang, Jakarta Pusat. “Ketika itu posisi Rahman Tolleng sudah hebat sekali. Dia calon orang besar,” kata Karni yang segera menyerahkan surat rekomendasi sang anggota MPR/DPR. “Ternyata, surat itu langsung dibuang ke keranjang sampah. Rahman Tolleng berkata, tidak ada lowongan.”

 Bahkan, Rahman tidak memandang Karni. Ia memunggungi Karni. Namun Karni tetap tegar. Ia mengatakan, sudah kerap membaca Suara Karya dan ada berita yang tidak ada di sana. “Tidak ada berita hukum,” papar Karni tegas. Tanpa diduga, Karni langsung diminta kerja keesokan harinya. “Proses saya jadi wartawan enggak bakalan terjadi lagi pada orang lain,” ujar Karni.

Karni mengungkapkan, “Awalnya saya dicuekin  sama wartawan lain. Saya dianggap layaknya anak magang. Saya hanya dikenalin  ke redaktur. Meja untuk mengetik pun enggak ada. Saya mengetik di ruang pemred.”

Oleh karena berita tentang hukum memang kurang, Karni pertama kali ditugaskan liputan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. “Saya berangkat liputan tanpa bekal. Pengadilan itu seperti apa, saya juga enggak tahu. Tapi saya mulai meliput sidang. Ternyata, masalah hukum sangat menarik perhatian saya,” tutur Karni. Liputan pertama Karni dimuat di halaman paling akhir. Tulisannya sudah diedit menjadi hanya dua alinea pendek saja. Kendati begitu, Karni tetap bergirang hati.

Begitulah, Karni melalui hari-harinya jadi wartawan. Ada kejadian unik ketika di akhir bulan Karni ingin mengambil gaji pertamanya. Ternyata, namanya tak tercantum di daftar gaji. “Rupanya Rahman Tolleng belum memberi tahu bagian keuangan. Saya digaji langsung dari dompet Rahman. Jumlahnya Rp 10 ribu. Bulan berikutnya, saya terima gaji resmi Rp 7.500.”

karni di tempo

Semasa menjadi wartawan Majalah Tempo, Karni kerap berhasil mendapatkan berita-berita eksklusif. (Foto: Dok Pri)

Karier Cemerlang

 Karni pun menunjukkan kemampuannya sebagai wartawan tangguh. Sebagai reporter bidang hukum dan kriminal, ia kerap meliput banyak peristiwa yang menjadi sorotan media massa. Kerap pula ia mendapatkan berita eksklusif, antara lain kisah Syarifa Sifa, seorang gadis yang dipaksa kawin cerai. Umur 12 tahun ia dipaksa kawin oleh neneknya. Setelah punya satu anak, Syarifah diminta cerai karena sang nenek tak suka dengan suaminya.

Nama Karni saat menulis berita diberi kode 018, dan kode ini dikenal kalangan pers berkat liputan eksklusifnya. Setelah menyandang profesi sebagai wartawan, membuat Karni memilih mundur dari Perguruan Tinggi Publisistik. “Kalaupun saya teruskan, toh akhirnya jadi wartawan juga. Lebih baik saya cari ilmu lain yang saya sukai,” kata Karni. Ia lantas masuk Fakultas Hukum Universiats Indonesia.

Selanjutnya, seorang wartawan Majalah Tempo bernama Harun Musawa mengajaknya bergabung. Lewat sejumlah tes, November 1978 Karni mulai bekerja di Majalah Tempo. Kariernya cemerlang, sampai ia menjabat posisi Redpel. Namun ia kemudian mendapat kepercayaan dari Eric Samola, owner sekaligus direktur utama, untuk menjabat Pemred Majalah Forum Keadilan. “Saat saya pegang, Forum Keadilan belum banyak dikenal. Ini adalah majalah yayasan instansi Kejaksaan Agung.”

Kala itu, Forum Keadilan merupakan majalah bulanan yang terbitnya tersendat-sendat. Di bawah kepemimpinannya, Forum Keadilan justru berkembang pesat. Dalam waktu setahun, tirasnya sudah menembus 50 ribu eksemplar. Di tahun pertama kepemimpinannya, Forum berhasil terbit dua kali dalam sebulan. Bahkan, akhirnya bisa terbit seminggu sekali.

“Dari media cetak, selanjutnya saya bekerja di media teve. Saya memegang acara berita Liputan 6 di SCTV. Memang beda antara media cetak dan teve. Kalau menulis butuh mendalam, teve mesti cepat. Kuncinya adalah kecepatan. Itulah salah satu yang menyebabkan Liputan 6 berjaya. Ketika saya masuk ke sana, Liputan 6  masih kalah oleh kompetirornya. Tapi di tahun kedua saya masuk sampai saya mengundurkan diri, Liputan 6 jadi nomor satu,” jelas Karni bangga.

Perjalanan Karni terus berlanjut sampai akhirnya ia bekerja di TV One. Ia juga menunjukkan keberhasilannya di sini. Acara yang digagasnya sekaligus ia menjadi host -nya, Indonesia Lawyers Club,  menjadi acara unggulan yang ditunggu-tunggu pemirsa Indonesia.

Tampilnya Karni menjadi host seolah menjadi antitesa dari host yang selama ini ada. “Biasanya, kan, host dipilih yang cantik atau ganteng dan suaranya bagus. Beda sekali dengan saya. Ha ha ha.” Meski begitu, penguasaan materi yang mumpuni membuat acara yang dibawakan Karni disukai pemirsa.

karni dan kel

Kebahagiaan Karni didampingi anak-anak dan istri seusai diwisuda menjadi Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia di tahun 1984. (Foto: Dok Pri)

Liputan Eksklusif

Salah satu kelebihan Karni dalam meliput berita adalah semangat pantang menyerah. Ia punya keinginan menciptakan berita yang orang lain tidak punya. Itu sebabnya, ia merasa tidak cukup jika hanya mewawancarai narasumber secara beramai-ramai dengan wartawan lain. “Biasanya saya malah enggak bertanya. Saya memilih membuat janji lagi untuk wawancara sendiri,” kata Karni.

Demi mendapat berita menarik. Karni terkadang mesti melakukan penyamaran. Kala itu, kasus Johni Indo tengah mendapat sorotan. Tak mudah menemui Johni yang ditahan di lembaga permasyarakatan (LP). “Zaman itu masih susah bisa masuk LP. Beda dengan sekarang yang jauh lebih longgar. Saya bisa masuk dengan cara menyamar, tidak mengaku sebagai wartawan. Saya berhasil mewawancarai Johni Indo, tentu saja saya tidak bawa alat perekam. Jadi kami mengobrol biasa saja. Saya mengandalkan daya ingat,” papa Karni.

Di saat lain, Karni mesti mengandalkan lobi yang kuat. Ia berhasil meliput eksekusi atas terpidana hukuman mati Henky Tupanwael meski sebenarnya dirahasiakan media massa. Yang luar biasa, ia sanggup seolah menjadi tim kejaksaan. Bahkan, Karni yang kala itu masih bekerja di Tempo ikut rapat bersama kepolisian untuk menentukan eksekusi di Madura. Liputannya yang lengkap membuat Tempo unggul dibandingkan media lain.

Lebih luar biasa lagi, ia menjadi satu-satunya wartawan yang berhasil mewawancarai Kartika Thahir. Kartika adalah istri kedua Haji Achmad Thahir, salah satu pembesar Pertamina. Ketika itu. Kartika berperkara dengan Pertamina setelah Thahir meninggal. Sidang perdata yang berlangsung di Pengadilan Tinggi Singapura itu untuk menentukan siapa yang berhak atas 19 rekening di Bank Sumitomo. Pertamina menuntut hak karena 19 rekening itu diduga berasal dari uang sogok. Nilai rekening itu sekitar Rp 160 miliar.

Kabarnya, Kartika tinggal di Swiss namun tak diketahui persis keberadaannya. “Banyak media yang ingin mewawancarai Kartika, tapi tak berhasil. Saya juga berusaha melobi lewat pengacaranya. Wartawan lain menyerah, tapi saya terus berusaha. Ketika anak Kartika jadi saksi, saya kembali melobi,” kenang Karni seraya mengatakan, saat itu Kartika belum pernah muncul di media mana pun.

Berkat upaya kerasnya, Karni berhasil mendapatkan wawancara eksklusif dengan Kartika di Geneva. Berita yang menjadi cover story Tempo itu menggegerkan. Akibat wawancaranya, Jendral Benny Moerdani marah besar. “Saat bertemu saya di Singapura, ia mengatakan ‘Ini musuh saya’ Pada masa itu, ungkapan Benny berbahaya.”

Benny marah karena Karni membalikkan opini yang dibangun pemerintah. Kartika digambarkan sosok wanita yang suka berpesta. Ia juga dituding sebagai orang tamak. Hasil wawancara Karni sebaliknya. “Dia bukan sosok yang suka dari pesta ke pesta. Ia adalah ibu rumah tangga biasa. Nah, berita tentang Kartika membuat Tempo laku keras. Beritanya menggegerkan. Tempo mencetak rekor. Tirasnya mencapai 170 ribu.”

Dekat Narasumber

Bagi Karni, memang begitulah semestinya kerja jurnalis. Berita mesti didapatkan setelah melakukan kerja keras. “Bukan berarti saya tak pernah gagal. Tapi kegagalan itu bukan lantaran menyerah. Pernah juga sudah ketemu narasumber tapi dia tetap tak mau.”

Tak kalah penting, Karni tak pernah meliput dengan kepala kosong. Artinya, ia sudah menyiapkan diri dan mempelajari kasus yang diliputnya. “Saya tak pernah berhenti belajar. Itu sebabnya saya bisa dekat dengan narasumber. Bahkan, saya menjadi lawan bicara yang mengasyikkan. Kerap pula saya memberi ide-ide untuk mereka,” katanya.

 Ketokohannya di dunia jurnalis memang begitu kokoh. Semasa Megawati menjadi presiden, sebenarnya Karni ditawari posisi menjadi Jaksa Agung. Namun ia menolaknya. Ayah tiga anak ini lebih mencintai dunia jurnalis. Jabatan politik tak membuatnya silau.

Karni memang sudah menggenggam mimpi-mimpinya. Suami dari Yulinas ini tinggal memikirkan siapa kelak yang akan menggantikan dirinya. (TAMAT)

 Henry Ismono

Views : 4165

blog comments powered by Disqus

Baca Juga

Karni Ilyas Jadi “Anak Pasar” Setelah Bunda Tiada (1)

Karni Ilyas Jadi “Anak Pasar” Setelah Bunda Tiada (1)

Read More »
Irfan Hakim, Cintanya Ditolak Dua Kali (1)

Irfan Hakim, Cintanya Ditolak Dua Kali (1)

Read More »