Membership
Lupa password?
Profil

Yulina Setianingsih, Pembuat Mainan Aman (1)
Sabtu, 08 September 2012
Yuliana Setianingsih

Foto: Adrianus Adrianto/NOVA

Keinginan memberikan hiburan yang memiliki nilai edukasi bagi sang buah hati mendorong Yulina Setianingsih (37) berinovasi dengan bahan kain sisa. Tak dinyana, dari tangan dinginnya lahir berbagai macam mainan edukasi yang aman bagi anak. Untuk mengenang buah hatinya yang telah berpulang, ibu yang sekarang memiliki dua anak ini menamai usahanya Malva Kayla Toys.

Apa yang melatarbelakangi usaha Anda?

Usaha ini saya buat enam tahun lalu untuk mengenang Malva Kalya, anak pertama saya yang meninggal di usia dua bulan karena jantungnya bocor. Ceritanya, dulu saya pernah bekerja sebagai wartawan di sebuah surat kabar. Malah, sejak kuliah saya sudah menjadi wartawan. Waktu itu, teman wartawan saya yang laki-laki banyak yang merokok. Mau tak mau, saya jadi perokok pasif. Kata dokter, penyebab jantung bocor yang diderita anak saya karena saya banyak menghisap asap rokok itu.

Semenjak kepergian anak saya, saya putuskan untuk berhenti bekerja sebagai wartawan. Saya sebenarnya senang jadi wartawan karena bisa kemana-mana, tapi kalau saya tetap bekerja seperti itu, saya takut akan kehilangan anak lagi. Saya berhenti bekerja saat saya hamil anak kedua dan ingin full time mengurus anak.

Oh iya, nama Malva Kayla sendiri artinya anak yang berhati lembut. Kebetulan saya memulai usaha mainan anak ini dengan bahan flanel, bahan yang lembut.

Kenapa membuat mainan edukasi?

Saat anak kedua saya berumur satu tahun, saya merasa kesulitan mendapatkan mainan edukasi yang aman bagi anak. Tahun 2004 itu, mainan edukasi memang masih sangat jarang. Pernah saya dapat mainan dari Cina, tapi saya tidak mengerti bahasanya dan harganya sangat mahal. Padahal menurut saya, setiap anak berhak mendapatkan mainan edukasi yang aman dengan harga terjangkau.

Kebetulan saya memiliki background  lulusan Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, jadi saya mencoba membuat sendiri mainan edukasi. Mainan pertama yang saya buat adalah play board  dari kain flanel. Bahan flanelnya adalah bahan sisa dari usaha pembuatan souvenir  yang saat itu sedang saya rintis.

Jadi awalnya mainan buatan Anda tidak dijual, ya?

Saat itu semua mainan saya buat untuk dipakai anak sendiri. Ternyata anak saya senang dan suami juga memuji. “Buatan kamu bagus, kenapa enggak dijual saja?” begitu katanya. Akhirnya pada 2005, saya menjual mainan-mainan tersebut melalui milis khusus orangtua dengan anak balita.

Kalau tidak salah, waktu itu saya hanya menjual 10 buku dari flanel tentang burung. Alhamdulillah, buku-buku tersebut laku dalam satu hari. Melihat peluangnya yang besar, saya bikin lebih banyak.

Setelah mainan kain, muncul permintaan membuat mainan anak dari kayu untuk anak usia di atas dua tahun. Saya membuat desainnya, sementara pengerjaannya saya pesan ke pabrik kayu. Ternyata mereka tidak bisa memenuhi standar kualitas dan kuantitas yang saya inginkan. Akhirnya di akhir tahun 2007, saya bikin pabrik kayu sendiri.

Saya memang sangat memerhatikan standar keamanan mainan untuk anak. Saya sendiri punya balita dan tidak mau dia bermain dengan mainan yang berbahaya.

Yuliana dan kel

Berkat berwirausaha, Yuliana punya banyak waktu untuk mencurahkan perhatian kepada keluarga. (Foto: Dok Pri)

Seperti apa standarnya?

Dalam membuat mainan anak, saya harus memerhatikan faktor psikologis anak. Misalnya saat bikin buku kain untuk anak umur 6 bulan, saya perhatikan faktor warnanya. Anak umur segitu tahunya cuma warna putih, hitam dan merah. Selain itu, pernak-perniknya harus menempel dengan kencang. Kalau pakai lem juga tidak boleh yang berbahaya karena biasanya mainan akan digigit oleh anak.

Dulu saya masih pakai bahan flanel, tapi sekarang saya sudah pakai bahan nylex , bahan khusus untuk membuat boneka kain. Kain flanel hanya saya pakai untuk aplikasi saja karena bahan ini menyerap debu. Pokoknya saya terus memperbaharui kualitas barang.

Kalau mainan kayu?

Untuk catnya, ada yang toxic  dan non toxic . Saya pakai cat yang berbahan dasar air atau water base  walaupun harganya lebih mahal. Makanya harga mainan kayu agak mahal karena harga catnya memang mahal. Produsen lain ada juga yang pakai cat water base , tapi dicampur dengan thinner  juga. Itu berbahaya.

Untuk membedakannya gampang. Mainan yang catnya pakai thinner  baunya lebih menyengat dan catnya mengilap. Kalau berbahan dasar air, catnya tidak berbau dan warnanya menyerap di kayu. Jadi kalau tergigit, catnya tidak mengelupas.

Lekuk-lekuk pada mainan kayu juga kami perhatikan betul. Jangan sampai serat-serat kayunya tidak halus dan bisa melukai tangan anak. Makanya kami menerapkan maksimal produksi sekitar 50 pieces  per hari untuk bagian tertentu. Takutnya kalau lebih dari itu, pegawai saya tidak teliti dan membuat mainan yang tidak halus permukaannya.

Dengar-dengar, kebanyakan karyawan Anda adalah tetangga?

Iya, benar. Tadinya semua pembuatan mainan saya kerjakan sendiri. Karena modal saya tidak banyak, saya menjualnya secara online . Kegiatan melayani pesanan hingga mengirimkannya juga saya kerjakan sendiri. Kalau untuk urusan desain website , saya mengerjakannya bersama suami.

Karena permintaan semakin banyak, akhirnya saya merekrut para ibu rumah tangga di sekitar rumah. Mereka mengerjakan pekerjaan di rumah masing-masing. Saya berikan bahan, pola, dan saya kasih tahu berbagai persyaratan yang harus mereka ikuti, terutama soal kebersihan. Kan, kita tidak tahu kebersihan mereka di rumah masing-masing seperti apa. Dengan begitu, justru mereka jadi lebih produktif.

Sekarang sudah ada 10 orang ibu rumah tangga yang saya libatkan. Kegiatan ini menyenangkan buat mereka karena menambah penghasilan. Dalam satu bulan mereka bisa mendapatkan Rp 500 ribu – Rp 600 ribu. Kebanyakan ibu-ibu yang saya rekrut adalah ibu-ibu yang kurang secara ekonomi. Ada yang suaminya buruh, ada yang anaknya menderita leukimia. Mereka jadi benar-benar terbantu. Kalau untuk karyawan di pabrik, total ada 24 orang.

Renty Hutahaean / bersambung


blog comments powered by Disqus