Membership
Lupa password?
Profil

Tri Haryanti, Rezeki Nugget Sayur
Selasa, 16 Agustus 2011
Tri Haryanti

Foto: Edwin Yusman

Ketika melihat si sulung dari tiga putrinya kurang suka mengonsumsi sayur, wanita berusia 31 tahun ini lalu memutar otak. Ia pun berhasil menemukan “senjata rahasia”, yakni nugget!

Sejak kapan membuat nugget sayuran?

Semuanya dimulai secara tak sengaja pada Okotober 2010. Awalnya, saya suka menerima pesanan kue bolu. Sampai kemudian saya tahu si sulung susah makan sayur, jadi terpikir untuk berkreasi. Dan terpilihlah nugget. Kebetulan saya pernah lihat di teve dan media cetak tentang cara membuat nugget. Ternyata, anak-anak suka melahap nugget buatan saya. Lalu, saya coba memasarkannya. Alhamdulillah tanggapannya bagus. Saya lalu menamakan usaha nugget ini sesuai nama si bungsu, Shiva.

Kebetulan dulu saya tinggal di Banaran Argomulyo, Cangkringan, Sleman, dekat Waduk Kedung Ombo (Jateng). Jadi mudah dan murah dalam mendapatkan ikan dan sayur sebagai bahan baku. Sayurnya saya pakai wortel dan brokoli agar tak mudah hancur dalam proses pembuatan dan tidak hilang vitaminnya. Hasilnya akan berbeda jika pakai bayam. Sayang, akibat erupsi Merapi, saya harus mengungsi dan terpaksa menghentikan proses produksi. Akhir Februari 2011 saya memulai kembali usaha ini sampai sekarang.

Berapa modalnya ketika itu?

Kecil, kok. Sayur, kan, murah. Untuk sekali produksi ikan segarnya sekitar 8 kg. Secara rupiah, ditambah bahan-bahan lainnya habis sekitar Rp 250 ribu per produksi. Saya jual per pack isi 14 buah dengan berat 250 gram Rp 4.000 - Rp 10.000. Dalam satu hari, omzetnya Rp 300-400 ribu.

kemasan nugget

Kemasan nugget dibuat menarik (Foto: Edwin Yusman F)

Bagaimana memasarkannya?

Awalnya saya tawarkan ke ibu-ibu di sekolah anak saya, lalu ke sejumlah perumahan dan kantor-kantor. Saya juga menitipkannya di beberapa warung yang punya freezer . Pelanggan saya beri brosur beserta nomor telepon, jadi bisa pesan antar. Saya juga menjualnya via internet, tanggapannya lumayan bagus. Hanya saja, saya belum bisa memenuhi semua pesanan.

Banyak kendala yang saya hadapi. Di antaranya, lokasi pemesan di kota kecil atau luar Jawa, yang membutuhkan waktu pengiriman lebih dari 24 jam. Saya belum bisa mengemas nugget secara khusus. Kalaupun dikemas dengan styrofoam atau dry ice , biaya pengirimannya jadi lebih mahal. Jadi, untuk sementara saya belum bisa melayani pengiriman yang jauh.

Usaha ini, masih bisa dikerjakan sendiri. Membuat nugget, kan, sebenarnya mudah dan tak perlu setiap hari. Sayur dan ikan yang saya gunakan juga segar. Setelah dibuat dalam jumlah banyak, saya simpan di freezer . Jadi saya punya waktu untuk memasarkannya. Kalau persediaan menipis, baru bikin lagi. Untuk memperluas usaha, saya juga menerima kerjasama atau sistem reseller, dengan minimal pemesanan 100 pack. S aya beri harga lebih murah sehingga ada keuntungan lebih buat reseller . Tapi, jika ada yang mau memasarkan dengan merek lain, saya tolak. Malah, saya pernah menolak ketika ada yang ingin membeli putus resepnya.

Apa kendala lainnya?  

Paling soal izin edar saja. Kemarin saya protes ke Dinkes Sleman. Soalnya di sini tidak bisa mengeluarkan izin P-IRT (Produk Hasil Industri Rumah Tangga, Red. ), tak seperti di daerah lain misalnya Jakarta, Semarang atau Bogor. Saya malah diminta mengurus izin ke BPOM. Padahal usaha saya, kan, masih kecil -kecilan dan termasuk industri rumah tangga. Andai saja bisa mendapatkan izin itu, saya bisa memasarkannya ke swalayan.

Apa keunggulan Nugget Shiva dibanding nugget lain?

Selain menggunakan bahan-bahan segar, saya tidak pakai bahan pengawet. Nuggetnya juga bisa tahan 1 bulan jika disimpan dalam keadaan beku. Sejauh ini, saya hanya dibantu seorang karyawan. Sekarang pesanan nugget makin meningkat. Saya juga harus terus berkreasi, tak hanya soal rasa tapi juga bentuk.

Nugget Shiva sekarang ada rasa sayur ikan nila, sayur ikan lele, sayur ayam keju, sayur ayam jamur, dan sayur tempe. Khusus nugget sayur, agak susah dibentuk macam-macam seperti alphabet  karena lebih lembek. Kreasi bentuk, baru saya terapkan pada nugget ayam berbentuk seperti permen lolipop.

Sayur-sayuran untuk membuat nugget tak perlu dipotong halus, cukup kasar saja. Jadi masih terasa sayur dan ikannya, juga tak cepat hilang vitaminnya. Untuk ikan yang digunakan, sebelumnya dikukus terlebih dahulu, dipisahkan daging dan durinya lalu dihaluskan dengan food processor .

Proses Nugget

Karena produksinya masih sedikit, semuanya masih bisa dikerjakan Tri sendiri (Foto: Edwin Yusman F)

Kreasi apa lagi yang ingin dibuat?

Saya ingin membuat nugget dari ikan laut. Tapi sulit mendapatkan ikan laut yang benar-benar segar, jadi masih harus ditunda dulu. Oh ya, ada cerita lucu waktu pertama kali berkreasi bikin nuget tempe campur ikan tenggiri. Setelah jadi dan saya coba, malah saya gatal-gatal sendiri karena punya alergi ha ha ha..

 Tapi saya tak putus asa dan terus mencari komposisi nugget tempe yang pas. Akhirnya ketemu dan dapat tanggapan bagus dari pelanggan. Malah nugget tempe ini pernah juara di acara lomba masak sekelurahan. Oh ya, dalam waktu dekat saya juga akan mengeluarkan kreasi baru, bakso wortel dan brokoli serta sosis wortel dan brokoli. Usaha nugget, kan, tak jauh-jauh dari sosis, rolade dan bakso.

Oh ya, usaha ini amat berjauhan dengan latar belakang pendidikan Anda, ya?

Iya, saya lulusan Geologi UGM. Tapi, saya senang-senang saja. Kebetulan saya senang berkreasi atau coba-coba resep. Juga hobi jalan-jalan dan jualan. Sejak kuliah saya sudah sering jualan macam-macam, seperti seprei, baju dan kue yang dititip di warung dan kantin kampus. Lagipula, dengan begini saya jadi bisa mengurus anak dan tak perlu meninggalkan rumah dalam waktu lama.

Sebelumnya, saya pernah kerja kantoran dan jadi pengajar di Politeknik UGM. Ketika saya memutuskan berhenti kerja, banyak yang menyayangkan sebab posisi karier sedang bagus. Tapi, ya, namanya rezeki, bisa datang dari mana saja. Bahkan, sepertinya wiraswasta sudah benar-benar jadi pilihan hidup saya.

 Edwin Yusman F


blog comments powered by Disqus