Membership
Lupa password?
Profil

Karen Agustiawan, Bunga di Antara Para Pria (1)
Rabu, 13 Juli 2011
Karen Agustiawan

Foto: Ahmad Fadilah

Prestasi yang diraih ibu tiga anak ini sungguh luar biasa. Ia wanita pertama yang menduduki jabatan sebagai Direktur Utama Pertamina. Di tengah kesibukannya yang padat, ia bercerita tentang berbagai hal, mulai dari urusan pekerjaan hingga keluarga.

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga menjabat Direktur Utama (Dirut) Pertamina?

Ceritanya mengalir saja seperti air. Saya dulu sekolah di SMAN 3 Bandung, sekolah yang prestisius. Lalu, saya kuliah di Teknik Fisika, Intitut Teknologi Bandung (ITB). Karier pertama saya di Mobil Oil Indonesia, bekerja di sana selama 13,5 tahun. Sempat juga bertugas di Mobil Oil Dallas Amerika Serikat selama tiga tahun. Sempat pulang ke Indonesia selama setahun, kemudian balik lagi tugas di Amerika.

Karena sibuk, anak pertama dan kedua saya diasuh saudara dan babysitter . Ketika lahir anak ketiga, saya mulai ingin merawatnya sendiri. Ketika saya di rumah, tiba-tiba ada head hunter  yang memberi saya tantangan pekerjaan. Tawaran ini saya terima. Saya kembali berkarier setelah si bungsu sudah bisa bicara, menyanyi, dan masuk play group . Pengalaman mengasuh anak membuat saya berpendapat, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga tak kalah berat dibandingkan kerja di kantor.

Setelah itu, berkarier di mana?

Saya sempat bergabung di CGG Petrosystems Indonesia, Landmark Concurrent Solusi Indonesia, dan Halliburton Indonesia. Sejak Desember 2006 – Februari 2010 saya bergabung dengan Pertamina. Sampai akhirnya sejak Februari 2010 saya menjabat Direktur Utama (Dirut) Pertamina.

Menjadi Dirut Pertamina tentu berat, ya?

Sebenarnya, ketika menjadi Dirut sudah tak ada masalah karena saya, kan, sudah ada di dalam Pertamina. Justru tantangannya ketika saya dari staf ahli menjadi direktur. Saya anggap ini posma-nya. Saya dari luar, kemudian masuk Pertamina di tengah dominasi para pria.

Memang sempat ada under estimate . Namun, saya tak pernah takut. Toh, sejak kuliah sampai bekerja, saya sudah terbiasa bekerja di lingkungan para pria. Saya membuktikan bisa bekerja dengan baik. Lama-kelamaan, setelah melihat pekerjaan saya, mereka pun percaya. Sekarang pun saya tak merasa berada di dunia lain, meski bekerja di lingkungan yang lebih banyak pria. Tak ada perasaan aneh.

Karen bekerja di kaum pria

Karen sudah terbiasa bekerja di tengah kaum pria (Foto: Dok Pri)

Ada beban tidak, ketika menjalani proses menjadi Dirut?

Enggak ada. Saya sebetulnya ikut tes Dirut karena memang harus ikut tes. Tak pernah pula bermimpi jadi Dirut. Hanya saja, pada saat ikut tes, tim evaluasi menilai saya yang terbaik.

Pada saat ikut tes, diskusi dengan suami?

Saya selalu diskusi dengan suami. Saat fit and proper tes suami juga ikut mendampingi karena ketika itu saya sedang kurang sehat, agak flu. Prosesnya, kan, agak lama karena kontestannya banyak. Beberapa kali saya harus masuk ke ruang tunggu. Saya sempat membatin, jadi tes enggak, sih? Saya sebenarnya sudah agak teler. Ha ha ha... Tapi, saya bersyukur bisa menjalani semua proses dengan baik.

Nah, ketika menjadi Dirut, apakah ada perubahan suasana di Pertamina?

Setidaknya ruang meeting jadi lebih banyak bunga dan camilan. Meski begitu, meeting tetap berjalan serius. Hanya beda di bunga dan makanan yang tersedia saja.

Berapa banyak pegawai perempuan di Pertamina?

Sekitar 10 persen. Cita-citanya, sih, 30 persen. Bukan paksaan, ya, tapi kebutuhan perusahaan juga. Saya tak punya kebijakan khusus. Artinya, kesempatan berkarya di Pertamina tak melihat status sosial, strata, maupun gender. Lelaki dan perempuan diberi kesempatan yang sama.

Lantas apa tantangan terbesar menjadi Dirut Pertamina?

Mengelola stake holder yang di luar. Saya ambil contoh, di sini ada sekitar 4.400 SPBU. Terkadang ada satu SPBU kosong karena si pengusaha telat minta order atau telat membayar. Sebenarnya ini bukan kesalahan Pertamina. Karena imej SPBU adalah Pertamina, yang terkena getahnya tetap kami. Nah, menangani stake holder seperti ini yang cukup berat. Kalau soal intern , sih, rasanya lebih mudah.

Henry Ismono, Sukrisna  / bersambung

Views : 2694

blog comments powered by Disqus