Membership
Lupa password?
Profil

Jerry Aurum, Pencairan "Rasa" si Fotografer Mahal
Jumat, 05 Juni 2009
JA_030 profil adrianus adrianto

Jerry Aurum (Foto: Adrianus Adrianto/NOVA)

Bagaimana awal tertarik ke foto?

Sejak kecil saya sudah bisa pegang kamera. Dari SD pun, saya sudah kenal yang namanya photo hunting . Padahal, di keluarga saya enggak ada yang bergerak di jalur seni, baik sebagai hobi maupun sebagai profesi. Ayah saya notaris, ibu kerja di sebuah perusahaaan asing pemasok alat-alat berat untuk perkebunan. Kakak saya dokter jantung, kakak satunya lagi kerja di biro arsitektur.

Kapan mulai serius di foto?

Tahun 1992, ketika kelas 2 SMA, saya beli kamera besar pertama. Sejak itu, fotografi menjadi hobi serius saya. Dulu, fokus saya menjadi pemburu hadiah lomba foto. Soalnya, saya tumbuh di lingkungan keluarga yang keras. Jadi, meski keluarga saya boleh dibilang cukup berada, tapi kami dididik jauh dari manja. Semua anggota keluarga, kalau mau sesuatu, harus nabung. Nah, supaya bisa membiayai hobi foto yang waktu itu lumayan mahal, saya harus mengejar uang dari hasil ikut lomba.

Setelah lulus kuliah tahun 1999, saya sempat kerja selama tiga bulan di dua perusahaan. Cuma, karena sudah kebelet , saya kemudian buka perusahaan sendiri di bidang desain grafis dan fotografi. Tepatnya Maret 2000, Jerry Aurum Design and Photography (JADaP) berdiri. Fokusnya periklanan dan korporasi.

Ada berapa orang sih di JADaP?

Delapan orang. Saya, produser, admin, desainer grafis, kepala studio, 2 asisten fotografi, dan general affairs yang mengurus izin, pengiriman barang dan logistik. Kami harus bisa memasang jumlah orang sesuai kebutuhan. Di Indonesia, dari dulu kalau motret seperti bedhol desa . Enggak ngerti saya.

Kalau Anda, sedikit krunya?

Ya, ini memang very small office . Pernah sih, berkembang sampai 25 orang, tapi saya kok, enggak suka. Jadinya kantor banget. Malah sibuk ngurusin kantor, sementara saya, kan, sukanya motret. Tapi saya enggak mau juga jadi freelancer , karena jadi enggak serius di industrinya. Maunya memang perusahaan yang established supaya bisa menangani project yang lebih serius. Delapan orang ini enak, sudah ideal dan sudah bertahan selama 2 tahun.

Omong-omong, kenapa lebih memilih foto komersial?

Foto komersial itu challenging . Bebannya berat. Tanggung jawabnya besar. Pekerjaannya sulit. Tapi, klien saya juga nama-nama besar. Jadi, kalau mau membangun portfolio, lebih bagus foto komersial.

Bagaimana dengan eksplorasi kreativitasnya?

Oh, sangat berbeda dan variatif. Enggak ada yang sama. Hari ini bisa motret benda, besok model, besoknya lagi memotret perjalanan, masuk ke hutan, dan sebagainya. Jadi, enggak ada yang sama. Setiap hari tantangannya beda. Mau enggak mau, itu memaksa kita untuk bereksplorasi dan belajar terus.

Sangat berbeda dengan nuansa fotografi wedding , misalnya, yang cukup banyak repetisinya. Mau digimanain lagi, sih, orang menikah? Ada sih, satu-dua foto prewedding atau wedding yang cukup beda, misalnya foto wedding di bawah air. Tapi itu enggak banyak. Dan menurut saya, foto-foto prewedding yang terlalu aneh juga enggak ada konteksnya.

Maksudnya?

Misalnya foto prewedding naik unta berduaan. Apa hubungannya coba, foto naik unta dengan nuansa pernikahan? Jadi seperti bukan foto prewedding , lebih foto lucu-lucuan berdua. Padahal, foto prewedding itu foto menjelang pernikahan, dimana nuansa kebersamaannya seharusnya tinggi. Yang ada sekarang asal aneh, lucu. Cuma, mungkin karena laku dijual, ya.

Anda sendiri tidak tertarik motret foto prewedding ?

Saya sendiri enggak pernah foto wedding . Paling membantu teman yang khusus meminta. Dan itu seringkali gratis. Tapi saya pikir lama-lama menarik juga, karena sekarang wedding sudah lebih terbuka, enggak terlalu konservatif, sehingga kemungkinan kreativitasnya lebih besar. Tapi sampai saat ini belum saya tekuni.

Apa sih problem paling besar foto-foto prewedding ?

Di Indonesia, foto-foto prewedding atau wedding kehilangan konteks dan pemaknaan dari perkawinan itu sendiri. Perkawinan sering tidak tercermin dalam fotonya. Kadang-kadang, saking excited -nya dengan ide-ide kreatif, fotografer lupa alasan dan tujuan orang bikin foto prewedding . Padahal, foto prewedding itu kan, untuk celebrate the relationship, celebrate the love . Harusnya itu yang jadi landasan pemotretan. Itu harus terasa dalam setiap karya.

Contohnya, dalam foto prewedding , si wanita jadi bunga, si pria jadi kumbangnya. Menurut saya, enggak ada konteksnya. Apakah itu memang cara yang tepat untuk celebrate love ? Ujung-ujungnya enggak ada bedanya antara foto prewedding dengan foto berduaan. Enggak ada yang spesial untuk sebuah momen menjelang perkawinan.

Mungkin orang enggak peduli juga. Buat fotografer yang penting order jalan. Dan kebetulan, untuk momen itu orang mau bayar mahal. Kalau cuma foto berdua, kan, orang enggak mau bayar mahal. Nah, itu jadi bungkus marketingnya.

Kalau Anda memotret foto prewedding , inginnya yang seperti apa?

Akan lebih sederhana, lebih konservatif. Lebih mencari “rasa”. Menurut saya itu sulit tapi longlasting , enggak pernah basi. Harusnya fotografer melakukan pendekatan dulu. Lebih personal-lah. Tapi, kan, enggak semua fotografer mau melakukan itu, apalagi kalau duitnya kecil.

Oke, kembali ke foto komersial, seperti apa sih tantangannya?

Misalnya, suatu waktu saya pernah jalan di Flores selama setengah bulan untuk memotret ekowisata di sana. Seru tuh, keluar masuk hutan, naik gunung, ke pantai. Kemudian, besok lusanya saya sudah motret jalan-jalan utama di London yang high profile banget model kerjaannya. Orang yang terlibat, tipe klien, tipe peralatan, skill yang dibutuhkan, sama sekali berbeda.

Yang paling sulit di proses yang mana?

Hubungan dengan supplier atau pihak ketiga. Fotografi itu kan team work . Kebanyakan, selalu berkaitan dengan pihak ketiga yang membantu kita. Di Indonesia, komitmen dan konsistensi para supplier ini selalu jadi tanda tanya. Kalau mood nya lagi bagus, oke. Tapi, itu sulit diprediksi. Itu yang selalu bikin saya deg-degan. Bahkan, supplier atau pihak ketiga yang sudah kerja bertahun-tahun pun kalau lagi enggak mood , bisa kacau banget. Ditunggu di pemotretan jam 2, enggak ada kabar. Sementara pemotretan enggak bisa jalan tanpa wardrobe , misalnya. Sialnya, nama yang dipajang kan, nama saya. Klien tahunya beres.

Kalau boleh tahu, berapa tarif Anda?

Kisarannya elastis banget. Beda-beda. Saya bisa motret dengan hanya “dibayar” makan siang. Tapi saya juga pernah motret dibayar Rp 100 juta per jam. Mungkin itu yang sering membuat saya dicap sebagai fotografer mahal. Padahal itu salah besar. Masih banyak yang lebih mahal daripada saya di Jakarta, dan mereka enggak dicap bertarif mahal.

Saya pikir-pikir, kenapa saya dicap mahal, mungkin karena hidup saya kelihatan seperti main-main saja. Live like a king , kayak konglomerat. Lebih banyak mainnya. Orang tahunya, wah si Jerry sebulan di Indonesia, sebulan di Thailand, sebulan di Eropa. Kapan motretnya? Orang jadi ngitung-ngitung sendiri, kalau motretnya sedikit tapi bisa main kemana-mana, berapa harga sekali motret?

Padahal, dari sisi ekonomi, saya enggak ada apa-apanya. Makanya saya enggak pernah menilai kesuksesan dari sisi uangnya, soalnya saya enggak bakalan bisa compete dengan yang lain. Duit saya enggak sebanyak yang dibayangkan, kok… he he he. Yang saya lakukan adalah meningkatkan efisiensi, menurunkan operational cost , nyambi ngerjain proyek, tahu cara menghemat saat travelling , dan sebagainya.

Hobi lain?

Hobi saya travelling . Dalam setahun, lebih dari lima bulan saya tidak di Indonesia. Jalan-jalan saja sambil motret. Seringkali kalau habis motret kerjaan, saya suka extend . Motret sebentar, extend -nya lama, sekalian menghabiskan pendapatan… ha ha.

Saya juga suka diving . Saya sudah diving kemana-mana, sampai ke Meksiko, Bahama, tapi paling indah tetap di Indonesia. Surganya diving tetap Indonesia.

Apa sih yang Anda cari di dunia fotografi?

Yang saya cari passion . Kalau duit, lebih cepat buka warung makan atau main saham. Jadi pengusaha lebih cepat kayanya. Jadi, menurut saya, di dunia kreatif, sebaiknya kita mencari value yang lain. Dari dulu saya enggak peduli duitnya. Enggak dibayar pun saya tetap motret. Jadi, kerja enggak terasa berat. Kalau kita senang, dedikasi dan keinginan untuk membuat itu jadi spesial juga besar. Dan banyak perusahan-perusahaan besar yang menghargai itu.

Masih ada mimpi apalagi?

Apa, ya? Mimpi saya saat ini enggak ada hubungannya sama kerjaan sih. Mimpinya senang-senang semua. Pengin honeymoon ke Afrika Selatan, pengin beli mobil...ha ha.

Hasto Prianggoro, Adrianus Adrianto

Views : 4679

blog comments powered by Disqus