Membership
Lupa password?
Profil

Salman Aristo, "Rajanya" Skenario Andal
Rabu, 22 Juli 2009
foto_profil_1213_A romy

Salman Aristo (Foto: Romy Palar/NOVA)

Bapak dua anak ini dikenal sebagai penulis skenario andal. Beberapa filmnya meledak dan disukai masyarakat. Kini, pria kelahiran tahun 1976 ini melangkah menjadi produser.

Mulai kapan Anda jatuh cinta pada dunia film?
Musik, buku, dan film sudah menjadi minat saya sejak kecil. Umur lima tahun, saya diajak oleh orangtua ke gedung bioskop, nonton film Warkop. Saya pun jatuh cinta pada film. Apalagi, nonton film merupakan puncak kegiatan ke luar rumah. Setelah jalan-jalan dan makan, puncaknya ya nonton. Sebulan bisa empat kali kami sekeluarga nonton. Kelak saya suka film perang produksi lokal, seperti Kereta Api Terakhir.
Mulai SMP sekitar tahun 1988, saya mulai nonton sendiri. Tapi, film Indonesia enggak ada. Itu membuat saya akrab dengan film luar. Apalagi, saat itu masanya bioskop 21. Akhirnya, saya termasuk generasi yang meremehkan hasil karya Indonesia. Apa-apa luar negeri. Kondisi ini membuat saya jatuh cinta pada film tapi saya tidak pernah terpikir menjadi seorang film maker.

Lantas?
Saya lebih suka ngeband, karena studio latihan ada dekat rumah di kawasan Manggarai. Sampai kuliah di Unpad, Bandung, saya terus ngeband. Saat itu di Bandung tengah ada pergerakan musik indie. Saya betul-betul ingin jadi musisi. Meski begitu, saya tidak pernah meninggalkan mengikuti perkembangan film. Duit jajan saya habis untuk beli kaset dan nonton bioskop.
Baru tahun 1994, saya tahu film bisa dibikin setelah bertemu dengan anak-anak gelanggang Seni Sastra, Teater, dan Film. Di sana ada beberapa teman yang membuat film pendek. Saya memang tidak tertarik jadi sutradara. Buat saya yang senang buku dan film, pilihannya jadi penulis skenario film.

Dari mana Anda belajar menulis skenario?
Otodidak, sebab memang saya tidak pernah melihat sosok fisik buku atau penulisan skenario film itu kayak apa. Saya menulis berbagai macam kisah, sekitar kehidupan mahasiswa, kos-kosan kampus. Hanya saja saya belum tahu skenario mau diapakan. Saya lebih fokus ke band.

Ada hasilnya?
Sampai lulus kuliah tahun 1999, belum juga berhasil jadi musisi, meski saya punya formasi band yang solid, namanya Silentium. Saya tetap tinggal di Bandung dan kerja di sebuah portal, pegang news dan musik. Akhirnya, saya merasa mimpi saya menjadi musisi sudah habis. Di usia 25 tahun itu, saya mesti berpikir ulang.
Pada saat itu, saya bertemu Denny, sebelum jadi gitaris band Naff. Denny yang menyarankan saya membuat skenario film panjang. Jadilah skenario setebal 90-an halaman berjudul Tak Pernah Kembali Sama. Situasi tetap saja belum berubah sampai saya memutuskan pulang ke Jakarta.
Sekitar enam bulan menganggur, saya bertemu Rudy Soedjarwo. Saya pernah nonton film garapan Rudy. Rudy sempat baca skenario saya. Dia mengkritik skenario saya habis-habisan. Saya mesti banyak belajar.

Apa yang Anda lakukan?
Saya harus benar-benar belajar. Saya merasa harus tahu skenario film Indonesia. Mulai Januari 2002, saya tiap hari ke PPHUI (Pusat Perfilman Haji Umar Ismail) di Kuningan. Sungguh luar biasa, di sana tersedia nyaris lengkap, semua film Indonesia. Ratusan skenario saya baca. Salah satu yang saya sukai adalah karangan Asrul Sani. Saya baca semua skenario filmnya. Karyanya, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, menurut saya skenario film tercerdas. Film ini juga luar biasa. Dari hasil membaca, saya paham bagaimana menulis skenario yang baik.
Persentuhan saya dengan film makin intensif setelah saya diterima bekerja di sebuah majalah musik yang ada rubrik filmnya. Kebetulan saya yang pegang rubrik film. Inilah yang membuat saya semakin punya akses ke dunia industri film. Sebab, saya sering menulis review film kecil-kecilan.

Kapan skenario film Anda mulai diproduksi?
Singkat kata, saya bertemu Hanung Bramantyo, dalam acara diskusi yang diselenggarakan Kine 28. Dari situ, kami berteman akrab. Hanung juga sempat baca skenario saya, dia bilang suka. Bertepatan dengan itu, Hanung diminta Pak Leo Sutanto untuk bikin film. Sudah ada skenarionya, tapi Hanung tidak sreg. Setelah baca skenario itu, saya juga menyarankan untuk dibongkar dari awal. Nah, dari sinilah proses bikin film Brownies. Saya melakukan riset tentang brownies. Ternyata kita bisa menganalogikan brownies itu menjadi cerita komedi romantik. Akhirnya saya bikin sinopsis baru. Pak Leo Sutanto suka. Jadilah film Brownies.

Anda puas dengan hasilnya?
Sebagai skenario pertama, saya cukup puas. Apalagi, Brownies mengantar Hanung mendapat Piala Citra. Saya sendiri masuk nominasi Piala Citra untuk penulisan skenario.

Tawaran menulis terus ada?
Di tengah penggarapan Brownies, saya menulis skenario Catatan Anak Sekolah, lalu Cinta Silver, Jomblo, Alexandria. Tak terasa dalam waktu dua tahun, sudah saya tulis lima skenario. Di tahun 2005 itu saya baru sadar, tidak bisa duduk sebentar melihat karya. Saya ingin rehat sejenak, kebetulan saya menikah dengan Ginatri S. Noer, juga seorang penulis skenario.
Saya cukup senang karena film yang skenarionya saya tulis, lumayan berhasil. Film Catatan Akhir Sekolah meski secara komersial kurang memuaskan, sering diputar di teve dan saya dapat respons positif. Lalu, Alexandria, merupakan film yang berhasil meraih 800 ribu penonton. Untuk film Jomblo, rasanya banyak juga yang bilang ini film oke.

Tentu Anda tak berlama-lama rehat?
Akhir 2006 saya dapat tawaran bikin skenario Ayat-Ayat Cinta (AAC). Saya bilang pada Hanung, saya akan tulis AAC bersama istri saya. Sebelumnya, Ginatri sudah bikin beberapa skenario film, misal serial teve dan film Lentera Merah. Buat saya, AAC menarik ditulis berpasangan, karena ada sentuhan hubungan lelaki-perempuan. Hanung oke-oke saja.
Sebelum AAC diputar di gedung bioskop dan meledak, Mira Lesmana menelepon saya. Dia minta Laskar Pelangi (LP) dibikin skenarionya. Saya suka banget karena LP begitu personal dengan saya. Kebetulan, ibu, tante, nenek, berprofesi sebagai guru. Begitu naskah LP mau selesai, saya dihubungi Mbak Shanti Harmain yang akan memproduksi Garuda di Dadaku. Jadi, tiga film ini, skenarionya saya tulis berurutan. Seperti yang kemudian diketahui AAC dan LP meledak dan meraih jutaan penonton.
(Salman juga menulis Karma, Elang Perkasa Film, 2007, Kambingjantan.com, Vito Production, 2008, dan Sang Pemimpi, Miles, 2009)

Wah, rata-rata skenario Anda sukses semua. Tapi, ada yang bilang kesuksesan itu karena memang bukunya sangat laris?
Memang AAC dan LP dibuat karena salah satunya bukunya laris di pasaran. Tapi, justru di situ tantangannya.

Apa langkah berikut Anda di dunia film?
Usai Garuda di Dadaku saya memutuskan jadi produser dengan bendera Million Pictures. Sebelumnya, saya sudah memulai jadi co produser, misalnya film Jaelangkung III. Film pertama saya sebagai produser adalah Queen Be.

foto_profil_1213_B romy

Salman bersama istri, Ginarti S. Noor (Foto: Romy Palar)

Omong-omong, bisakah pekerjaan penulis skenario film jadi sandaran hidup?
Oh sangat bisa. Masalahnya sampai saat ini belum ada sosialisasinya, jadi istilahnya belum ada standar UMR-nya. Yang saya tahu, buat penulis baru, range-nya antara Rp 12-15 juta. Tapi, berikutnya enggak ada standar, tergantung deal-nya. Bisa mencapai Rp 50 juta lebih.

Anda sendiri di posisi mana?
Ha ha ha. Yang pasti cukuplah.

Sering ya Anda diskusi dengan istri tentang film?
Tentu saja. Apalagi saya dan istri, Ginarti S. Noor, sama-sama berangkat dari penulis skenario. Sering kami saling memberi masukan.

HENRY ISMONO

Views : 2154

blog comments powered by Disqus