Membership
Lupa password?
Profil

Joko Widodo: Jokowi Nama Hoki (1)
Jumat, 24 Februari 2012
Joko Widodo

Foto: Siswanto/Dok NOVA

Nama Walikota Solo, Jokowi, kini menjadi personal brand  tersendiri. Sejak menjabat Walikota pada 2005, Jokowi memang langsung menjadi buah bibir. Sejumlah keputusan kontroversial namun berpihak kepada masyarakat Solo, kerap diambilnya. Salah satunya menata Solo tanpa kekerasan. Belakangan, ia kembali jadi perbincangan setelah menggunakan mobil Esemka karya siswa SMK. Simak perjalanan hidup Jokowi.

Saya terlahir dengan nama asli Joko Widodo. Tetapi ketika masih aktif menangani bisnis mebel dan punya buyer asal Prancis, Michl Romaknan, ia mengaku bingung. Pasalnya Michl yang membeli mebel dari Jepara, Semarang, dan Surabaya selalu bertemu orang bernama Joko. Eh, begitu di Solo, bertemu saya yang juga disapa Joko. Untuk membedakan dengan Joko-Joko yang lain, ia menyapa saya dengan nama Jokowi.

Saya tidak keberatan dengan sapaan itu, malah senang. Seperti ada personal brand  tersendiri. Apalagi nama itu terdengar seperti nama petenis dunia, Djokovic. Ha ha ha...Sejak 1991 nama Jokowi saya pakai. Nama yang tertera di kartu nama saya, ya, Jokowi. Bahkan sampai menjadi walikota pun nama saya tetap Jokowi. Penggantian nama itu tanpa membuat tumpengan, lho. Ha ha ha...

Sebenarnya menjadi walikota bukanlah cita-cita masa kecil saya. Waktu kecil saya justru bercita-cita jadi tukang kayu. Bagaimana tidak, saya memang tumbuh di lingkungan tukang kayu. Bapak saya, Noto Mihardjo, seorang penjual kayu dan bambu di bantaran kali Karanganyar, Solo. Jangan membayangkan Bapak saya itu pengusaha kayu besar, ya. Kecil saja usahanya karena cuma penjual kayu gergajian. Jadi bisa dibayangkan tho , saya bukan berasal dari keluarga kaya. Saya berasal dari keluarga kelas bawah, bahkan bawah sekali.

Jokowi masa kecil

Saya (kiri) bukan berasal dari keluarga kaya. Saya tumbuh di dalam keluarga kelas bawah, bahkan bawah sekali. (Foto: Dok Pri)

Tumbuh di Bantaran Kali

Sebagai keluarga penjual kayu, saya tumbuh menjadi anak yang terbiasa hidup sulit. Kadang sulit makan, mbayar  sekolah juga kerap kesulitan biaya. Sayang, rumah masa kecil saya kini sudah digusur, jadi tidak bisa dilihat untuk mengenang seperti apa kehidupan saya dulu.

Dan seperti anak kecil pada umumnya, saya juga suka sekali main. Tetapi saya tidak tergolong anak yang nakal. Nglidhig  (bandel, Red. ) iya, tapi nakal tidak. Dulu, saya suka mandi di sungai di belakang rumah. Cari telur bebek di dekat-dekat sungai. Kalau enggak dapat, ya, cari terus sampai dapat. Memancing ikan, main layang-layang, main sepak bola, ya, di sepanjang sungai. Dulu sungainya masih lebar, beda dengan sekarang yang sudah banyak dibangun rumah.

Oh ya, saya lahir di Solo 21 Juni 1961 sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Tiga adik saya perempuan. Karena saya paling besar, saya sering membantu Ibu, Sujiatmi, mengasuh adik-adik. Kadang mengantar mereka sekolah. Kalau mereka ada masalah dengan pekerjaan rumah, saya juga membantu mereka. Bahkan ketika adik-adik beranjak besar, saat ada masalah dengan pacarnya, saya turut membantu memecahkan masalahnya.

Yang pantas saya kenang dan banggakan adalah, nilai sekolah saya selalu bagus. Kalau enggak juara satu, ya, juara umum lah. Padahal belajar saja saya tidak pernah, lho. Masa SMP hingga SMA saya lalui tanpa hal yang istimewa. Di luar jam sekolah saya membantu orangtua, misalnya menagih pembayaran kepada pelanggan yang membeli kayu atau menaikkan kayu yang sudah dibeli orang ke atas gerobak atau becak.

Selepas SMA saya meneruskan kuliah ke Jurusan Teknologi Kayu, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1985. Saya bisa kuliah atas kebaikan keluarga besar Bapak dan Ibu yang mampu membiayai kuliah. Bahkan Kakek juga ikut membantu dengan menjual sapinya. Intinya, banyak orang membantu saya. Selama kuliah, saya kos di Yogyakarta. Seminggu atau sebulan sekali pulang ke Solo naik bus. Rumah kosnya cari yang murah, karena itu sempat pindah sampai lima kali.

Nah, sejak tingkat satu saya sudah mulai pacaran dengan gadis cantik nan sederhana yang bernama Iriana. Dia teman adik saya yang sering bermain ke rumah, jadi kami sering bertemu. Sejak kenal Iriana, saya tak pernah pindah ke lain hati sampai akhirnya kami menikah pada 24 Desember 1986.

Setelah selesai kuliah pada 1985, saya lalu bekerja di sebuah BUMN di Aceh selama 1,5 tahun. Kemudian saya menikahi Iriana. Kini kami dikaruniai tiga buah hati, Gibran Rakabumi (25), Kahiyang Ayu (21), dan Kaesang Pangarep (17).

Jokowi dan Iriana

Sejak bertemu Iriana, saya tak pernah pindah ke lain hati. Dia sellau menemani saya, bahkan ikut jatuh-bangun mengarungi kehidupan. (Foto: Dok Pri)

Jadi Eksportir

Saya memutuskan berhenti kerja dari BUMN dan pulang ke Solo untuk merintis bisnis mebel dengan modal minus. Artinya, saya harus pinjam uang ke bank. Agunannya, sertifikat tanah milik orangtua. Risiko yang harus saya tanggung, jika tidak bisa mengembalikan uang berarti tanah melayang. Tetapi sejak dulu saya orangnya optimis, karena untuk memulai satu pekerjaan modalnya hanya itu. Selain optimis, saya juga menyertainya dengan kerja keras. Sembilan tahun lamanya saya kerja dari pagi hingga pagi lagi karena merasa tak punya apa-apa.

Saya rasa, sebagian besar orang Solo tahu tempat usaha saya dulu seperti apa. Dimulai dari sewa tempat yang terbuat dari gedheg (anyaman bambu, Red. ) kecil. Waktu itu saya baru mampu mempekerjakan tiga tenaga, sehingga mulai dari masah  kayu hingga membuat konstruksi dan nyemprot mebel, saya lakukan sendiri. Sampai kini pun, misalnya, saya disuruh membuat mebel dengan mesin yang amat sederhana hingga mesin modern, ya, masih bisa. Urusan marketing pun saya lakukan sendiri.

Saya kerja melebihi jam kerja orang lain. Kalau enggak percaya, tanya saja istri saya. Kadang saya sampai tidur di pabrik untuk menyelesaikan pekerjaan. Ini saya lakukan selama sembilan tahun! Buat saya, kesempatannya hanya itu. Kalau tidak saya pergunakan dengan baik, habislah saya.

Oh, ya, saat itu saya baru punya satu anak. Karena sering tidur di pabrik, saya jadi jarang membimbing anak belajar atau membantu mengerjakan PR-nya. Tetapi antar-jemput anak ke sekolah masih bisa saya lakukan. Selama itu pula istri menemani saya jatuh bangun merintis bisnis. Dulu, rambutnya sering kotor terkena serbuk gergaji kayu karena dia juga sering menemani saya hingga malam hari di pabrik.

Mebel paling awal yang saya buat adalah bedroom set . Dulu jualannya hanya di Solo saja. Setelah tiga tahun berjalan, saya sudah mulai bisa mengekspor. Perjuangan saya menjadi eksportir dimulai dari menjadi anak angkat Perum Gas Negara. Saya mengenal Perum Gas Negara melalui Desperindag. Saat itu saya diikutkan dalam kualifikasi sehingga bisa mendapatkan “bapak angkat”. Begitulah Tuhan memberi jalan.

Awalnya oleh Perum Gas Negara saya dipinjami deposito untuk modal pinjam uang ke bank. Semula saya hanya akan dipinjami Rp 50 juta. Saya bilang, “Maaf, saya ingin bikin ‘nasi’. Kalau cuma dipinjami Rp 50 juta, ‘bubur’ saja tidak akan jadi. Saya tidak mau.” Setelah itu saya tunjukkan rencana kerja saya kepada mereka. Akhirnya mereka percaya dan mau meminjami lebih.

Saat itu tahun 1996, saya berhasil meminjam uang yang kalau sekarang nilainya sekitar Rp 600 juta. Saya diberi target, setelah dua tahun saya harus bisa ekspor. Ternyata baru enam bulan saya sudah mampu mengekspor. Utang pun mampu saya lunasi dalam waktu tiga tahun. Malah tahun berikutnya saya dapat pinjaman lebih besar lagi.

Pertama kali menjadi eksportir, tiga bulan saya baru kirim satu kontainer, ha ha ha... Setelah rajin ikut pameran, dalam satu bulan sudah ada permintaan 18 kontainer. Awalnya saya ikut pameran di Jakarta, lalu ke Singapura dan akhirnya ke Eropa, Amerika Eropa Timur, dan Timur Tengah. Rasanya semua benua sudah saya datangi. Pokoknya kalau ada pasar baru, sudah dipastikan saya bisa masuk. Hasilnya, hampir semua negara jadi tujuan ekspor usaha mebel saya.

Setelah sampai di skala itu pun saya masih tetap terjun langsung ke lapangan. Saya punya prinsip, selalu menerima order yang masuk. Kalau tak mampu saya tangani, akan saya ‘lempar’ ke teman-teman, tapi tetap saya yang pegang kontrol. Keputusan-keputusan seperti ini memang harus dihitung matang dengan detail plus-minus risikonya. Tak bisa diputuskan di belakang meja, karena bisa keliru.

Nah, sejak saya jadi walikota, bisnis mebel kemudian ditangani adik saya, sebab ketiga anak saya belum ada yang tertarik ke dunia mebel. Si sulung Gibran yang saya sekolahkan di bidang marketing di Singapura dan Australia justru tertarik ke bisnis katering. Walau sedikit kecewa, tapi saya bangga dia berhasi dengan usaha pilihannya.

Jokowi SBC

Saat menghadiri Solo Batik Carnval (SBC) 2011. Kalkulasi matang dan bicara dari hati ke hati secara langsung dengan masyarakat Solo adalah resep saya menjadi walikota. (Foto: Ade Ryani/NOVA)

Calon Walikota

Di kalangan tukang kayu, nama saya memang dikenal. Tetapi ketika mencalonkan diri sebagai calon walikota, tak ada yang mengenal siapa Jokowi. Jujur, keinginan mencalonkan diri ini tidak datang dari diri pribadi, tapi didorong-dorong teman-teman di Asmindo (Jokowi adalah Ketua Asmindo periode 2002-2005, yang anggotanya para pebisnis kayu dan mebel, Red. ). Merekalah yang meminta saya terjun ke dunia politik. Jadi ketika kemudian benar-benar jadi walikota, bagi saya itu ‘kecelakaan’ karena tidak ada persiapan sama sekali, ha ha ha...

Kendati demikian, sebelum akhirnya nyalon  saya membuat kalkulasi yang matang. Peta lapangannya saya hitung dan kuasai. Untuk apa nyalon  walikota kalau untuk kalah? Saya akhirnya bersedia maju, ya, untuk menang. Hasil kalkulasi saya, kesempatan menang ketika itu 50 persen. Semisal bila hasilnya 30 persen, saya tidak akan mau maju.

Saya merasa optimis karena saat itu calon lain banyak-banyakan pasang gambar billboard , sementara saya memilih door to door . Saya dan Pak Rudy (FX Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Solo sekarang, Red. ) mendatangi sendiri warga dari RT ke RT. Hampir setiap hari seperti itu. Yang kira-kira termasuk ‘pasar’ saya, saya masuki. Saya sodorkan visi-misi saya menjadi walikota. Ketika bertemu warga, saya ajak mereka bicara. Dari sini saya tahu apakah orang itu mendukung saya atau tidak.

Kepada warga pula, ketika itu saya menawarkan tiga hal. Yakni soal perbaikan kesehatan, pendidikan, dan penataan kota. Saya memang merasa penataan Kota Solo semrawut, tidak rapi dan tertata. Kawasan kumuh ada di semua titik. Pedagang kaki lima bertebaran di mana-mana sehingga pasar tradisional melimpah ke jalan. Becek, bau dan kotor.

 Rini Sulistyati / bersambung

Views : 6473

blog comments powered by Disqus