Login untuk masuk

Lupa password? Klik di sini

Belum pernah mendaftar? Daftar di sini

Selasa, 2 Februari 2010

Meike Rose: Indera Keenam Yang Bikin Tersiksa (2)

(Foto: Ahmad Fadilah/NOVA)

Pengadilan memutuskan aku dan adik ikut Mama ketika orangtuaku bercerai. Aku terpukul melihat perceraian orang tua, apalagi usiaku baru 3 tahun waktu itu. Jiwa sosial Mama sangat tinggi. Aku selalu dibawa ke Panti Asuhan atau Yayasan Anak Cacat.

Sejak kecil aku sudah senang melihat hal yang berhubungan dengan sosial. Mama ingin mengajarkan aku, bagaimana harus bersyukur dengan segala sesuatu yang kita peroleh. Banyak orang cacat masih bisa bekerja, lalu kenapa kita yang normal malah merusak diri sendiri dengan mabuk-mabukan, misalnya. Mama juga guru meditasi dan belajar yoga. Mau tidak mau ada pengaruhnya yang aku serap.

Selain itu aku juga banyak belajar dengan Nenek. Beliau juga yang mengajarkan aku meramal pakai teh. Saat itu, Nenek bilang sebentar lagi dia “pergi”, makanya aku diajari meramal pakai teh. Tapi aku malas-malasan. Waktu itu aku berfikir “Apaan, sih, ini pasti susah.” Lama-lama aku berpikir, pasti suatu saat hal tersebut bermanfaat untukku.

Ternyata benar, karena awal karierku justru dimulai dari meramal dengan menggunakan media teh. Orang pun mengenalku dari ramalan teh. Sampai saat ini, aku sangat berterimakasih pada nenek.

Dari nenek pula, aku banyak belajar tentang falsafah hidup. Keluarga kami memang suka bermeditasi, makanya mereka bisa menjalani kehidupan dan bisa mengambil hikmah dari kehidupan. Hikmah itu enggak bisa diajarkan. Nenek bilang, “Kalau mengalami kesusahan, orang selalu mengambil sisi negatifnya saja. Tapi orang enggak pernah mengambil sesuatu dari kejadian itu. Siapa tahu setelah kesusahan itu bisa lebih baik. Jangan langsung protes ke Tuhan, karena suatu saat pasti akan diganti dengan yang lebih baik. Misalnya disakiti sahabat, akan diganti dengan sahabat yang baik.” Itulah nasihat Nenek yang tidak pernah aku lupakan.

Sementara itu, prestasiku di sekolah kurang begitu bagus karena aku enggak bisa konsentrasi. Aku lebih senang melakukan kegiatan yang membuat jiwaku merasa bebas. Untuk menghilangkan ketakutan, aku lebih suka mengekspresikan ke hal-hal yang bersifat fisik dan seni. Jadi, bisa lebih mengeksplorasi jiwaku. Semua tekanan dan perasaan marah, malah bisa keluar karena kegiatan itu. Untungnya, semua mengarah ke hal-hal positif bukan negatif. Bisa dibilang sampai detik inipun, aku tidak pernah mencoba hal-hal negatif. Jika orang lain pernah merokok, minum-minum, aku enggak pernah begitu.

Cari Uang Sendiri
Sejak kecil aku sudah bisa mencari uang sendiri. Bahkan sejak

Berkat Mama, aku menjadi wanita mandiri dan berani tampil di muka umum. (Foto: Repro Dok. Pri/Ahmad Fadilah/NOVA)

SD aku sudah buka perpustakaan atau jual pernak-pernik. Mama lah yang mengajarkan semua hal itu. Karena itu, secara mental, aku sudah tahan banting. Aku enggak dimanjain Mama, tapi aku bisa menjalaninya dengan senang. Kesadaran itu datang sendiri, karena memang enggak bisa dipaksa. Syukurnya, aku selalu mau melakukan apa yang diajarkan Mama. Mencontoh apa yang diajarkan Mama.

Sampai sekarang, aku masih meneruskan kebiasaan yang diturunkan dari Mama. Aku selalu membawa anakku ke Panti Asuhan, biar mereka tahu enggak gampang mencari uang meskipun aku bisa membelikan apa yang dia mau. Biar mereka menghargai kehidupan, banyak bersyukur, menghargai orang tua. Bahkan saat anakku ulang tahun, dia ingin dirayakan secara sederhana di Panti Asuhan. Aku senang sekali apa yang aku contohkan, sudah bisa ditiru anakku.

Masa SMP dan SMA aku lalui di Semarang. Kegiatan nyanyi aku lakukan sejak SMP. Bahkan sampai juara nasional saat SMA lho. Waktu itu aku seangkatan dengan Nike Ardilla. Sempat juga aku bikin album, judulnya Galau. Kalau ditanya apa cita-citaku, aku sih ingin menjadi normal seperti orang lain. Aku sudah tahu risikonya punya kelebihan seperti aku. Pasti banyak yang akan mencela daripada memberikan pujian atau kata-kata baik.

Profesi peramal di agama apapun pasti sulit dan sering tidak diakui. Padahal sebenarnya kan bukan hanya masalah meramal dengan kata-kata saja. Aku juga mengajar orang bermeditasi. Aku ingin berbagi, karena sebenarnya semua yang dipikirkan manusia itu ada di alam bawah sadar kita.

Ketika SMA aku malah sudah membuat album lagu. AKu seangkatan dengan Nike Ardile. (Foto: Repro Dok Pri/Ahmad Fadilah/NOVA)

Kalaupun aku bisa membaca pikiran seseorang, aku hanya bermotivasi untuk bisa menyelesaikan masalah orang tersebut. Misalnya, ada yang bertanya masa depan mereka seperti apa. Aku selalu bilang, “Hari ini berbuatlah yang terbaik buat hidup kamu, agar hari kamu baik.” Aku lebih banyak menyarankan orang agar kembali ke Tuhan.

Kalau ada yang berpendapat bahwa aku mendahului Tuhan, aku pasrah saja. Tapi coba lihat saja contohnya, dokter mendiagnosa penyakit pasien yang terkena kanker stadium 4. Dokter pasti akan bilang kalau sudah sakit seperti itu, umurnya paling tinggal dua bulan lagi. Bukankah itu sama artinya dengan meramal atau mendahului kehendak Tuhan? Jadi, sungguh berat pekerjaanku kalau orang enggak tahu bagaimana kejadian sebenarnya. Aku bukan mau mendahului, karena aku selalu bilang aku ini perantara saja. Aku tidak pernah mengandalkan kekuatanku sendiri. Kalau Tuhan enggak kasih, aku juga enggak bisa apa-apa.

Ketika orang mendatangiku, pasti karena mereka punya masalah. Kalau enggak, untuk apa mereka datang ke aku. Menjadi pendengar yang baik itu sulit lho. Enggak semua orang tahan mendengarkan keluhan orang selama 1 jam. Padahal dalam sehari aku mendengarkan keluhan sampai 10 orang. Untungnya, sejak kecil aku memang terbiasa menjadi tempat curhatan orang. Aku senang membantu orang yang punya masalah. Untungnya, tiap kali menjadi tempat curhatan orang, pasti jalan keluar yang aku berikan selalu pas.

NOVERITA K. WALDAN

(Minggu depan: Meike kuliah di Bandung dan menikah di sana. Seperti orangtuanya, Meike harus berpisah dengan suami. Jakarta menjadi tujuan Meike untuk mengawali karier. Dimulai dari meramal teh, Meike pun kemudian merambah ke dunia teve menjadi peramal cinta. Ikuti kisahnya minggu depan.)

Dilihat : 1672 orang