Membership
Lupa password?
Profil

Sholeh Mahmoed Mencari Calon "Permaisuri" (2)
Kamis, 11 Agustus 2011
Sholeh Mahmoed

Foto: Ahmad Fadilah

Berdakwah ke berbagai tempat membuat Ustaz Solmed lebih banyak menghabiskan waktu di atas di perjalanan. Namun, bukan karena kesibukan itu yang membuatnya tak kunjung menemukan calon istri. Ia mengaku belum ada yang berkenan di hati. Seperti apa gadis idamannya?

Sebenarnya, saya terlahir dengan nama Saleh Mahmud Munawir. Tetapi agar terdengar lebih Arabi, saya memakai nama Sholeh Mahmoed. Dalam perjalanannya kemudian, saya juga kerap disapa Sholmed, kependekan dari Sholeh Mahmoed. Kedengarannya seperti soulmate  ya? Memang, saya ingin menjadi soulmate alias belahan jiwa bagi semua jamaah.

Saat berdakwah, saya tidak mengkhususkan ke kalangan tertentu. Kepada anak muda, mahasiswa, remaja, saya bisa masuk. Kepada ibu-ibu dan bapak-bapak di majlis taklim pun, saya bisa masuk. Saya juga tak mau memilah-milah jamaah, saya ingin bisa disebut dai yang fleksibel. Ustaz universal, begitulah saya ingin dikenal.

Mencari Jodoh

Saya sangat suka anak-anak, namun sampai sekarang saya memang tidak punya adik kecil. Karena itu saya ingin punya anak saja kelak. Sayangnya yang akan menjadi ibu bagi anak-anak saya belum ada, ha ha ha... Padahal, saya sering membayangkan, betapa enaknya ceramah ke berbagai tempat ditemani oleh istri. Selama ini, teman saya bepergian ke tempat ceramah di berbagai tempat, ya, laki-laki semua. Sopir dan asisten saya, keduanya laki-laki.

Ada yang bilang, saya punya banyak fans sehingga tinggal memilih, itu justru membuat bingung. Seseorang yang diberikan kekuatan untuk memilih memang tanggung jawabnya berat. Sering terjadi, seusai berdakwah di berbagai tempat saya didatangi ibu-ibu. Mereka bilang, hendak mengambil saya sebagai menantu. Tapi ditunggu-tunggu, anak yang mau dijodohkan itu, kok, enggak diperlihatkan juga? Nah, di kesempatan ini, ayo, ibu-ibu yang pernah janji mau ambil saya sebagai menantu, saya tagih janjinya. Ha ha ha...

Jujur, saya dulu sempat nyaris menikah. Tapi ada satu kejadian yang membuat hubungan itu tidak bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Kini, Emak saya sudah sering menanyakan kapan saya akan menikah. Tiap kali pulang ke rumah, pertanyaannya sama. “Kapan menikah?” Apa boleh buat, jawabannya, juga sama. “Belum ada calonnya.”

Padahal, orangtua tidak pernah memaksa dengan siapa saya akan menikah. Buat mereka, mana yang terbaik buat saya pastinya baik pula buat mereka. Pesan mereka, pilihlah istri yang bisa mengantarkan saya dan anak-anak saya ke surga. Pesan kedua, saya diminta mencari perempuan yang bisa masuk ke mana saja. Maksudnya, bisa masuk ke keluarga mertua dan saudara.

Lalu, gadis seperti apa yang bisa membuat saya jatuh hati? Saya suka kesederhanaan. Saya ingin punya istri yang bisa mendampingi saya dunia-akhirat. Menyenangkan mata, membahagiakan hati, taat dan patuh pada saya selama saya baik.

Urusan jodoh, saya ikut apa kata Rasullullah SAW. Yang dipilih dari perempuan, kan, cantiknya, lalu turunannya, kemudian akhlaknya, hartanya, baru agamanya. Tentu inginnya gadis dari keturunan yang baik, harta banyak dan beragama. Nah, ada atau tidak perempuan seperti itu di dunia ini? Ha ha ha...

Yang namanya manusia pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Tapi justru itulah gunanya. Saya ingin istri yang bisa melengkapi kekurangan saya.

Sholeh Mahmoed Ceramah

Saya sering membayangkan berdakwah seraya didampingi istri tercinta, pasti lebih nikmat rasanya (Foto: Dok Pri)

Bukan Artis

Di luar aktivitas saya sebagai dai, saya juga punya bisnis batubara dan mobil. Misalnya, orang butuh mobil, saya bisa mencarikan. Atau kadang mobil yang tengah saya pakai ditaksir orang, ya, saya jual. Soal batubara, saya menanamkan investasi di Kalimantan. Ada rekan bisnis yang mengurusnya. Saya tinggal memantau pergerakan dan menerima laporan saja.

Karena sering ke berbagai tempat untuk ceramah atau bisnis, hidup saya kini lebih banyak di atas roda, alias perjalanan. Bila ada waktu luang, saya pergunakan untuk me-refresh pikiran dan tubuh.

Hobi saya membaca, terutama buku sejarah. Karena itu, ketika berjalan-jalan ke mal, biasanya masuk ke toko buku, makan-makan lalu pulang lagi ke rumah. Hobi lainnya adalah traveling . Imbas dari segala aktivitas saya itu sebenarnya tak terlalu spesial buat orang lain, tetapi bagi saya spesial. Dari dunia dakwah, saya bertambah saudara. Dunia bisnis mengajarkan saya, dalam hidup ini tak boleh hanya memikirkan sesuatu dari satu tempat.

Dari dunia sinetron, orang tadinya tidak kenal, kini menjadi kenal. Itu satu nilai yang saya syukuri. Ada, sih, yang pro dan kontra. Tetapi reaksi atas penampilan saya di sinetron sejauh ini, alhamdulillah positif. Yang penting saya tetap di jalur dakwah, tidak tinggi hati atau sombong dan tetap down to earth  seperti yang selama ini saya lakukan terhadap umat dan jamaah.

Karena itu bila ada tawaran main sinetron lagi, saya tetap punya kriteria. Saya punya dunia sendiri, yakni dunia dakwah. Jadi, sinetron yang saya mau harus berbau dakwah. Dan saya berperan menjadi diri sendiri. Saya tidak mau menempatkan diri sebagai artis. Jika saya menempatkan diri sebagai artis, peran apa saja pasti harus mau, kan?

Untuk sementara ini saya dikontrak rumah produksi Screenplay Production sebanyak 105 episode, insya Allah akan diperpanjang lagi. Karena itu saya harus menjaga ketahanan fisik, apalagi take gambar sinetron tidak pasti. Bisa sampai nyaris dini hari. Untuk itu, kunci kesehatan saya, ya, istirahat, minum air zam-zam, suplemen dan madu.

Niat Kuliah Lagi

Bila melihat sisi ekonomi saya sekarang, ketiga dunia saya tadi sudah lebih dari cukup. Saat ini saya sedang mencari rumah yang bagus dan layak buat saya tempati kelak bersama “permaisuri” dan anak-anak saya. Tanpa bermaksud sombong, saya juga menyisihkan sebagian pendapatan untuk membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu.

Saya berkaca dari pengalaman masa kecil saya yang berasal dari keluarga pas-pasan. Saya ingin semua anak muslim mengenyam pendidikan yang baik.

Obsesi saya ke depan, sebenarnya saya ingin kuliah ke jenjang S2. Ilmu akademis saya dari UIN memang tak nyambung dengan pekerjaan saya sekarang. Tapi paling tidak masih bisa saya pakai untuk mengemukakan pendapat terhadap orang lain.

Terakhir, saya ingin berpesan kepada pembaca NOVA, baik yang sudah menikah maupun yang belum, sudah punya anak atau pun belum. Saya ingin mengungkapkan, kebahagiaan orangtua adalah ketika bisa bertanggung jawab dengan baik atas pendidikan anak-anaknya. Sementara kebahagiaan anak-anak adalah ketika mereka mampu membahagiakan orangtuanya. Maka, jagalah simbiosis mutualisme ini selalu. (TAMAT)

 Rini Sulistyati

Views : 2701

blog comments powered by Disqus