Membership
Lupa password?
Profil

Lani Cahyaningsari, Sulap Kaleng Bekas Jadi Cantik
Senin, 30 Juni 2008
Lani Cahyaningsari

Dok. NOVA

Di tangan ibu tiga anak berusia 34 tahun ini kaleng bekas bisa disulap menjadi hiasan cantik dengan nama Kaleng Lani. Berlukiskan gaya naïf dengan warna-warna cerah, Kaleng Lani begitu diminati masyarakat.
Mulai kapan memproduksi Kaleng Lani?
Semua ini berkat dorongan bapak mertua, Budi Heryanto. Kebetulan kami berlima (Lani dan saudara-saudara dari keluarga suami), suka melukis. Bapak bilang, hobi melukis ini bisa dijadikan sumber penghasilan. Tak hanya ucapan, Bapak memfasilitasi kami dengan membuka galeri di restoran miliknya di Jalan Cilandak KKO, Jakarta Selatan. Di galeri restoran yang cukup luas inilah, kami memajang karya kami.
Nah, di tahun 1998 itu, mulanya kami melukis di gerabah, keramik, kayu. Misalnya saja kayu berukir dari Jepara berupa kotak tisu atau tempat hiasan. Seiring waktu, saya tertarik melihat kaleng kerupuk yang tampak polos banget. Terpikir di benak saya, alangkah indah seandainya dilukis. Saya mencoba melukis dua kaleng kerupuk. Ketika saya pajang di galeri, ternyata ada peminatnya. Saya bikin lagi sepuluh buah, eh cepat habis juga.
Lantas?
Karena animonya sangat bagus, media kayu saya tinggalin dan beralih ke kaleng. Untuk kaleng kerupuk, saya membuat berbagai ukuran variasi dari kecil sampai besar. Bahannya saya pesan dari perajin kaleng. Kaleng yang saya buat juga makin beragam. Ini berkat masukan pemesan. "Kok enggak ada kotak CD atau kotak majalah?" Saya tergerak membuat berbagai bentuk. Ada kotak lampu, celengan, tong, meja belajar.
Saya terus berkreasi, sampai akhirnya memanfaatkan kaleng bekas. Ceritanya ibu saya, kan, senang membuat kue dan dititipkan di restoran. Banyak sekali kaleng bekas susu kental manis. "Ma, kalengnya jangan dibuang nanti saya pakai," ujar saya. Kaleng bekas itu saya lukis dan saya jadikan tempat pensil.
Bagaimana respons pasar?
Mereka suka banget. Boleh dibilang, salah satu andalan produk yang saya beri nama Kaleng Lani adalah tempat pensil dari kaleng bekas susu ini. Apalagi, gambar yang saya buat bermacam-macam, tidak pernah ada yang sama. Harganya pun murah, hanya Rp 12.500.
Saya makin tertarik memanfaatkan kaleng bekas untuk media lukisan. Saya coba membuat di kaleng yang lebih besar, misalnya susu bayi atau kaleng bekas cat. Kaleng-kaleng ini saya jadikan tempat sampah, tempat mainan, atau meja belajar.
Karya Anda dari kaleng bekas ini justru jadi nilai lebih, ya?
Benar. Apalagi, belakangan ini ada isu global warming. Saya pun sering diundang ke berbagai acara berbau lingkungan, misalnya saja dalam acara Green Festival beberapa waktu lalu.
Mereka tertarik karena produk saya daur ulang atau memanfaatkan barang yang tidak terpakai. Selain kaleng bekas, saya tetap pakai kaleng baru. Kendala kaleng bekas, kan, bentuknya terbatas. Selama ini, tiap kali saya ikut pameran, sambutan masyarakat selalu bagus.
Apa, sih, ciri khas Kaleng Lani?
Saya melukis kaleng dengan warna-warna cemerlang. Kebetulan saya memang membidik pasar untuk anak-anak dan ibu muda. Anak-anak, kan, lebih suka warna-warna cerah. Di lukisan saya yang bergaya naif atau kanak-kanak, saya manfaatkan juga untuk media sarana anak belajar. Misalnya saja saya lukis gambar binatang, alat-alat transportasi, huruf, angka. Oh ya, agar aman untuk anak, saya mengggunakan cat antitoksin.
Ternyata, Kaleng Lani memang menarik minat orang. Saya sering menerima pesanan berjumlah 50-100 buah kaleng dari susu ini untuk suvenir ulang tahun. Kepada pemesan saya tawarkan untuk menuliskan nama teman yang diundang di kaleng yang saya lukis. Jadi, sifatnya personal. Ternyata banyak yang suka. Untuk pesanan dalam jumlah banyak, saya butuh waktu 3 minggu sampai sebulan.
Anda dapat pesanan untuk acara apa lagi?
Sekarang sedang banyak pesanan untuk acara perpisahan sekolah. Pesanan memang sering tergantung momen. Misalnya saat Lebaran, saya kebanyakan menerima pesanan dengan gambar anak-anak kecil pakai baju muslim atau gambar masjid. Saat Natal, tema gambar tentu juga berkaitan dengan suasana Natal.
Saya juga menerima banyak pesanan dari karyawan. Misalnya saja karyawan yang bersangkutan pindah kantor. Mereka ingin memberikan kenang-kenangan untuk kawan-kawannya. Nah, saya diminta membuat kaleng untuk suvenir.
Produk apa saja, sih, yang Anda bikin?
Macam-macam, dari jam, tempat CD, wadah tisu, celengan, bahkan juga meja belajar. Untuk meja belajar ini, bahannya dari tong besar, lalu saya tutup. Nah, di dalam tong ini sekalian bisa untuk tempat buku-buku atau mainan.
Bagaimana dulu Anda memperkenalkan produk Anda ke masyarakat?
Saya beberapa kali ikut bazar. Karya saya makin dikenal setelah ikut NOVA Fair beberapa tahun lalu di JCC. Sejak itu, mulai banyak pesanan datang.
Repot enggak, sih, menerima pesanan dalam jumlah besar?
Awalnya, semua saya kerjakan sendiri. Mulai dari belanja alat, desain, sampai finishing. Namun, seiring semakin banyaknya pesanan, saya tidak sanggup lagi mengerjakan sendiri. Sekarang saya dibantu dua karyawan tetap. Kalau masih kerepotan, saya mencari tenaga kerja lagi. Itu pun saya masih sering nglembur dan tidak tidur.
Khusus untuk karyawan, jam kerja mereka mulai jam 09.00-17.00. Usai mereka pulang, saya masih juga melakukan finishing. Wah, kewalahan juga menerima banyak pesanan.
Kenapa tidak semua dikerjakan karyawan?
Saya, kan, mesti mempertahankan gaya lukisan saya. Itu sebabnya, sebagian pekerjaan masih saya pegang. Karyawan bisa mengerjakan warna dasar, lalu saya mendesain dengan pensil. Karyawan melanjutkan lagi dengan pewarnaan. Proses berikut, saya yang melakukan finishing.
Sebelumnya, karyawan sudah saya arahin. Misalnya tentang pilihan warna. Saya sudah membuat pakemnya. Selain itu, karyawan mengerjakan order di rumah saya di kawasan Tanah Batu, Depok. Saya pun jadi lebih gampang mengawasi.
Berapa besar, sih, kapasitas produksi Anda?
Sekarang, seminggu bisa mengerjakan seratusan suvenir. Selain pesanan dalam jumlah besar, saya juga masih menerima pesanan satu atau dua kaleng. Lihat di galeri saya itu, saya baru saja menyelesaikan pesanan jam dengan ukuran relatif besar. Jam itu dipesan seseorang untuk hadiah anaknya. Gambar modelnya saya ambil dari wajah si anak.
Sering pula saya menerima pesanan dari TK berupa tong. Malah saya dapat juga pesanan membuat tong dari dokter gigi dan dokter anak. Tong-tong itu ditaruh di ruang praktik mereka.
(Harga produk yang ditawarkan Leni sangat beragam. Mulai dari wadah pensil seharga Rp 7.500, sampai satu set terdiri dari tiga drum seharga Rp 700 ribu.)
Omong-omong sejak kapan Anda suka melukis?
Mulai kecil. Kebisaan melukis saya manfaatkan untuk mencari uang. Pernah lho semasa SMA saya membuat lukisan kartu Lebaran. Saya menawarkannya kepada teman-teman. Bahkan, waktu kuliah di Arsitektur, Universitas Trisakti, Jakarta, saya pernah meraih juara pertama lomba poster yang diselenggarakan Unicef.
Anda juga masih melukis di kanvas?
Tentu saja. Untuk lukisan di kanvas, tingkat kesulitannya lebih tinggi. Tahun 2000, saya diajak ikut pameran bersama pelukis lain. Sejak itu, kegiatan pameran bersama mulai rutin, setidaknya setahun dua kali. Sesuai standar, tiap pameran saya mengikutkan 4 - 5 lukisan. Hasilnya lumayan, sih. Selama ikut pameran, sudah sekitar 30-an lukisan kanvas saya terjual.
Saat Anda melukis di rumah, anak-anak tidak mengganggu?
Mereka tahu, kok, ibunya sedang bekerja. Bahkan, anak kedua saya, Shafamira Jasmine (5) sudah menunjukkan minat yang besar pada lukisan. Terkadang dia membantu saya mengecat. Si bungsu Qinthara Amalia (2) juga suka ikut-ikutan.
Senangnya lagi suami saya, San Judi Roseno, juga senang melukis. Suami yang kerja di bidang furniture sering pula ikut menemani saya ikut pameran.
(Sebelum menggeluti usahanya, Lani sempat kerja di sebuah perusahaan. Namun, saat krismon, perusahaanya bangkrut. Ia pun makin mantap menekuni kaleng-kalengnya).

Henry Ismono

Views : 4600

blog comments powered by Disqus