Membership
Lupa password?
Profil

Tri Rismaharini, Atlet Andalan yang Pernah Membolos (2)
Jumat, 16 November 2012
Tri Rismaharini

Di balik kiprahnya sebagai walikota Surabaya yang dekat dengan warganya, ibu dua anak yang dikenal tegas ini memiliki kisah hidup yang menarik. Ia terlahir dari keluarga berada yang dermawan dan sejak kelas 3 SD sudah menjadi pelatih tari. Ketika memasuki usia remaja, ia juga dikenal sebagai atlet andalan Kota Surabaya.

Bicara soal masa lalu, termasuk masa kecilku, memang menarik dan penuh warna. Meskipun aku asli orang Surabaya, tapi aku lahir di Kota Kediri (Jatim), sebagai anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Bapak M. Chuzaini dan Siti Mudjiatun.

Bapakku pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di kantor pajak. Kendati sebagai seorang PNS yang punya gaji pas-pasan, namun secara materi Bapakku punya kekayaan lebih dari cukup. Tapi perlu diingat, materi itu tak diperolehnya dengan cara yang tidak halal seperti korupsi atau KKN, tapi Bapak memang ulet mencari uang.

Di sela-sela kesibukannya sebagai PNS, Bapak punya beragam usaha sampingan. Mulai dari jadi pemasok bahan-bahan pokok seperti beras, gula, jagung, dan lainnya, dan beragam usaha lain. Karena hidup dengan materi yang serba berkecukupan, seluruh saudaraku termasuk aku, masing-masing disediakan pembantu pribadi untuk mengurusi segala keperluan kami.

Sementara itu, Bapak memiliki karakter yang keras dan berdisplin tinggi. Sebaliknya, Ibu perempuan yang berkepribadian lembut. Namun orangtuaku amat dekat dengan kelima anaknya. Meskipun begitu, Bapak mendidik setiap anaknya untuk menghargai uang. Bapak juga mengajak semua anaknya untuk “terlibat” di dalamnya.

Sejak aku masih duduk di bangku SD Bapak sudah melibatkanku ikut andil mengelola usahanya. Misalnya, Bapak memintaku membantu menghitung pemasukan dan pengeluaran barang di toko, mengantar barang-barang ke pelanggan naik becak, dan masih banyak lagi. Layaknya karyawan Bapak, beliau juga memberi aku gaji atas jerih payahku yang sudah membantunya setiap hari. Karena itu, ketika masih kanak-kanak, aku sudah punya tabungan pribadi.

Tak heran, sejak masih usia belia aku sudah bisa membeli beragam keperluan. Misalnya, karena aku suka sekali bersepeda, setiap ada sepeda mini model terbaru, aku mampu membelinya sendiri. Akibat seringnya membeli sepeda, aku jadi punya banyak sekali koleksi sepeda di rumah. Ha ha ha.

Sering Sakit

Kendati begitu, Bapak juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Asal tahu saja, Bapak sampai menyiapkan satu rumah khusus untuk dijadikan tempat tinggal sekitar 40-50 anak yatim tidak mampu. Anak-anak ini sehari-harinya diasuh Bapak. Bersama mereka pula aku berkumpul dan bermain setiap hari.

Oh ya, perlu diingat juga, kendati aku anak kandung, aku diperlakukan sama dengan anak-anak asuh itu oleh Bapak. Bahkan, ada suatu masa aku justru merasa Bapak lebih mengutamakan anak-anak asuh itu ketimbang anak-anaknya sendiri. Contoh saja, bila aku punya mainan tapi anak-anak asuh itu tidak punya, Bapak akan merayuku untuk memberikan mainan itu kepada mereka.

“Kasihan Nak, dia sudah tidak punya orangtua, jadi kamu harus lebih mengalah,” demikian yang sering diucapkan Bapak. Ya, namanya juga anak-anak, terkadang aku dongkol sama Bapak. Apalagi dalam banyak hal Bapak lebih sering meminta aku untuk lebih mengalah kepada mereka.

Tetapi jujur saja, di balik kenikmatan materi yang aku miliki kala itu, masa kecilku tak bisa kujalani seleluasa anak-anak lain. Ketika kecil aku sering sakit-sakitan, dan salah satu penyakit yang paling menganggu adalah asma. Karena itu aku tak boleh terlalu capek agar asmaku tak mudah kambuh.

Akibat sering kambuh, Bapak dan Ibu sangat membatasi kegiatanku. Terutama Bapak yang sangat protektif. Beliau minta aku tinggal di rumah saja dan tak boleh bermain dengan teman-teman sekampung. Setiap pulang sekolah, aku diminta langsung beristirahat dan tidur siang.

Nah, gara-gara sering sakit dan asma kambuh, aku jadi punya cita-cita ingin jadi dokter. Pola pikirku sebagai anak sederhana saja, dengan menjadi dokter kelak aku bisa mengobati diriku sendiri. Sayang, garis hidupku selanjutnya menentukan jalan lain. Ketika masuk perguruan tinggi aku justru memilih jurusan arsitektur sebagai pilihanku.

SMAN 5

Disinilah aku dulu bersekolah. Semasa SMA aku pernah tercatat sebagai atlet andalan Surabaya,lho.

Melatih Tari

Oh ya, kembali ke masa kecilku yang sakit-sakitan, karena bosan selalu tinggal di rumah, kakakku sampai kasihan melihatku. Karena itu di jam tidur siang biasanya aku pura-pura tertidur dan menutup rapat pintu kamar. Selanjutnya, kakakku membukakan jendela dan aku melompat ke luar rumah secara sembunyi-sembunyi agar bisa bermain dengan teman-teman di kampung. Sorenya, kembali masuk kamar lewat kendela sehingga Ibu tak tahu aku sudah menyelinap. Ha ha ha.

Gara-gara sering sakit aku juga tak bisa seaktif anak-anak lainnya. Tapi aku tak mau larut dengan keadaan fisikku yang lemah. Sehingga aku memilih menyibukkan diri dengan berlatih menari di sekolah. Waktu senggang aku gunakan dengan sunguh-sungguh untuk belajar berbagai jenis tarian tradisonal.

Berkat keseriusanku berlatih tari, aku akhirnya memiliki kemampuan menari lebih tinggi dibandingkan teman-teman lain. Bahkan, ketika masih duduk di kelas 3 SD, aku sudah bisa melatih kakak-kakak kelasku menari. Tak hanya itu, di waktu-waktu tertentu aku kerap menerima undangan menari di berbagai tempat di Kediri, misalnya mengisi acara 17 Agustus-an.

Memang tak menerima bayaran, tapi menari merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan buatku sebab tak banyak anak-anak lain yang punya kesempatan seperti aku. Dengan aktif menari pula kondisi fisikku berangsur-angsur membaik dan asmaku tak mudah kambuh. Hobi menari ini aku lakoni sejak kelas 3 SD sampai aku duduk di bangku kelas 2 SMPN 1 Kediri.

Selanjutnya, seiring berjalannya waktu, aku pun berpindah sekolah ke SMPN 10 Surabaya. Sayangnya, sejak tinggal di Surabaya, kegiatan menari sudah tak aku jalani lagi, namun bukan berarti berhenti sama sekali dari kegiatan ekstrakulikuler sekolah. Malah aku punya kegiatan lain yang juga aku senangi, yakni olahraga. Dan olahraga yang aku geluti adalah lari cepat atau atletik.

Risma dan Kel

Kepada kedua anakku, Fuad Nenardi dan Tantri Gunarmi, hasil perkawinanku dengan Djoko Saptoadji, aku menerapkan disiplin tinggi juga prinsip kejujuran.

Atlet Andalan

Aku termasuk orang yang selalu serius ketika menjalani sesuatu yang menjadi kesenangan dan pilihanku. Karena itu, ketika aku memilih terjun sebagai atlet, semua aku lakukan dengan sungguh-sungguh bahkan sampai menorehkan prestasi. Memang benar, berkat ketekunan dan rajin berlatih, aku berhasi jadi pelari andalan Kota Surabaya.

Di Surabaya aku menduduki peringkat dua, di bawah prestasi pelari nasional Heny Maspaitella, yang namanya terus meroket sampai tingkat nasional di kala itu. Bahklan ketika bersekolah di SMAN 5 Surabaya, pihak sekolah sampai memberikan dispensasi khusus dan memperbolehkan aku masuk kelas jam 10.00, karena pagi harinya aku harus berlatih lari terlebih dahulu.

Namun ketika naik ke kelas 2 SMA, aku membuat keputusan besar. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai atlet. Aku terpaksa tak melanjutkannya karena merasa prestasiku sudah mentok, tak ada peningkatan. Padahal aku sudah berusaha mati-matian berlatih, tetap saja capaian prestasiku tak bisa maksimal lagi.

Hal itu tentu tak sebanding dengan pengorbananku melewatkan jam-jam sekolah dengan berlatih di lapangan setiap hari. Akibat aku lebih fokus ke latihan pula prestasiku selama di SMA tak bisa semoncer seperti saat aku di SD dan SMP, bahkan pernah terpilih sebagai pelajar teladan.

Nah, ketika meninggalkan dunai atletik, sebenarnya aku sempat kembali menekuni dunia tari. Aku diajak teman-temanku berlatih lagi tapi bukan tarian tradional Jawa, melainkan berlatih tari Bali. Sayangnya, setelah aku mulai menguasai tarian Bali, kegiatan itu tak bisa lama aku jalani.

Mengulang Ujian

Semasa di SMA aku juga bandel, lho. Malah aku pernah membolos. Ha ha ha. Tapi bolosnya bukan untuk keluyuran, melainkan aku gunakan untuk belajar matematika. Soalnya, aku “dendam” kepada seorang guru yang mengajarkan pelajaran itu di sekolah. Entah karena apa, seolah kemampuanku dalam memecahkan soal matematika selalu disepelekannya. Akhirnya, aku memilih bolos dan berusaha belajar maksimal sampai bisa menunjukkan yang terbaik di depan kelas. Memang benar, kesungguhan itu tidak sia-sia. Nilai ulangan matematikaku berhasil sangat bagus.

Oh ya, ada satu pengalaman yang tak bisa aku lupakan semasa SMA. Suatu ketika di sekolah tengah ada jadwal ulangan fisika. Entah bagaimana terjadinya, soal ulangan itu bocor ke semua siswa sehingga teman-temanku bersiap membuat jawabannya untuk sontekan. Memang benar adanya, pada saat jam ulangan tiba semua teman-temanku tak menemui kesulitan sama sekali karena mereka sudah memiliki jawaban yang benar.

Sementara aku sama sekali tidak membuat sontekan, karena buatku menjawab soal ulangan dengan murni tanpan menyontek adalah keharusan, apa pun hasilnya nanti. Sehingga sudah bisa dipastikan, seusai ulangan teman-teman di kelas semua mendapat nilai bagus. Sebaliknya, hanya aku satu-satunya yang dapat nilai jelek dan harus mengulang.

Namun terlepas dari semua itu, bagiku, kejujuran buatku adalah hal yang utama. Aku rela menerima nilai jelek, sepanjang itu adalah hasil karyaku sendiri. Dan prinsip-prinsip itu tetap aku pegang kuat-kuat hingga sekarang bahkan aku ajarkan kepada kedua anakku.

Gandhi Wasono M.

Views : 1946

blog comments powered by Disqus