Membership
Lupa password?
Profil

Merry Riana, Mimpi Sejuta Dolar (1)
Kamis, 22 Desember 2011
Merry Riana

Foto: Adrianus Adrianto

Lari ke Singapura saat kerusuhan Mei ’98, Merry Riana (31) harus berjuang keras menghidupi dirinya di negeri orang. Hebatnya, perempuan kelahiran 29 Mei 1980 ini pun berhasil mengumpulkan 1 juta dolar Singapura di usia 26 tahun. Mari mengenal lebih jauh sosok inspiratif ini.

A pa kabar, sedang sibuk apa?

Mempromosikan buku ke-2 saya, Mimpi Sejuta Dolar (MSD) yang dibuat untuk menginspirasi banyak orang. Karena banyak yang penasaran soal detail perjalanan hidup saya dari nol di Singapura. Puji syukur, sambutannya sangat luar biasa.

Kabarnya lulus SMU langsung ‘kabur’ ke Singapura?

Tadinya, saya ingin kuliah di Universitas Trisakti Jakarta. Suatu pagi saya ambil formulir pendaftaran, lalu sorenya terjadi tragedi Trisakti disusul kerusuhan Mei ’98 yang melanda Jakarta. Karena kondisinya tidak kondusif, saya diungsikan ke Singapura. Saya berangkat berbekal uang seadanya, beras, gula, kompor, komputer, dan buku wasiat dari Mama yang isinya doa serta kata-kata mutiara.

Ketika itu Pemerintah Singapura sedang ada program pemberian bantuan dana untuk kuliah. Maka, saya pinjam uang ke pemerintah dan mendaftar di S-1 Teknik Elektro Nanyang Technological University. Kuliah saya memang dibiayai hingga lulus, tapi setelah lulus saya wajib membayar seluruh utang tersebut. Tiap enam bulan saya diberi 1.800 dolar Singapura. Sebulan hanya punya 300 dolar Singapura untuk biaya asrama, makan, transportasi, dan kebutuhan kuliah.

Bagaimana caranya ­bertahan hidup?

Baru kuliah saja, saya sudah sedih. Tinggal sendirian terpisah dari orangtua, sanak saudara juga tak punya. Saya cemas keadaan mereka di Jakarta pascakerusuhan. Yang paling tak enak, apalagi kalau bukan masalah finansial. Bayangkan, saya hanya punya 10 dolar Singapura dalam seminggu, artinya hanya Rp 10 ribu per hari. Demi mengirit, saya sering puasa. Kalau lapar hanya makan mi instan dan beli roti tawar yang murah dan bikin kenyang. Saya juga rajin datang ke seminar atau orientasi mahasiswa baru supaya bisa makan-makan gratis. Tapi meski prihatin, saya tak pernah jujur kepada orangtua. Kalau ditelepon, selalu bilang baik-baik saja. Agar mereka tak khawatir karena masih ada dua adik yang sekolah. Begitulah saya melewati tahun pertama kuliah.

Sempat saya kesal dan frustrasi. Sudah jauh-jauh hidup di negeri orang, tapi tak bisa makan enak seperti teman-teman sebaya. Bahkan, saya sering makan bekal di toilet perempuan karena malu. Itu masa-masa paling memilukan dalam hidup saya. Dari situ, di ulang tahun ke-20 saya punya resolusi. “Sebelum umur 30 tahun saya harus punya kebebasan finansial!” Jika saya pulang ke Indonesia, saya harus kembali sebagai orang sukses. Meski seperti mimpi, tapi harapan saya begitu besar.

Seminar Merry Riana

Saat mengisi seminar dan berbagai pengalaman di Hard Rock Cafe, Jakarta (Foto: DokPri)

Lalu?

Saya kerja part time mulai dari bagi-bagi brosur di jalan, penjaga toko bunga, hingga pelayan restoran. Karena hanya punya ID card student pass dan di bawah umur, upah maksimal hanya 5 dolar Singapura per jam. Tahun ketiga kuliah, saya magang di perusahaan Singapura. Gajinya lumayan, 750 dolar Singapura per bulan. Semangat kerja pertama kali begitu membara. Baru dua bulan berjalan, saya malah tersadar kalau kerja sama orang terus, kapan impian saya tercapai?

Gaji bulanan dipotong pajak dan biaya hidup, sisanya hanya cukup untuk bayar utang biaya kuliah yang jumlahnya 40 ribu dolar Singapura (Rp 300 juta-an). Itupun baru bisa lunas dalam 10 tahun dan saya tak punya tabungan. Maka saya putuskan untuk punya bisnis sendiri meski tanpa modal dan pengetahuan.

Seperti apa awalnya?

Saya terima ajakan teman berbisnis Multi Level Marketing (MLM). Setelah bayar investasi 200 dolar Singapura dan ikut seminar, ternyata saya ditipu. Lalu, saya ikut klub bisnis di kampus. Ada kompetisi tentang saham, simulasi modal, target, dan keuntungan. Meski hanya permainan, eh, saya menang. Ya sudah, saya mulai bermain saham betulan.

Penghasilan saya dan kekasih saya, Alva Christopher Tjenderasa, digabung sebagai modal. Sayang, kami hanya untung di awal. Lama-lama merugi dan terpaksa tutup akun. Saya dan Alva bertemu saat kuliah. Kami sekampus tapi beda jurusan. Saya teknik elektro, dia teknik mesin. Saya cerita pada dia, keinginan untuk menjadi sukses di usia muda. Pokoknya, saya harus nekat punya usaha apa saja untuk maju. Dia sangat mendukung.

Selanjutnya apa yang diperbuat?

Saya kapok ikut-ikutan, mendingan bisnis sendiri saja. Setelah meriset kebutuhan, saya rumuskan tiga hal, yakni modal, relasi, dan keterampilan. Saya tak punya ketiganya, tapi saya punya keberanian. Lalu saya pelajari kisah hidup para pengusaha sukses. Mereka memiliki satu kesamaan, yaitu diawali dengan berdagang atau menjadi tenaga sales .

Kebetulan ketika lulus tahun 2002, Pemerintah Singapura mengubah regulasi keuangan. Namanya FAA, Financial Advisers Act. Jika tadinya perusahaan asuransi hanya bisa menjual produk asuransi, maka diubah siapa pun bisa menjual jasa keuangan asal punya lisensi. Ini kesempatan yang sangat baik. Saya pun ikut tes untuk dapat lisensi. Lalu mulailah saya jadi financial consultant , menjual produk asuransi, tabungan, deposito, investasi, unitlink, dan credit card . Di situlah awal wirausaha saya berjalan.

Seperti apa tantangannya?

Orangtua tak setuju. Mereka ingin saya kerja kantoran, lebih mapan dan terjamin katanya. Saya minta waktu tiga bulan, bila gagal saya akan turuti keinginan mereka. Tapi bila berhasil, saya hanya ingin mereka ikhlas merestui.

Pasar yang terbuka luas membuat saya bisa menjual produk ke tiap orang dan perusahaan. Saya tawarkan ke teman-teman, tapi mereka sendiri belum berpenghasilan. Lalu saya ketuk satu per satu pintu apartemen. Ada yang ramah, banyak pula yang menolak mentah-mentah. Tak putus asa, saya telepon satu per satu nomor di buku telepon. Dari 100 yang saya hubungi hanya 1 orang yang setuju. Itu pun belum tentu beli. Karena tak efektif, saya nekat jualan di tempat-tempat ramai seperti mal, stasiun bus, MRT.

Ade Ryani / bersambung

Views : 5632

blog comments powered by Disqus