Membership
Lupa password?
Profil

Tri Rismaharini, Berjuang Mengubah Wajah Surabaya (1)
Jumat, 16 November 2012
Tri Rismaharini

Foto: Gandhi Wasono M/NOVA

Sejak berada di bawah kepeimpinannya, wajah Kota Surabaya berubah total. Selain tampil lebih bersih dan rapi, di setiap sudut kota bertebaran taman-taman nan cantik sebagai sarana bermain warga kota. Namun kiprahnya hingga menjadi Walikota Surabaya tak semulus yang dibayangkan. Di awal pemerintahannya ia sempat dilengserkan, kendati akhirnya tak jadi. Simak perjalanan hidupnya.

Aku tak pernah membayangkan bisa menapaki karier menjadi walikota seperti sekarang ini. Dulu, setamat dari SMA 5 Surabaya aku diminta orangtua melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), jurusan aristektur. Padahal cita-citaku sejak kecil ingin menjadi dokter.

Bapak yang saat itu sudah sepuh dan pindah dari Kediri ke Surabaya memintaku mengambil jurusan tersebut dengan pertimbangan sederhana saja, agar setelah lulus bisa segera dapat pekerjaan. Memang benar, sejak menjadi mahasiswa ITS, meski belum lulus aku sudah bisa mencari uang sendiri dengan membantu mengerjakan proyek-proyek Pemkot Surabaya.

Makanya, dengan orang-orang Pemkot generasi lama sejak dulu aku sudah cukup kenal karena sudah sering membantu mengerjakan proyek yang ada di Pemkot. Dan di kampus pula aku bertemu dengan mahasiswa bernama Djoko Saptoadji yang kini menjadi pasangan hidupku. Mas Sapto, di ITS mengambil jurusan teknik elektro dan saat ini bekerja pada perusahaan swasta di Mojokerto.

Setamat kuliah aku mencoba mendaftar sebagai PNS. Alhamdulillah, akhirnya diterima. Tapi, pertama kali bekerja sebagai PNS saya tidak ditempatkan di Surabaya, melainkan di Bojonegoro (Jatim). Baru setelah lima tahun berjalan, aku bisa pindah ke Surabaya.

Percantik Wajah Kota

Di Surabaya beragam tugas pernah aku emban, dari menjadi kepala seksi tata ruang dan tata guna tanah Bapekko, kepala seksi pendataan dan penyuluhan dinas bangunan, kepala cabang pertamanan, kepala bagian penelitian dan pengembangan, kepala dinas kebersihan dan pertaman, serta kepala badan perencanaan pembangunana kota Surabaya.

Bagiku, menjadi pejabat adalah amanah Tuhan sehingga hukumnya wajib melaksanakan tugas yang diemban dengan baik. Setiap ditempatkan di bidang apa pun aku berusaha menjadi abdi masyarakat yang mengerjakan tugas dengan tulus dan ikhlas. Misalnya saat menjadi kabag penelitian dan pengembangan, aku menciptakan sistem baru dan pertama ada di Indonesia, yakni menerapkan lelang melalui internet.

Dengan sistem baru ini, kemungkinan terjadinya praktik KKN menjadi sangat kecil mengingat sifatnya terbuka dan bisa diakses semua orang. Demikian pula ketika menjadi kadin kebersihan dan pertamanan Surabaya, aku berusaha mengubah wajah kota Surabaya menjadi lebih indah, asri, dan bersih.

Aku ingin kotaku menjadi kota yang cantik dengan taman-taman kota yang menarik. Maka sejak menjabat di bagian kebersihan aku benar-benarall out . Aku setiap hari berangkat dinas pagi-pagi sekali sebelum para pegawai masuk kantor. Aku tak langsung menuju kantor tapi keliling kota dulu mengawasi langsung para pasukan kuning (petugas kebersihan kota, Red. ) menyapu jalanan.

Sementara lahan-lahan kosong yang ada di tepi-tepi jalan, aku manfaatkan sebagai taman kota bahkan dijadikan taman tempat bersantai keluarga. Saat ini di seluruh Surabaya sudah terdapat puluhan titik taman hijau. Taman dan lahan hijau ini sangat penting, tak hanya sebagai paru-paru kota tapi sekaligus sebagai daerah resapan untuk mengurangi banjir.

Untuk membuat taman, bagiku tak ada masalah. Aku, kan, arsitek. Jadi rasannya untuk mendesain taman saja, sih, tak ada susahnya. Ha ha ha. Dan tak melebih-lebihkan, wajah Kota Surabaya kini memang sudah sangat berbeda. Begitu orang masuk ke kota ini pasti akan dibuat kagum dengan kebersihannya.

Oh ya, tak hanya berangkatnya saja yang pagi-pagi sekali, ketika menjabat kadin kebersihan aku juga selalu pulang kerja di atas jam 20.00 bahkan terkadang sampai larut malam. Soalnya, sebelum pulang aku juga punya kebiasaan ber keliling dulu ke sudut-sudut kota Surabaya, untuk melihat apakah ada lampu jalanan yang mati atau ada kawasan gelap yang perlu dipasang penerangan.

Kampanye Walikota

Sebelum menjadi Walikota, hubunganku amat dekat pasukan kuning atau petugas kebersihan. Berkat mereka, Surabaya menjadi kota yang asri dan indah.

Disiplin Tinggi

Karena tak bisa setiap waktu berada di rumah, aku berusaha memberikan pengertian kepada suami dan kedua anakku, Fuad Nenardi dan Tantri Gunarni. Mereka aku minta pengertiannya karena tak bisa selalu bersama mereka. Kendati demikian aku selalu rajin berkomunikasi dengan mereka di sela-sela tugasku.

Tak hanya di tengah pegawai saja, di tengah keluarga termasuk anak-anak, aku juga menerapkan disiplin tinggi dalam segala hal. Aku berusaha mengajak mereka berusaha mandiri dan rajin. Salah satu contohnya, sampai saat ini meski dengan anak sendiri, aku menerapkan tata kelola keuangan yang benar.

Misalnya, setiap pengeluaran uang harus tercatat dan selalu ada laporannya. Jadi bila anakku makan di luar, membeli bensin, atau ada biaya foto kopi untuk keperluan kuliahnya, sekecil apapun jumlahnya dia harus bisa menunjukkan kuitansinya. Bila tak bisa menunjukkanya, jangan harap uang itu akan aku ganti. Tujuanku hanya satu, agar mereka bisa menghargai uang dan mengharagai jerih payah orangtua yang sudah berusaha payah mencari nafkah buat mereka.

Soal uang ini bagiku memang sangat sensitif dan aku harus tegas. Ini ada cerita yang sampai saat ini tak bisa aku lupakan. Menjelang pencalonan sebagai walikota Surabaya, setiap hari pekerjaanku adalah keluar-masuk kampung untuk memaparkan program kerja yang kelak akan aku kerjakan bila terpilih.

Nyaris Dicopot

Nah, ketika mengunjungi sebuah perkampungan, seusai aku memaparkan program-program, di tengah-tengah pemaparan itu ada seorang utusan dari ratusan warga yang menanyakan langsung, yang intinya kelak jika warga memilih diriku sebagai walikota, apa yang bisa aku berikan kepada warga sebagai imbalannya.

Jujur, mendengar ucapan itu telingaku langsung panas. Seketika itu juga, di atas podium aku katakan kepada mereka, “Tolonng catat, jika tujuannya memilih saya hanya karena ingin mendapatkan materi, saya minta Bapak dan Ibu sekalian tidak usah memilih saya. Saya tidak jadi walikota pun tidak apa-apa, karena saya jadi walikota bukan keinginan pribadi, tetapi partai yang meminta,” demikian yang aku ucapkan dengan suara lantang dan wajah memerah menahan amarah.

Bagiku, aku adalah pribadi yang bermartabat, aku tak mau merendahkan diri dengan cara ingin memenangkan pemilihan ini lewat membeli suara. Mendengar aku berkata demikian suasana ruangan mendadak senyap, semua orang terdiam. Mereka sepertinya tak menduga aku bakal berkata seperti itu.

Sekali lagi, bagiku jabatan ini amanah dari Allah sehingga aku harus menjalankannya dengan baik. Karena sikapku yang tegas dan tak pandang bulu, memang banyak orang yang tak suka melihat pola kepemimpinanku. Oh ya, tak berapa lama sejak aku terpilih menjadi walikota, aku sempat dilengserkan melalui sidang DPRD Kota Surabaya. Publik Surabaya pun geger, di berbagai kunjungan banyak orang menangis di depanku sambil menanyakan bagaimana jika jabatanku benar-benar akan dicopot.

Melihat orang-orang menangis seperti itu, sambil teratwa aku berkata, “Kenapa Anda semua menangis? Lha wong saya saja tidak. Sekali lagi saya katakan, kalau memang mau mencopot saya, silakan copot saja. Saya tidak akan pernah menghalangi, karena jadi walikota ini bukan saya yang menginginkan!” kataku kembali dengan suara lantang.

Memang, jika menilik pada masa pemilihan walikota di tahun 2010 lalu, aku sama sekali tak pernah menyangka akan duduk sebagai orang nomor satu di Pemkot Surabaya ini. Sejak awal aku tak pernah mengincar kursi jabatan ini. Jadi, menjelang pemilihan walikota tiba-tiba tokoh masyarakat Surabaya memintaku maju dalam pemilihan, berpasangan dengan Pak Bambang DH, sebagai wakilnya.

Jujur saja, kala itu aku hanya menuruti saja saran para tokoh masyarakat. Lagi pula aku tak pernah terbayang akan sampai terpilih. Mana mungkin aku bisa terpilih, lha wong aku tak memimiliki modal sama sekali. Apalagi pesaingku memiliki nama yang sudah sangat populer. Tapi justru karena itu aku melaju tanpa beban. Andai toh aku tak terpilih, pun tak masalah.

Lagipula, selama ini aku tak tahu soal percaturan politik. Berbeda dengan Pak Bambang DH. Selain dedengkot PDIP, beliau sudah menjadi walikota dua periode. Makanya, di periode berikutnya beliau tak bisa lagi menjadi walikota, tapi dicalonkan menjadi wakil untuk mendampingiku. Tak disangka, dalam pemilihan itu aku dan Pak Bambang dinyatakan menang atas calon lain. Sungguh, semua itu di luar perkiaraanku. Tetapi sebagai bentuk tanggungjawab, aku harus menjalankan amanah yang diberikan masyarakat kepadaku.

salah satu program

Salah satu program kerjaku, mendorong warga agar kreatif memanfaatkan lahan kosong. Misalnya, membudidayakan ikan di sekitar rumah warga.

Stop Trafficking

Ketika aku terpilih, aku harus berusaha menyejahterakan masyarakat, terutama soal pendidikan. Untuk biaya pendidikan di Surabaya sejak SD sampai SMA, aku beri gratis. Tingkat SD dan SMP memang sudah dapat dana Bantuan Operasional Siswa (BOS), tapi untuk Surabaya saya menggenapi sampai tingkat SMA, juga lewat program Bantuan Operasional Pendidikan Dearah (Bopda), baik untuk sekolah swasta maupun negeri.

Untuk SMA non RSBI mendapat bantuan sebesar Rp 152 ribu per bulan per anak, sedangkan untuk sekolah RSBI mendapat bantaun Rp 242 ribu per bulan per anak. selanjutnya, saya juga menerapkan pemberian bantuan bagi anak tak mampu dengan kuota 5 persen per sekolah. Bagi anak dari golongan miskin, selain pembebasan biaya pendidikan si anak mendapat bantuan personal. Sehingga, untuk warga Surabaya tak boleh ada anak tidak sekolah dengan alasan tak punya biaya.

Namun sebagai kepala pemerintahan, aku tak boleh hanya membantu yang miskin saja. Aku juga harus seimbang dengan memperhatikan golongan menengah ke atas. Misalnya, aku berusaha menjaga agar kawasan perumahan mewah kondisi jalannya halus, saluran pembuangan air dan resapan air nya berfungsi baik sehingga tak sampai terjadi banjir.

Mengapa aku harus memperhatikan mereka? Mereka layak mendapat perlakuan demikian karena mereka lah pembayar pajak yang besar. Sehingga tak berlebihan jika mereka mendapat perlakuan yang istimewa.

Tak hanya persoalan fisik semata, aku juga mencoba memperhatikan betul para korban KDRT maupun anak-anak korban trafficking . Aku sangat gemas kepada para pelaku tindak trafficking . Setiap terungkap perdaganggan anak oleh polisi, aku nyaris tak pernah absen mendatangi para pelaku. Tak segan aku mendaprat para mucikari yang pekerjaannya menjual anak-anak dibawah umur sebagai pemuas nafsu pria hidung belanag. Pelaku trafficking ini benar-benar merusak masa depan korbannya.

Semogas saja, aku bisa menyelesaikan tugasku sebagai walikota dengan baik, dan semasa kepemimpinanku memberi manfaat bagi warga Surabaya.

Gandhi Wasono M/ bersambung


blog comments powered by Disqus