Senin, 3 Mei 2010

Pia A.K Akbar Nasution: Dicium Ayah Di Ruang Rapat (2)

Pia dan keluarga inti. "Kami kompak sebagai pembaca buku.” (Repro Dik. Pribadi: Ahmad Fadilah/NOVA)

Suami Anda lawyer juga?

Oh, jangan sampai, deh. Saya menghindari itu. Suami saya Master IT, tapi bekerja di bidang kreatif, seringnya sebagai event organizer yang menyelenggarakan pameran. Kami bertemu saat kuliah di Belanda. Kami berpacaran selama 11 tahun, lalu menikah pada 1994.

Saya senang punya suami yang berbeda profesi karena di rumah ada cerita yang berbeda. Saat saya menikah, Abang menangis terus sepanjang akad nikah berlangsung, lho.

Oya, bagaimana kondisi Gayus kini?

Sejauh ini dia dalam kondisi sehat di rumah tahanan (rutan) Brimob di Kelapa Dua. Perlakuan penyidik cukup baik. Kenapa ditahan di Brimob? Mungkin di Mabes Polri penuh, ya. Penetapan rutan itu kebijakan penyidik. Kami tak pernah meminta.

Berat, ya, menjadi kuasa hukum Gayus?

Awalnya iya, karena kasus ini menjadi perhatian publik. Pemeriksaannya intens bisa dari pagi sampai malam. Pemeriksaan hampir tiap hari, maksimal sampai jam 20.00 malam. Kami harus fokus, jadi fisik harus kuat.

Stigma masyarakat yang terlanjur melekat pada Gayus juga bikin berat. Tapi kami tak menanggapi rumors yang berkembang di masyarakat. Kami fokus ke hasil pemeriksaan. Tapi masyarakat sudah mengerti, kok, bahwa masih ada yang lebih besar dari Gayus.

Pekan lalu istri Gayus, Milana, dimintai keterangan oleh polisi, ya?

Iya betul. Dia dipanggil tiga kali, Senin, Selasa, dan Jumat, sebatas saksi saja. Kami tak mendampingi sebagai kuasa hukum karena statusnya sebagai saksi. Kehadiran kami hanya menemani saja. Polisi baru sebatas memeriksa rekening Bu Milana yang dikabarkan pers menerima aliran dana dari suaminya. Memang, rekeningnya lebih dari satu. Semua rekeningnya sudah diblokir polisi sejak kasus Gayus terbongkar.

Lalu kondisi Milana saat ini?

Kami bertemu beberapa kali. Dia yang datang ke kami. Sampai saat ini masih terlihat sedih. Istri mana yang tak sedih suaminya ditahan, sementara tiga anaknya masih balita? Bila Gayus dan istrinya sedih, kami sebagai kuasa hukum hanya bisa membangkitkan semangatnya. Yang jelas, Milana bilang, tak tahan dengan pers yang terus menyambangi rumahnya.

Anda tentu amat sibuk. Jadi kapan waktu bersama keluarga?

Dua anak saya laki-laki semua, M. Iqbal Fadhilah Akbar dan M. Alyosa Rizqullah Akbar, sudah beranjak remaja. Mereka mengerti pekerjaan saya. Kebetulan mereka sekolah sampai sore. Sabtu-Minggu saya libur. Saat itulah kami jalan-jalan ke toko buku. Atau ke vila Abang di Ciumbuleuit, Bandung. Di sana keluarga besar Abang kumpul.

Suka ke salon atau shopping?

Ke salon cuma untuk potong rambut. Saat ke luar negeri, belanjanya buku. Di rumah saya tak ada pernak-pernik kristal atau bunga. Yang ada hanya buku.

Oya, apa bedanya Adnan Buyung Nasution sebagai bos dan sebagai ayah?

Di kantor Abang amat dihormati dan disegani. Di rumah, dia seperti mainan. Abang, kan, tak tahu teknologi. Mau pasang teve saja tak bisa. Mengoperasikan komputer juga tak tahu. Padahal sudah dibuatkan catatan instruksinya, tetap tak bisa. Belum lagi telepon genggamnya, sering dipencet-pencet, malah hang.

Dia juga sudah enam kali kena serangan jantung. Tapi Abang sering melanggar aturan dokter. Kalau sudah begitu, Ibu menelepon saya agar menasihatinya. Setelah saya campur tangan, baru Abang mau dengar. Ha ha ha.

Jadi Anda lah “Putri Mahkota” yang akan mewarisi ABNP Law Firm, ya?

Ha ha ha. Saya tak bisa menjawab pertanyaan itu.

Rini Sulistyati

Dilihat : 3230 orang
  • Rating :
  • 0/5 (0 votes)
blog comments powered by Disqus