Membership
Lupa password?
Profil

Sidrotun Naim, “Doktor Udang“ dari Sukoharjo
Selasa, 17 April 2012
Sidrotun Naim

Foto: Agus Dwianto/Nova

Perempuan asli Sukoharjo (Jateng) kelahiran 33 tahun lalu ini tergolong gigih menimba ilmu. Kendati hanya anak seorang guru agama dengan 11 bersaudara, ia  mampu mengenyam sekolah hingga jenjang S3. Bila ditulis lengkap, nama dan gelarnya berderet menjadi Sidrotun Naim  S. Si, M. Mar. ST, Ph D. Yang paling gres, perempuan yang tekun meneliti udang ini mendapat penghargaan internasional dari  L’oreal-Unesco.

Jadi doktor udang, apa memang sudah cita-cita sejak dulu?

Dulu, sih, saya ingin jadi doktor manusia. Tidak kesampaian, ya, akhirnya jadi doktor udang. Ha ha ha...

Kenapa tertarik meneliti udang?

Sebenarnya udang ini hanya satu isu. Masih banyak yang ingin saya teliti. Tapi,  saya fokus udang dulu. Saya lihat, berdasarkan data ekspor, produksi udang Indonesia setelah tahun 2008 menurun tajam. Salah satu penyebabnya, saat itu udang asli Indonesia, udang windu, terkena white spot syndrome  yang menyebabkan gagal panen pada banyak para petambak udang. Padahal sebelumnya tahun 2004 hingga 2008 selalu naik.

Ide datang saat melihat profesor saya di Universitas Arizona, AS, me­ngembangkan polikultur nila-udang bisa menurunkan kematian udang hingga sekitar 30 persen (uji lab). Saya kembangkan untuk meneliti semacam vaksin udang jenis vaname dari serangan IMNV atau infectious myonecrosis virus . (Sidrotun Naim menyelesaikan S3 di Universitas Arizona. Sebelumnya, ia menyelesaikan S1 di Ilmu Teknologi dan Hayati, ITB dan S2 di University of Queensland Australia ).

Lalu?

Ternyata kotoran ikan nila selain sifatnya seperti pupuk NPK juga mengandung zat yang sifatnya antimikroba. Jadi, petambak tak perlu pupuk dan antibiotik. Lagipula kalau kena antibiotik, tidak laku diekspor.

Loreal Unesco

Ketika meraih penghargaan dari L'oreal-Unesco. (Foto: Dok Pri)

Kabarnya Anda mendapat penghargaan dari L’oreal-Unesco?

Benar. Saya dua kali mendapatkannya. Pertama tahun 2009 saya jadi Pemenang L'Oreal National Fellowship 2009. Lalu tahun 2012 ini saya kembali jadi pemenang L’Oreal –Unesco FWIS International 2012.

Bagaimana merancang tempat penelitiannya?

Penelitian saya kembangkan di Bangil (Jatim) dan Aceh. Tujuannya supaya hasilnya bisa saya patenkan di Indonesia.

Apa rencana setelah menerima hadiah beasiswa?

Saya akan memakai uang ini  untuk ambil post doctoral  di Harvard Medical School. Saya tertarik mengembangkan hasil penelitian ini hingga menjadi vaksin yang mungkin bisa berguna bagi manusia. Kan, virus IMNV pada udang karakternya mirip rotavirus  pada manusia (penyebab diare pada anak). 

Apa harapan dari hasil penelitian Anda?

Harapan saya, kalau kuantitas dan kualitas produksi udang di Indonesia ditingkatkan, semoga masa depan anak-anak Indonesia juga bisa lebih baik.

Sempat bertemu tiga menteri Indonesia?

Ya. Kemarin saya pulang ke Indonesia untuk presentasi soal beasiswa yang saya dapatkan. Nah, saya sempat bertemu tiga menteri salah satunya dengan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Di bulan perayaan untuk wanita ini, saya titip pesan agar Bu Menteri lebih memperhatikan dan memaksimalkan bibit unggul perempuan.

Sidrotum dan Kel

Sidrotun Naim mengajak suami dan anak ternbang ke Arizona. (Foto: Dok Pri)

Apa pendapat suami atas semua pencapaian ini?

Suami saya Dedi Priadi (33) bilang, dia merasa jadi orang paling cerdas di dunia. Kenapa? Karena dia bisa menemukan istri yang bisa membawanya keliling dunia dan bersekolah di negara lain. Sekarang suami dan anak saya, Elhurr (6), ikut tinggal di Tucson, Arizona. Suami menemukan ketertarikan mempelajari psikologi pendidikan. Padahal tadinya suami lulusan Fisika ITB, lho. Ya, saya bilang “ganti konsentrasi itu biasa, asal jangan ganti istri.” Ha ha ha...

Omong-omong kenapa pilih studi di Arizona?

Saya mulai studi tentang penyakit udang di Aquautic Animal Disease, Arizona University. Aneh juga, ya, padahal negeri ini  seperti padang pasir. Kalau ditanya orang, saya pasti jawab, “Saya juga bingung, kok”. Ha ha ha... Tapi memang jika ingin belajar tentang penyakit, Universitas Arizona itu pusatnya.

Apa yang menginspirasi sekolah tinggi sampai ke luar negeri?

Saya terinspirasi dari keluarga saya. Dari garis keturunan Bapak, kami suka membaca. Eyang dari Bapak, bahkan sudah hafal Al-Quran sejak usia 24 tahun. Bapak saya almarhum Abidullah, kendati seorang guru agama  sempat mendapat beasiswa dari British Council pada tahun 1974. Nah, saat pulang Bapak membawa oleh-oleh banyak buku. Saking banyaknya Bapak sampai membuat perpustakaan. Saya suka ikut baca buku-buku itu.

Bapak juga suka mendengarkan radio siaran luar negeri, ini membuat saya berimajinasi tentang luar negeri. Hingga suatu saat saya berangan-angan, suatu hari  saya akan ke luar negeri.
Lalu Ibu, Siti Musrifah (66), juga sangat menginspirasi saya. Sebagai ibu rumah tangga, Ibu sukses membesarkan 11 anaknya hingga sekolah tinggi.  Padahal Ibu hanya lulusan SMA. Anak-anaknya minimal S1, setengahnya sudah S2, dan dua orang sedang menempuh S3. Hebat, kan?

Apa lagi yang ingin dicapai di masa depan?

Selanjutnya, saya berharap ke depan lebih berkontribusi banyak untuk industri udang di Indonesia, juga untuk dunia penelitian. Saya ingin sains lebih populer di kalangan perempuan juga. Pesan saya untuk para perempuan, temukan minat dan kerjakan dengan sungguh-sungguh!

Laili Damayanti

Views : 1754

blog comments powered by Disqus