Jumat, 4 Juni 2010
Luwi Saluadji: Emansipasi Pria dalam Berbusana (1)
Lahir di Rumbai, besar di Amerika dan Bandung, membuat Luwi tumbuh menjadi pria yang mudah beradaptasi. Selain sukses membuat busana pria, anak ketiga pasangan Ir. Lumiadji Purbodiningrat dan Wiana Kartanegara ini juga punya seabrek usaha. Padahal, saat krisis ekonomi lalu, bisnis yang ditekuni pria kelahiran 27 Maret ini sempat bangkrut.
Karya Anda selalu tampil elegan dan maskulin. Itukah konsep desain Anda?
Soal elegan, sebenarnya selera. Tiap desainer, kan, punya selera, pattern-nya sendiri-sendiri. Kenapa maskulin? Itu karena karakter saya sebagai laki-laki. Kebetulan saya pria egosentrik, egois dan eksentrik. Dan bentuk keeksentrikkan saya, ya kemaskulinan itu. Jadi, saat membuat desain, unsur-unsur feminim tak banyak keluar. Ini sudah terlihat sejak saat mulai belanja bahan. Tanpa sadar saya memilih bahan dan warna-warna maskulin. Bahkan saat membuat konsep desain yang feminin, yang keluar tetap maskulin.
Jika Anda membuat jas pengantin, apa yang Anda lihat dari pelanggan?
Saya selalu membuat konsep keseluruhan. Itu sebabnya, saya dibayar mahal. Awalnya saya ngobrol dulu dengan calon pengantin untuk melihat keinginannya seperti apa, juga konsep perkawinan secara keseluruhan. Dari situ, saya bisa menemukan visi, seperti warna jas, model dan sebagainya. Saya juga melihat karakter pelanggan. Karakter di sini lebih ke warna kulit apa, orangnya klasik atau metroseksual. Setelah itu, saya beri masukan tentang model dan warna jas yang cocok.
Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk
menyelesaikan pesanan jas?
Tergantung bahannya, sih. Bisa sampai 4 bulan jika bahannya sulit didapat, seperti tenun, misalnya. Soal harga, memang mahal. Antara Rp 9 juta ke atas. Saya juga bisa membuat jas sampai harga Rp 100 juta.
Kalau begitu, Anda membidik pasar kalangan menengah ke atas, dong?
Ya, tentu. Tapi sebenarnya tujuannya lebih dari itu. Selama enam tahun berkarier sebagai desainer, banyak orang mengatakan, saya telah melakukan emansipasi pria. Selama ini, saat pernikahan, pria hanya duduk manis dan menurut saja. Mau mengenakan jas model apa saja, ya terserah. Semua ditentukan oleh pihak perempuan.
Saya hadir untuk memberi emansipasi kepada pria. Mereka juga punya hak untuk menentukan apa yang akan mereka pakai saat menikah agar ia bisa “bersaing” dengan pasangannya di pelaminan. Jadi fokus perhatian saat di pelaminan tidak hanya di pengantin perempuan, tapi juga pengantin pria. Dan itu ternyata dirasakan oleh para pelanggan saya.
Apakah hal itu yang membuat hasil karya Anda sangat beragam?
Iya. Soalnya saya begitu memanjakan pelanggan. Dia ingin klasik, saya bisa padukan dengan bahan batik. Kalau dia ingin model Barat, saya buatkan tuxedo dengan model yang macam-macam. Jika nuansanya Chineese, saya buatkan nuansa putih-putih.
Market busana pria ini sebenarnya, kan, sangat segmented. Kenapa justru Anda tertarik menekuni?
Ini dari pengalaman saya sebagai pria yang hobi memakai merk luar seperti Armani dan Dolce&Gabbana. Nah, saat krisis moneter jelas membuat saya kelimpungan karena dollar naik gila-gilaan. Harga jadi melambung. Kalau toh ada duit, jadi malas membeli juga. Saya cari-cari produk dalam negeri belum ada yang pas. Kegelisahan itu yang memaksa saya untuk membuat desain dan mencari orang yang bisa mengimplementasikan ke dalam bentuk pakaian.
Ternyata tak mudah mencari orang yang sepaham dan bisa mewujudkan desain saya. Akhirnya saya kumpulkan beberapa orang, saya bina, dan bisa terwujud. Akhirnya saya bikin usaha ini, Postour & Co. Dari pelanggan seputar teman, sampai akhirnya menjadi besar seperti saat ini. (Selain membuat busana khusus pria, Luwi juga membuat desain baju wanita yang dilabeli Paula & Co, dan Postour & Co. Silver Tab, label khusus jins.)
Sukrisna/Bersambung

