Membership
Lupa password?
Album Selebriti

Ira Maya Sopha, Diramal Jadi Penyanyi Sejak Dalam Kandungan (1)
Minggu, 31 Mei 2009
Ira-Maya-Sopha-(Romy-Palar)

Ira Maya Sopha (Foto : Romy Palar)

Bisa dibilang, aku ini anak yang sangat diidam-idamkan Mami dan Papiku, Syafrudin Kartawinata dan Maemunah Muchlis. Terang saja, aku ini, kan, puteri pertama mereka. Aku lahir Kamis, 21 Maret 1968, di RS Siti Chadijah, Jakarta Selatan, genap sembilan bulan setelah Mami mengandungku. Akupun kemudian diberi nama Hyra Maya Sofa.

Nama Hyra memang sudah dipersiapkan Mami sejak awal. Hyra adalah nama goa tempat Nabi Muhammad SAW pertama kali mendapatkan wahyu. Sedangkan Maya Sopha, terinspirasi dari nama seorang penyanyi yang sangat diidolakan Mamiku saat itu.

Oh iya, sebelum melahirkan aku, Mami pernah bermimpi unik, lo. Ia bermimpi mendapat seekor ikan mas dari sebuah telaga warna yang sangat terkenal di daerah Jawa Barat. Meski penasaran dengan arti mimpinya, Mami tidak pernah mencari tahu. Namun Dr Waluyo Sapardan, dokter yang membantu kelahiranku, pernah berkata kepada Mami, kalau suatu saat aku pasti bisa menjadi penyanyi terkenal seperti Maya Sofa. Itulah mengapa, Mami semakin yakin menambahkan nama Maya Sofa dibelakang namaku, Hyra.

Sejak kecil, aku benar-benar tumbuh dalam keluarga yang bahagia. Selain kedua orangtuaku, Omaku (nenek dari Mami) -Entjik Mariam Muchlis- juga berperan besar dalam perkembanganku. Dulu aku sering tinggal di rumah Oma di Jalan Ciniru, Jakarta Selatan. Mereka semua sangat keras menanamkan disiplin dan tanggung jawab dalam bersikap dan bertingkah laku.

Aku punya tiga orang adik, Glen Reza Firmansyah, Rizky Dermawan, dan Sweeta Syafrina. Sebagai kakak tertua aku dituntut untuk menciptakan suasana saling menghargai, akrab, dan kompak di rumah. Saat-saat menyenangkan buat aku adalah kalau kami sekeluarga berkumpul. Ada saja hal seru yang terjadi. Maklumlah, kami sekeluarga memang terkenal humoris, jahil, dan suka bercanda. Makanya enggak heran kalau sampai sekarang hubungan kami sangat dekat.

Ada satu lagi kemiripan yang kami punya. Kami sama-sama pandai bernyanyi. Hm, kalau yang ini memang menurun dari kedua orangtuaku. Mereka dulu tergabung dalam satu band. Nama band-nya Eka Karta Ria atau dikenal juga dengan Eka Combo. Mami berperan sebagai penyanyi, sedang Papi penabuh drum. Selain aku, adikku Rizky juga pernah menjadi vokalis dari Plasma Band dan The Video. Belum lagi sepupuku Sandhy Sondhoro (The Best 6 of German Idol), Ron Ji (penyanyi R&B), dan yang lainnya. Wuih, aku jadi kepikiran pingin manggung sama mereka semua, nih !

Kata Mami, aku sudah pandai bernyanyi sejak usiaku enam bulan. Di usia yang masih sangat belia itu aku sudah bisa menyanyikan lagu Topi Saya Bundar sampai selesai lengkap dengan gayanya. Sempat enggak percaya juga, sih , tapi masa iya, sih , Mami bohong sama aku. Hi hi hi.

Ketika aku mulai besar, Papi dan Mami berusaha mengembangkan kemampuan bernyanyiku. Mereka tidak membawa aku ke tempat les vokal, melainkan mereka sendiri yang mengajariku.

Saat aku duduk di kelas 2 SD di SD Blok S 01 Pagi, Jaksel (sekarang SDN Rawa Barat 01 Pagi), aku pernah mewakili sekolah mengikuti lomba menyanyi antar SD tingkat Walikota Jaksel. Seingatku, itu kontes nyanyi pertama dan terakhir yang pernah kuikuti. Mau tahu siapa yang menang? Ya, aku, lah . Meski hanya mendapatkan piagam penghargaan, aku bangga sekali. Setelah itu aku semakin sering tampil, mulai dari panggung kemerdekaan di dekat rumah hingga mengisi acara di TVRI dan RRI.

Suatu hari di tahun 1976, seorang sahabat mengajakku bermain ke rumah Om Usman (dari Band Usman Bersaudara). Ketepatan rumah keluarga sahabatku ini bertetangga dengan beliau. Sambil bermain, kami bernyanyi bersama. Diam-diam Om Usman tertarik dengan penampilan dan suaraku yang katanya memilik ciri khas. Beliau dan Hartono Hendra (produser rekaman PT Irama Tara) lalu menghubungi orangtuaku untuk menawarkan pembuatan album. Wah, aku yang saat itu sangat mengidolakan penyanyi cilik Yoan Tanamal berharap besar Papi dan Mami setuju. Ternyata benar, mereka setuju!

Singkat cerita, lahirlah album perdanaku dengan single Abang Helicak. Namaku pun diganti menjadi Ira Maya Sopha. Katanya, selain diharapkan menjadi ikon besar penyanyi cilik PT Irama Tara, juga agar terdengar komersil dan mudah diingat.

Jangan ditanya, deh , bagaimana perasaanku saat itu. Bernyanyi di atas panggung dan ditonton banyak orang merupakan prestasi yang tidak ada duanya bagiku.

Meski kegiatan manggung dan syuting semakin padat, Papi dan Mami selalu mengingatkanku untuk tetap memprioritaskan sekolah. Mereka ingin aku juga sukses di bidang akademis. Semua kegiatan show dan rekaman hanya boleh dilakukan setelah jam sekolah atau pada akhir pekan.

Jadi terkenal tak membuatku pilih-pilih teman. Sehari-hari aku yang tomboi dan aktif sering manjat pohon buah Kersen atau Cherry, juga bersepeda sama teman-teman. Tak jarang aksiku itu berakhir dengan jatuh dari atas pohon atau sepedaku yang nyeruduk ke selokan. Enggak heran, deh , aku sering sekali pulang ke rumah dengan badan penuh lecet, lusuh dan baju robek. Kalau sudah begitu, Oma biasanya langsung ngomel . Wajar, sih , karena baju yang robek itu kan baju yang baru dijahitkan Tante Jun (almarhumah kakak Mami) untukku.

Setelah sukses dengan album perdana, tahun 1978 aku merilis album Cerita Cinderella . Album ini merupakan salah satu album yang sangat fenomenal karena terjual lebih dari 1 juta keping! Melalui album ini jugalah aku berhasil mendapatkan banyak penghargaan, salah satunya sebagai Penyanyi Cilik Terbaik & Terlaris.

Selain menyanyi, aku juga ditawari bermain film layar lebar. Menyadari kemampuanku dalam berakting, Papi dan Mami pun mengizinkanku main film. Tahun 1979 keluarlah film pertamaku yang berjudul Ira Maya Si Anak Tiri yang disutradarai Edward Pesta Sirait (Om Edo). Di situ aku bermain bersama dengan artis kawakan, seperti Drg Fadli, Tuti Kirana, Dina Mariana, dan Ria Irawan.

Om Edo sangat berperan besar dalam mengeksplor kemampuan aktingku. Oh iya, di film ini aku berhasil menjadi nominator Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia (1982). Film ini melengkapi kesuksesan album Cerita Cinderella dengan jumlah penonton yang tidak kalah banyak.

Filmku berikutnya adalah Ira Maya & Kakek Ateng (1980), Nakalnya Anak-anak (1981), dan lanjutan Cinderella-Ira Maya Anak Cinderella yaitu Ira Maya Putri Mawar (1982). Sedangkan untuk album, ada lebih kurang dari 100 album yang kumiliki. Itu termasuk album solo, duet, kompilasi, country, religi, pop, dll.

Kalau ditanya berapa penghasilanku dari semua jerih payah yang kulakukan, aku enggak tahu, ya . Yang mengatur keuangan dan jadwal manggungku itu, kan, Mami. Aku masih terlalu kecil, lah , untuk mengurusi hal-hal seperti itu. Barulah setelah aku cukup dewasa, usia 21 tahun, aku mulai menanganinya sendiri.

Aku sangat boros untuk hal-hal yang berhubungan dengan aksi sosial karena aku suka enggak tegaan melihat orang susah. Aku selalu ingin orang yang ada di sekitarku selalu merasa senang dan bahagia, tanpa peduli latar belakang mereka. Pernah ya, aku diam-diam menghabiskan waktu di bangsal anak-anak pengidap penyakit ganas di sebuah rumah sakit, sekadar berbagi kasih dan cinta dengan mereka.

Kalau untuk urusan pribadi, aku senang memanjakan diri dengan berenang dan menyelam. Selain itu aku juga mengkoleksi sepatu, tas, dan parfum. Hingga sekarang, ini masih bisa kulakukan tanpa mengabaikan skala prioritas hidupku sebagai seorang single parent yang memiliki empat orang anak. Aku masih bisa berpikir cermat dan hemat, kok, dalam mengatur keuangan.
Ester Sondang


blog comments powered by Disqus

Baca Juga

Ira Maya Sopha, Diramal Jadi Penyanyi Sejak Dalam Kandungan (1)

Ira Maya Sopha, Diramal Jadi Penyanyi Sejak Dalam Kandungan (1)

Read More »
Kisah Budi Anduk (2)

Kisah Budi Anduk (2)

Read More »