Membership
Lupa password?
Profil

Nita Heryanti, Sukses Lewat Sweater Rajut (1)
Minggu, 03 Juli 2011
Nita Heryanti

Foto: Henri Ismono

Sambil kuliah, mahasiswi Unpad berusia 25 tahun ini menekuni usaha rajutan. Upayanya ini membuahkan penghargaan sebagai salah satu Perempuan Inspiratif NOVA tahun lalu. Yuk, kita ikuti kiprahnya!

K apan mulai tertarik usaha rajutan?

Semua bermula setelah ayah saya meninggal dunia pada tahun 2003. Ketika itu saya baru saja tamat SMA di Jakarta. Ibu saya, Siti Kurnia, yang berprofesi sebagai guru mengatakan, sekarang masa depan keluarga berada di tangan kami berdua. Kebetulan saya, kan, anak tunggal. Sempat dua tahun kuliah di Jakarta. Karena enggak cocok, saya kuliah lagi di Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran, Bandung.

Tahun 2004, saya bersama Ibu bertandang ke rumah kerabat di Bandung. Kami mengutarakan keinginan untuk buka usaha, tapi usaha apa? Salah satu kerabat mengatakan, kalau mau buka usaha, rajutan saja. Kami tidak tahu maksudnya. Setahu saya rajutan itu, kan, harus merajut seperti yang biasa dilakukan ibu-ibu. Ternyata, yang dimaksud adalah membuat hasil rajutan dengan mesin rajut.

Katanya, di Bandung banyak usaha rajutan. Salah satunya di Kampung Mekar Bakti, Cimahi. Banyak warga yang menekuni usaha rajutan dan mendapat pesanan dari pabrik. Setelah survei bersama Ibu, saya baru tahu ada sebuah mesin rajut untuk memintal benang menjadi sebuah kain. Bahan ini bisa dijadikan sweater .

Lantas langsung tertarik?

Ya, benar. Tahun 2004, kami memulai usaha. Kami sebenarnya hanya bermodalkan nekat saja. Kami, kan, masih buta soal usaha ini. Dari berbagai informasi, akhirnya Ibu membeli mesin rajut bekas. Harga per buah Rp 1,5 juta. Karena kami belum paham betul, sempat juga kami tertipu. Mesin rajut yang dijanjikan 10 buah, tapi yang bisa beroperasi hanya 7.

Selanjutnya, kami mengontrak rumah untuk bengkel kerja di Kampung Mekar Bakti dan merekrut karyawan. Karena satu mesin rajut mesti difungsikan satu orang, kami pun mengawali usaha dengan tujuh karyawan. Untungnya, teknisi mesin kami sudah pengalaman di bidang rajut. Lewat dia, kami mulai mendapat order dari pabrik. Pak Teknisi itu menjadi supervisor usaha ini.

 Kebanyakan pesanan dari pabrik adalah sweater , tapi bukan dalam bentuk jadi. Kami mendapat order untuk membuat lengan atau kerahnya saja. Ibaratnya, kami hanya sebagai pekerja. Semua sudah ditentukan pabrik, termasuk pengadaan benang.

Nita dan Ibu

Dalam menjalankan usahanya, Nita selalu berdiskusi dengan Sang Ibu (Foto: Henry Ismono)

Ketika itu Anda langsung mena ngani usaha?

Belum. Awalnya ditangani Ibu karena saya masih kuliah di Jakarta. Setelah pindah kuliah ke Bandung, barulah saya bisa fokus membantu Ibu. Awalnya, saya hanya sebagai tenaga administrasi. Salah satu tugas saya, membayar karyawan. Beberapa waktu kemudian, saya melihat usaha ini prospeknya bagus. Saya pun bertekad untuk terjun langsung. Sementara Ibu masih bekerja di Jakarta, saya lebih fokus mengurusi usaha.

Namun, saya tak puas hanya dengan mendapat order dari pabrik. Saya ingin punya produk sendiri, artinya benar-benar membuat produk sweater . Keinginan ini saya sampaikan ke Ibu. Ternyata Ibu mendukung. Mulailah saya terjun langsung menekuni usaha ini. Selain sweater , saya juga membuat syal rajutan.

Apa masalah yang dihadapi ketika mengawali usaha?  

Rajutan, kan, bahan bakunya benang. Masalahnya, saya tidak tahu di mana harus beli benang rajut. Sebelumnya benang sudah disuplai pabrik. Itu sebabnya, saya mulai mencari informasi soal penjual benang rajut. Saya lalu mendapat info berharga dari seorang teman yang aktif di milis usaha. Katanya, di salah satu kawasan di Bandung, ada sentra rajutan. Saya datang ke sana, tapi kualitas rajutannya kurang begitu bagus.

Akan tetapi, dari sana saya mendapat informasi toko yang menjual benang rajut. Saya mulai paham, ternyata ada beberapa jenis benang. Ada benang tertentu yang tidak bisa digunakan untuk sweater , tapi ada yang bisa. Akhirnya, saya pilih benang katun berkualitas bagus. Tidak masalah harganya lebih mahal. Saya memang ingin membuat sweater berkualitas bagus.

Inspiratif NOVA 2010

Berkat usahanya membuat sweater modis, Nita terpilih menjadi Perempuan Inspirstif NOVA 2010 (Foto: Dok Pribadi)

Bagaimana soal desainnya?

Awalnya saya jalan-jalan ke berbagai toko, melihat produk sweater . Saya membeli sebuah sweater yang kualitasnya oke. Sampai rumah, saya perlihatkan ke karyawan. Kami bersama-sama membuat polanya. Namun, saya tak menjiplak mentah-mentah coraknya. Beberapa bagian saya modifikasi. Membuat pola ini yang sulit. Setelah menemukan polanya, proses berikutnya lebih mudah. Sesuai ukuran baju, saya membuat tiga ukuran S, M, dan L. Saya memproduksi sebanyak empat lusin.

Saya terus belajar membuat pola dan desain. Memang, sih, tidak seperti membuat dress yang desainnya lebih beragam, desain sweater lebih sederhana. Modelnya begitu-begitu saja, hanya ada variasi di kerah dan topi. Namun, dengan mencoba membuat desain sendiri, saya menemukan kepuasan. Untuk corak, saya mesti pandai mengatur paduan warna. Sebab, pilihan warna benang tak begitu banyak. Jenis katun hanya punya warna hitam, cokelat, dan pastel. Tak ada warna nge-jreng . Saya beri nama produk saya Knit. Kemudian ada mode Grey of Knit atau Misty of Knit.

Ke mana memasarkan produknya?  

Awalnya saya jual ke teman-teman sendiri. Saya pergi ke kampus mengenakan sweater . Teman-teman komentar, “Wah, bagus. Belinya di mana?” Saya bilang, ini bikin sendiri. Kalau mau, bisa pesan. Selain itu, kami pasarkan juga ke teman-teman Ibu. Nah, dari promosi mulut ke mulut, produk saya mulai tersebar. Selain itu, saya juga membuka toko online . Teman-teman ikut membantu. Ada saja, lho, yang bersedia menjadi model dan fotografernya. Enggak ada acara launching . Berjualan lewat Facebook sudah efektif.

Henry Ismono / bersambung

Views : 3088

blog comments powered by Disqus