Membership
Lupa password?
Profil

Zoya Dianaesthika Amirin, Psikolog Seksual yang Blak-blakan (1)
Sabtu, 25 Februari 2012
Zoya Dianaesthika Amirin

Bersama sang kekasih, Agus Sari yang banyak membantu membangun situs (Foto: Agus Dwianto)

Rasa penasaran yang tak terjawab dan keprihatinannya akan pengetahuan seks masyarakat Indonesia membuat perempuan kelahiran 7 September 1975 ini mantap menekuni bidang psikologi seksual. Konon, di Indonesia perempuan berdarah Semarang-Manado-Belanda ini satu-satunya seksolog yang berlatar belakang psikologi, yang antara lain menerapkan terapi seks.

Mengapa memilih jadi psikolog seksual?

Karena saya tumbuh dalam budaya di mana masyarakatnya tidak punya banyak informasi tentang seks. Saya justru banyak belajar dari Mama, Sylvia Rauw-Wangke, termasuk soal ciuman pertama saya dan perilaku seksual. Namun seiring pertumbuhan usia saya, ada banyak pertanyaan yang tidak bisa lagi dijawab Mama. Pertanyaan-pertanyaan itu relatif banyak terjawab ketika saya mengambil mata kuliah tambahan psikologi seksual yang diajarkan Prof. Sarlito Wirawan Sarwono. Saat itu, saya kuliah di Fakultas Psikologi UI.

Sejak itu, saya memutuskan membuat skripsi yang berhubungan dengan perilaku seksual. Nah, dari riset skripsi itulah saya baru tahu ternyata ada terapis seksual, tapi adanya di luar negeri. Oleh Prof. Sarlito, saya dikenalkan kepada Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila dari Universitas Udayana, Bali. Selanjutnya, saya bergabung dengan Asosiasi Seksologi Indonesia. Saya juga jadi asisten Prof. Sarlito untuk mata kuliah Perilaku Seksual.

Bagaimana pengalaman mengajar pertama kali?

Itu satu-satunya mata kuliah yang mahasiswanya enggak pada bolos, ha…ha…ha. Pertama kali mengajar, saya minta mereka membeli kondom dan membuat artikel. Saya ingin membuka wawasan mereka, kondom bukan legalitas untuk seks pranikah. Menyimpan kondom berhari-hari bukan berarti jadi punya keinginan melakukan seks pranikah.

Kalau memang belum pernah melakukannya, menyimpan 100 kondom juga akan sama saja. Tapi bagi yang pernah melakukannya, dia jadi tahu memakai kondom adalah cara yang aman. Saya yang tadinya cuma mau “berobat jalan” alias mencari informasi, akhirnya malah terjun sekalian. Setelah menikah tahun 2000, saya putuskan belajar seksologi lebih banyak.

Seserius itu “mencari jawaban”?

Ya. Lulus S1 tahun 2002, saya langsung ambil S2, menekuni bidang Klinis Dewasa di Fakultas Psikologi UI. Saya ambil tingkat dasar dan sertifikasi yang semuanya berhubungan dengan perilaku seksual, semuanya dari luar negeri. Tesis saya juga tentang perilaku seksual. Setelah lulus, saya ambil tingkat lanjutan (advance ) seksologi di Universitas Udayana.

Kalau sebelumnya saya hanya praktik sebagai psikolog, setelah lulus tingkat lanjutan saya mulai praktik sebagai psikolog seksual. Namun, sebelum resmi jadi psikolog seksual saya sudah banyak menerima klien yang berhubungan dengan perilaku seksual.

Mengapa tertarik banyak bertanya soal seks kepada Mama?

Waktu itu saya merasakan, entah perasaan apa. Sama lah seperti anak-anak remaja sekarang. Misalnya, kenapa setelah mens pertama datang, timbul rasa kangen dan tertarik pada cowok? Mengapa perempuan mengalami menstruasi dan laki-laki mimpi basah? Saya ingin tahu semuanya beserta penjelasan logisnya. Namun tidak ada orang di sekitar saya yang bisa menjelaskan. Itu baru terjawab saat kuliah.

Sejak kecil sampai sekarang, saya sangat dekat dengan Mama dan Papa, Amirin Amfra. Pengalaman paling asyik semasa kecil diajak Papa ke Toko Buku Gramedia sebulan sekali membeli buku apa pun yang saya mau. Saya jadi senang membaca dan ini pengalaman menyenangkan. Ayah dan Opa senang mendongengi saya cerita, baik dari buku maupun mengarang sendiri. Keingintahuan saya terhadap hal-hal di luar yang pernah saya lihat juga lebih tinggi karena membaca.

Seminar Zoya

Seminar Zoya dengan tema HIV prevention goes to Campus di UI dipadati mahasiswa (Foto: Dok Pri)

Omong-omong, bagaimana peri­laku seks pada kelompok usia dewasa muda di Indonesia?  

Rentang usia dewasa muda adalah 20-39 tahun. Mereka cukup sadar soal kontrasepsi dan sebagainya, tapi belum tentu mau menggunakannya. Mereka juga relatif tahu informasi seks yang sehat, tapi masih agak sulit untuk tidak melakukan seks yang berisiko. Mundurnya usia pernikahan, antara lain karena alasan karier, membuat orang aktif secara seksual lebih lama tanpa pasangan tetap.

Sebetulnya, seks yang sehat itu bagaimana?

Perilaku seks yang sehat adalah seks yang sesuai dengan usia perkembangan pelakunya. Seks edukasi gunanya memberitahu orang mengenai tugas perkembangan psikoseksual sesuai usia biologisnya. Masing-masing usia memiliki peran psikoseksual sendiri. Misalnya, usia 17 tahun peran psikoseksualnya adalah pacaran. Usia 20-an perannya antara lain mencari pasangan tetap.  Sedangkan usia 30-an perannya mencari pasangan hidup, mempertahankan rumahtangga, atau membesarkan anak.  

Peran psikoseksual ini harus dijalani dengan seimbang oleh setiap individu. Kalau tidak sesuai usia, bisa kacau. Misalnya, remaja usia 17 tahun perilaku seksnya seperti orang usia 30 tahun. Atau, orang usia 40 tahun tapi perilaku pacarannya seperti remaja 17 tahun. Ini bahaya dan tidak sehat.

Jadi, seks yang sehat bukan soal berapa kali seharusnya seseorang menikah selama hidupnya, melainkan punya perilaku seks sesuai peranan psikoseksualnya dan tidak melakukan seks yang berisiko. Maksudnya, tidak berisiko terhadap infeksi menular seksual (IMS), kehamilan yang tidak diinginkan, dan terhindar dari IMS. 

Apakah remaja kita sudah melakukan seks yang sehat?

Dari hasil penelitian saja terlihat ada 16 persen orang melakukan seks pertamanya di usia 15 tahun, 36 persen di usia 19 tahun. Ini termasuk seks yang sehat atau tidak, saya tak tahu. Karena apakah mereka menggunakan kondom atau tidak, saya tidak tahu.

Kalau mereka menggunakan kondom sehingga tidak terjadi kehamilan yang tidak diinginkan, itu seks sehat. Sehat bukan dalam arti sesuai usia, melainkan karena memakai kondom saat melakukan. Yang penting adalah ABC, yaitu Abstinence  (tidak melakukan hubungan seks sampai menikah), Be faithful  (setia pada satu pasangan), (use) Condom  (untuk menghindari risiko bila tidak bisa setia pada satu pasangan).  

Di kalangan masyarakat kita masih banyak beredar mitos seks?

Banyak. Salah satu alasan menjadi psikolog seksual adalah saya ingin masyarakat Indonesia punya pemikiran yang lebih terbuka soal seksualitasnya. Kebanyakan dari mereka tidak punya pemahaman akurat tentang perilaku seksual, lebih banyak percaya mitos dibanding fakta, bahkan di kalangan masyarakat kota besar yang berpendidikan.

Sampai-sampai ada orang yang berniat menceraikan istrinya hanya karena percaya mitos. Yang paling sering terjadi mitos malam pertama, dimana perempuan dianggap harus berdarah saat berhubungan seks sebagai tanda masih perawan. Ini bahaya.

Untuk kalangan perempuan sendiri, masih banyak percaya mitos. Misalnya, kalau ingin cepat hamil harus banyak makan tauge. Memang vitamin E sangat tinggi pengaruhnya untuk terjadinya reproduksi. Tapi untuk proses reproduksi yang sempurna dalam tubuh pria maupun wanita dibutuhkan minimal 3 kg tauge, jadi bukan hanya makan sekadarnya saja.

Hasuna Daylailatu / bersambung


blog comments powered by Disqus