Jumat, 4 Juni 2010

Luwi Saluadji: Emansipasi Pria dalam berbusana (2)

Luwi selalu selektif menggelar fashion show. Sasaran dan impact harus jelas.

Jas Anda tak kalah dong, dengan produk luar negeri?
Sebenarnya, kita kalah di cutting saja. Kalau soal jahitan, kita bisa bersaing. Tapi sekarang kami sudah bisa membuat produk yang berkualitas. Hanya saja, soal kualitas biasanya berbanding lurus dengan harga. Itu yang harus disadari masyarakat. Untuk membuat barang berkualitas, ongkos jahit saya mahal, bahan juga mahal.

Dibanding merek luar negeri, harga saya masih enggak ada apa-apanya. Misalnya dengan kualitas yang sama, harga jas merek Italia bisa Rp 20 juta. Sementara dari saya, bisa Rp 11 juta. Itu sudah sesuai ukuran badan karena dijahit sendiri. Sedangkan produk luar negeri belum tentu sesuai ukuran badan.

Kabarnya Anda juga menerapkan SOP (Standard Operation Procedur) yang ketat dalam produksi?
Tak hanya ketat, tapi ketat sekali. Saya tak mau, setiap benang jahitan luput dari pengamatan saya. Memang ini bikin saya amat capek. Tapi inilah risiko yang harus dihadapi agar karya saya tetap berkualitas.

Dari mana Anda mendapatkan inspirasi ide?
Tidak dipungkiri, saya melihat karya desainer lokal maupun internasional. Tapi saya bukan desainer yang suka mencontek. Saya selalu mengaplikasikan rancangan itu dengan gaya saya sendiri. Alhamdulillah, sampai sekarang bukan saya yang mencontek karya orang, tapi orang mencontek karya saya. Ha ha ha.

Tak keberatan dicontek?
Ya, enggak apa-apa sih. Berarti tren yang saya ciptakan dipakai mereka. Tapi orang harus mengakui, bahwa jas itu dari Eropa. Cutting dan warna, semua pasti berkiblat ke Eropa. Makanya, sebagai desainer, saya tak memungkiri ada bagian yang saya tiru dari mereka, tapi hasilnya tetap memiliki identitas saya sendiri.

Apakah membuat desain pria lebih mudah dibandingkan

Tak ada yang bisa ditutup-tutupi dalam membuat busana pria. Salah sedikit, pasti kelihatan.

untuk wanita?
Sangat, sangat, sangat sulit. Baju pria itu tak bisa ditutup-tutupi. Bahan murah tak bisa kelihatan mahal. Kalau busana wanita bisa pakai bahan murah, bisa ditutupi dengan payet-payet agar kelihatan mahal.

Kalau pria, salah jahit sedikit, langsung kelihatan. Jadi tingkat kesulitannya sangat tinggi. Begitu juga celana, bagian bokong harus benar-benar pas. Belum lagi untuk ukuran dan penempatan alat vital. Itu problematik yang harus kami pikirkan.

Ke depan, pengembahan bisnis akan mengarah ke mana?
Postour & Co. sudah berkembang ke bisnis lain. Seperti Postour & Co. Desain & Living. Kami juga sudah banyak membangun beberapa rumah dan apartemen. Juga ada Costum Uniform, ini khusus seragam eksklusif. Diharapkan dengan seragam itu bisa meningkatkan kinerja pegawai. Beberapa perusahaan seperti Senayan City, Layang-Layang, Mercedes Benz, dan Lexus sudah menjadi klien saya. Kini, saya buka Restoran Mang Adin, spesialis petai dan jengkol. Selera busana boleh Italia, tapi perut tetap Indonesia. Ha ha ha.

Bagaimana Anda mengawasi banyak usaha milik Anda ini?
Energi saya memang besar. Makanya saya sangat bersyukur kepada Allah diberi energi besar, pengetahuan luas, dan selalu mudah ketika harus belajar sesuatu yang baru. Rasa syukur itu saya wujudkan dengan banyak mengaji. Ketika saya mengalami masalah dan akhirnya kepepet ke tembok, tik ada yang bisa menolong kecuali Allah. (Saat krisis moneter yang lalu, usaha Konsultasi Bisnis dan Keuangan yang dirintis jebolan FH Trisakti ini ikut krisis seiring melambungnya dolar. Tak mau dikejar-kejar hutang, Luwi terpaksa harus menjual sebagian besar hartanya.)

Bagaimana Anda bisa bangkit?
Beruntung, di saat jaya saya tak suka foya-foya. Jadi masih ada sedikit sisa untuk modal usaha ini. Kebetulan saya punya banyak teman, jadi lebih gampang bangkitnya. Tapi yang penting, saya jadi lebih dekat dengan Allah.

SUKRISNA
Foto-foto: dok. pribadi

Dilihat : 768 orang
  • Rating :
  • 0/5 (0 votes)
blog comments powered by Disqus