Membership
Lupa password?
Profil

Siti Rohmani Concern Tegakkan Etika Bisnis
Senin, 11 Juni 2012
Siti Rochmani

Foto: Dok Pri

Pemilik bisnis Ayam Ungkep Asli Yogya, ini, sejak Januari 2012menduduki  jabatan sebagai KetuaLembaga Ombudsman Swasta (LOS) DIY. Bagaimana cara ibu dua anak kelahiran Boyolali 12Agustus 1970 ini berbisnis sambil memangku jabatan ini?

Bisa dijelaskan apa itu Lembaga Ombudsman Swasta?

Lembaga Ombudsman Swas­ta  (LOS) adalah lembaga pengawasan untuk tata kelola bisnis yang beretika. Tujuannya untuk mendorong  dan mengawasi tata kelola usaha yang beretika dan berkelanjutan. Maksudnya, bukan untuk mematikan usaha, melainkan justru  dalam rangka agar bisnisnya berkelanjutan dan mendapat kepercayaan masyarakat.

LOS DIY ini semula merupakan inisiasi kelompok pengusaha agar ada penegakan etika bisnis. Bila ada pelanggaran etika bisnis, bukan hanya konsumen, tetapi sesama pelaku usaha juga bisa menjadi korban akibat persaingan usaha yang tidaksehat.

(LOS di DIY terbentuk berdasarkan Pergub no 22 tahun 2008. Ditetap­kan atau diundangkan 25 Agus­tus 2008. Ani, sapaan Siti Rahmani dilantik sebagai Ketua Ombudsman Januari 2012 atau ketika LOS sudah memasuki periode ke-3 karena masa jabatan ini hanya 3 tahun.)

Pelanggaran etika bisnis  itu contohnya seperti apa?

Banyak , ya. Kita bicara etika dan hukum. Ada perbedaannya. Kalau melanggar hukum, itu pastilah melanggar etika. Tetapi melanggar etika belum tentu melanggar hukum.Nah, domain LOS itu di pelanggaran etikanya. Contoh terkecil misalnya, produk yang diterima konsumen tidak sesuai dengan perjanjian.

Banyak pula kasus yang terjadi sesama pelaku usaha. Pada umumnya  persaingan tidak sehat.­ Misalnya duplikasi produk, atau meng­klaim bahwa suatu produk me­rupakan hasil inovasi dia.UMKM  ada­lah pihak yang paling rentan jadi korban persaingan yang tidak sehat.

Lantas di mana posisi LOS bila terjadi konflik?

LOS menjadi penengah antara­ pi­hak yang berkonflik. Baik kon­sumen dengan produsen atau sesama pengusaha. Mediasi  menjadi bagian dari upaya menyelesaikan persoalan. Mediasi bisa dilakukan atau tidak dilakukan, out pun kami tetap rekomendasi.Muatannya­ adalah tata kelola beretika bisnis kendati pun sudah ada kesepakatan untuk memenuhi tuntutan masing-masing. Rekomendasi itu tujuannya untuk jangka pan­jang agar tidak terjadi kasus serupa.

Siti dan Staf

Siti Rohmani dan staf Ombudsman berusaha menegakkan etika bisnis yang baik. (Foto: Rini Sulistyati/NOVA)

Apakah mediasi selalu berhasil mengatasi masalah?

Mediasi bisa berhasil dan gagal. Berhasil, bila ada keinginan kedua belah pihak untuk sepakat, win-win solution . Bila mediasi gagal, kami kembalikan ke masing-masing pihak. Mau menempuh jalur apa? Bila menempuh jalur hukum, dan ternyata hukumnya lemah, apa yang bisa dilakukan selanjutnya? Bisa saja yang merasa dirugikan menulis Surat Pembaca di koran dengan harapan untuk memberikan efek jera.

Banyakkah masyarakat yang sudah berani melapor ke LOS?

Masyarakat memang harus dikuatkan supaya berani mengungkap­kan pelanggaran etika bisnis yang menimpanya. Sejauh ini sudah cukup banyak laporan masuk. Rating ter­inggi adalah bidang keuangan, pe­rumahan, ketenagakerjaan. Kasus­ perumahan juga banyak dan korban­nya kalangan menengah-atas.

Kenapa tertarik masuk LOS?  

Back ground   saya memang pengusaha. Saya masukke LOS karena  concern   ingin menegakkan etika­ bis­nis. Saya ingin jadi pengusaha yang beretika agar ada perubahan lebih efektif. Saya ini kan juga pelaku bisnis. Saya punya warung makan Ayam Ungkep­ asli  Jogja­ di Jl. Jambon.

Kenapa memi­lih bisnis ayam ung­kep?

Ini given . Saya  tidak pernah mem­bayangkan  akan berbisnis ayam.­ Ide itu muncul begitu saja. Kebetulan anak-anak saya suka makan ayam.  Suatu kali saya membeli tabloid yang memuat aneka resep olahan ayam. Resep itu berulangkali saya pelajari dan praktekkan. Suami dan kedua anak saya mengatakan, masakan saya enak. Dari sanalah ide jualan ayam.Saya  milih ayam ungkep karena ayam olahan saya bisa dibakar, digoreng, atau langsung dijadikan lauk tanpa diolah lagi.

Saya juga mempraktekkan aneka sambal. Salah satu yang dibilang enak oleh suami dan anak-anak, saya pasangkan dengan ayam ungkep itu. Mulailah saya menyebar brosur jualan ayam yang saya kemas dalam kondisi beku. Ternyata mendapat sambutan baik dari kalangan menengah.

Ayam Ungkep

Ayam ungkep jadi pilihan Siti berbisnis. (Foto: Rini Sulistyati/NOVA)

Lalu bikin rumah makan?

Nah, itu karena kebutuhan dan permintaan pasar. Sembari jualan ayam, saya juga jualan nasi kardus. Salah satu pelanggan saya adalah Bank Indonesia. Calon pembeli lainnya ternyata kesulitan mencari di mana rumah makan yang menjual ayam ungkep. Akhirnya saya buka warung makan ayam ungkep, asli ayam kampung.

Sejak kapan mulai berbisnis?

Ketika kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Syariah, saya dagang batik dan kerudung. Di semester akhir kuliah saya aktif  jadi relawan di LSM Rifka Anissa yang concern mendampingi para perempuan korban kekerasan. Terakhir sa­ya menjabat sebagai Direktur PT Rifka Anissa Mandiri yang bergerak di bidang klinik kesehatan fisik dan mental. Di sana juga ada pendampingan hukum dan psikologi, bahkan sampai perawatan tubuh.

Kabarnya, Anda sedang meng­hadapi masalah bisnis?

Iya. Saya merasa produk saya diduplikasi oleh  pihak lain yang bernaung di sebuah perguruan tinggi terkenal. Awalnya ingin kerja sama tapi malah diduplikasi. Terakhir, saya sudah bertemu  mereka. Intinya mereka bilang bukan bukan institusi tapi individu. Mereka memutuskan menghentikan produk itu. Dan meneruskan kerja sama dengan ayam ungkep asli Joga milik saya.

Saya tidak membawa kasus­ itu ke LOS. Saya khawatir, kalau lembaganya saya bawa-bawa bisa,  tidak independen. Saya hanya membuat laporan komplain ke  perguruan tinggi tersebut lalu mengirimkan tembusannya ke Gubernur yang pu­nya keberpihakan pada  masalah­ perlindungan hukum UMKM. Seba­gai  ketua LOS, saya harus bisa mem­beri  contoh menyelesaikan kasus ini.

Rini Sulistyati


blog comments powered by Disqus